ARTIKEL

Mewaspadai Pemerkosaan Audio Visual

*Askurifai Baksin

Masih ingatkah berita seputar beredarnya VCD yang berisi beberapa artis sedang berganti pakaian di sebuah kamar mandi? Ya, Rachel Maryam, Femy Permatasari, dan Sarah Azhari memang geram terhadap kasus ini. Apalagi rekaman itu sendiri dilakukan beberapa tahun yang lalu. Tampaknya kegusaran mereka bukan karena terekam dengan pakaian minim (ganti baju), tapi karena candid camera itulah yang membuat mereka gusar. Padahal kalau dilihat kesehariannya penampilan seksi Sarah Ashari jauh lebih seronok.

Selain kasus tersebut muncul sensasi Adji Massaid yang diberitakan beradegan panas dengan Bella Shafira, gambar syur Sukma (alm) dengan B’jah, dan yang masih hangat adalah foto-foto mesranya penyanyi jazz Syaharani dengan Yudi Febiana, mantan kekasihnya.Dari beberapa kejadian yang berbau pornografi ini saya memberikan istilah pemerkosaan audio visual. Istilah ‘pemerkosaan’ audio visual ini penulis ungkapkan berdasarkan fakta bahwa munculnya gambar yang bersifat audio visual maupun visual saja di internet menjadi ‘bahaya’ tersendiri di kalangan selebritis. Dan jika kita runtut kejadian VCD porno Itenas, tayangan casting sabun, rekaman ganti baju artis Rachel, Femy, dan Sarah Azhari, foto ‘panas’ Sukma-B’jah dan gambar syur Syaharani semuanya menunjukkan unsur ketidaksengajaan para korban. Kasus tersebut mencuat karena ada ‘penjahat audio visual’ yang sengaja mempublikasikannya lewat cyberspace atau VCD.

            Selain menimpa artis kasus-kasus tersebut  juga melanda masyarakat umum, seperti VCD Itenas dan VCD ‘Bulan Madu’ yang sangat mengguncang Bandung. Ini pun saya kategorikan pemerkosaan audio visual dengan pendekatan teknologi komunikasi digital.

Jendela Internet

            Sebetulnya fenomena apa yang  sedang melanda dunia selebritis kita? Memang selalu ada tudingan lain di balik kasus-kasus tersebut. Contohnya pada kasus Syaharani ada yang menuding sekadar sensasi pribadi dengan tujuan untuk mendongkrak popularitas Syaharani. Ada pula yang sengaja mempublikasikan foto itu untuk menjatuhkan salah satunya. Terlepas dari tuduhan itu saya melihat kini sedang berkembang pemerkosaan audio visual secara sadar. Para penjahatnya tentu lebih lihai karena punya skill di bidang digital. Kamera pengintai setiap saat bisa saja dipasang di sudut kamar mandi artis. Atau bisa jadi di ruang kerja selebritis yang bisa memungkinkan merekam gerak gerik selebritis. Dan jika ada ‘penampakan’ yang menghebohkan tentunya akan menjadi konsumsi publik dalam bentuk berita.

            Analisis saya, bisa jadi para penjahat audio visual ini tidak untuk mencari keuntungan, tapi lebih mencari sensasi. Sama halnya dengan para hacker yang selalu mencoba mengobrak-abrik sistem keamanan beberapa website. Krimininalitas media on line ini mampu mengoyakkan nilai-nilai kemanusiaan, terutama kalangan selebritis yang selalu menjadi incaran..

            Dalam buku Silicon Snake Oil Clifford Stoll menyatakan, sungguh semesta yang gaib, sebuah jalinan kekosongan. Meski internet melambai dengan meriah, menggoda dengan menyingkapkan kain yang menyembunyikan simbol pengetahuan – adalah – kekuasaan, bayang-bayang ini menggoda kita untuk menyerahkan waktu kita di bumi. Sungguh pengganti yang tak setimpal, realitas virtual ini di mana ribuan frustasi bertempat tinggal dan di mana – atas nama suci Pendidikan dan Kemajuan- aspek-aspek penting interaksi manusia dilecehkan terus menerus (Fidler, 1997).

            Ya, pemerkosaan audio visual di internet merupakan pelecehan kemanusiaan, di mana foto intim Sukma-B’jah atau Syaharani dan Yudi menjadi komoditas murahan sehingga menyebabkan korbannya mengalami guncangan jiwa. Terlepas dari sakit yang sudah ditakdirkan Yang Kuasa, sebelum mengalami kecelakaan Sukma (alm) pasti mengalami guncangan yang luar biasa. Perasaan malu, ditelanjangi, dihinakan dan lainnya menjadi effek dari panayangan gambar di internet. Inilah dampak penyalahgunaan dan pelanggaran privasi  di internet.

            Demikian juga Yudi sempat shock dan dirawat di rumah sakit selama tiga hari gara-gara publikasi foto-foto intimnya dengan Rani. Sementara Syaharani cukup bisa menahan emosinya dengan mengatakan bahwa adegan di foto-foto tersebut biasa dilakukan orang dewasa.

            Yang jelas, musibah yang menimpa para artis ini tak lepas dari kecerobohan dalam menyimpan hal-hal yang bersifat privasi. Foto atau rekaman video intim merupakan dokumentasi pribadi yang harus disimpan dan dijaga dengan baik. B’jah dan Yudi mengakui bahwa kamera digital dan hanphone yang digunakan merekam hilang. Nah, persoalannya mereka cenderung tidak pernah melaporkan hilangnya peralatan tersebut sehingga ketika ditemukan seseorang akhirnya disebarkan lewat internet. 

            Soal manipulasi foto? Ketika kasus B’jah dan Rani sekarang ini jika menyangkut foto selalu ada pro kontra tentang keabsahan foto. Kasu B’jah banyak memberikan komntar bahwa foto tersebut adalah rekayasa atau manipulasi belaka. Tak urung, pengamat multimedia Roy Suryo memberikan penjelasan soal foto tersebut. Tapi untuk Rani dia mengaku bahwa foto-fotonya memang asli, tidak direkayara. Hanya siapa yang menyebarkan lewat internet yang menjadi pertanyaan besar Rani. 

            Menurut Roger Fidler dalam bukunya Mediamorfosis, dalam abad kesembilan belas dan sebagian besar abad keduapuluh gambar-gambar fotografik dianggap merupakan representasi-representasi yang mutlak dipercaya dari realitas. Dulu mereka bisa dipakai sebagai bukti pendukung di pengadilan dan sebagai catatan historis yang bisa dipercaya, tetapi kini tidak lagi. Meski dulu mungkin untuk ‘mengerjai’ foto atau membuat foto rekayasa, tanda-tanda pengubahan dan perekayasaan biasanya bisa dideteksi. Namun dengan teknologi-teknologi digital manipulasi-manipulasi baik terhadap gambar-gambar mati maupun hidup bisa dilakukan dengan sangat teliti sehingga hampir tidak mungkin dideteksi.

            Meski terdapat kecemasan-kecemasan tentang masalahh-msalah etis dari banyak fotografer profesional, dewasa ini gambar-gamabar secara rutin diubah dalam hampir semua bentuk media komunikasi visual dengan memakai sistem-sistem penggambaran digital. Biasanya perubahan-perubahan yang dilakukan adalah memperbaiki warna atau detail, tetapi bisa juga melibatkan perubahan substantif, misalnya menambah atau menghapus orang dari sebuah gambar, memindahkan kepala seseorang ke tubuh seseorang lainnya dan mengatur unsur-unsur fisis sebuah pemandangan.

            Industri gambar hidup merupakan pelopor dalam mendemontrasikan kekuasaan sistem-sistem penggambaran guna menciptakan efek-efek spesial yang fantastis dalam tahun-tahun belakangan. Efek-efek ini termasuk melebur bentuk (morphing) dari satu benda atau orang menjadi bentuk orang lain seperti dalam film Terminator, dan memasukkan aktor-aktor zaman sekarang ke dalam film-film arsip orang-orang terkenal dari masa lalu, seperti film Forrest Gump. Kemampuan-kemampuan seperti ini telah berpindah dari studio-studio efek spesial ke software yang murah yang bisa dijalankan pada sebagian besar komputer personal. Pada dasawarsa mendatang, para produser akan bisa dengan mudah mengiditalkan aktor-aktor hidup, serta aktor-aktor dari masa lalu dan menyuruh mereka melakukan apa  yang dikehendaki produser dalam sebuah film atau acara televisi. 

            Untuk menghindari itu  semua maka saran untuk kalangan artis adalah jangan mudah menyimpan rekaman foto atau video sembarangan, sebab mereka mungkin secara teknis mampu membuat dokumentasinya. Tapi ketika pada wilayah editing dan transfer masih dilakukan di tempat lain. Pada saat itulah privasi selebritis akan terancam. Memang ada semacam kode etik di tempat cuci-cetak foto, yakni tidak mau mencetak gambar porno. Pada kondisi ini karena  pihaknya tidak ingin berurusan dengan aparat keamanan.

Demikian juga di studio transfer video jika ada rekaman porno sebaiknya jangan diterima, karena akan memperpanjang masalah. Untuk para artis, yang penting jika gambar privasinya tidak ingin disebarkan maka sebaiknya  jangan membuat foto atau video intim karena alasan tersebut. Bukankah hal-hal intim dan sifatnya cukup personal tidak ingi diutak-atik oleh watawan? (Tulisan ini ditulis Maret 2005) 

      *Penulis mantan wartawan kini dosen di Fikom Unisba dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Berpikir Cara Media

*Askurifai Baksin

            Berita-berita media yang beredar setiap hari, jam, menit, dan detik seolah mendikte kehidupan kita. Begitu mata melek bangun tidur Anda seolah dituntun ke depan televisi. Begitu koran masuk ke rumah, mata ini otomatis memelototi jajaran kata yang tercetak rapi.  Malah, kalau sempat di mobil memutar radio sekadar untuk mengusir jenuh karena jalanan tiap pagi pasti macet. Yang diamati berita.

            Ya, wartawan memang penting. Itulah yang membuat (dulu) Grup Kasidah Nasida Ria mengungkapkan wartawan itu ratu dunia. Mahkotanya adalah berita. Bisa dibayangkan dunia tanpa berita. Karena berita yang di-release media masyarakat menjadi pintar. Tapi masyarakat menjadi apatis pun karena berita. Di sini teori klasik agenda setting masih membelenggu masyarakat. Apa yang dianggap penting oleh media maka dianggap penting juga oleh masyarakat.

            Masalah muncul manakala tidak ada media literacy (pembelajaran media) pada masyarakat. Berita-berita yang muncul di media kita ditelan siapa pun, tidak mengenal usia. Tua, muda, dewasa, remaja, dan anak-anak semua mengkonsumsi media. Dan khusus untuk berita, tidak ada segmentasi untuk penonton atau pembacanya. Begitu anak menghidupkan televisi yang kebetulan channel yang muncul berita untuk beberapa saat anak itu tertegun dengan berita yang didengarnya. Sehingga ada kosa kata ’mutilasi’ terdengar oleh anak-anak. Pernah anak saya bertanya,” Apa sih Yah mutilasi itu?” Atau anak saya menyatakan,” Yah ada duren, duda keren..” Dalam kondisi seperti ini mau tidak mau orangtua harus arif melakukan media literacy untuk si kecil. Kalau tidak, bisa berbahaya.

            Yang jelas, dalam soal berita tidak ada pemenuhan terhadap hak anak untuk memeroleh berita. Karena sejatinya berita itu untuk semua kalangan. Tapi pada kasus di atas, ketika telinga anak-anak mendengar kosa kata dari berita orangtua harus waspada. Sama seperti kata-kata kotor di sinetron sering tanpa sengaja didengar oleh anak-anak kita sehingga perbendaharaan kosa kata anak kita semakin banyak gara-gara terpaan media.

Bagaimana Media Berpikir?

            Kalau begitu adanya, bagaimana sih media massa itu berpikir? Apakah cara berpikir media sama dengan masyarakat  audience-nya?

            Malapetaka jika masyarakat berpikir cara media. Dalam media apa pun mengalami proses komodifikasi. Artinya, semua hal yang muncul di media sudah melalui proses seleksi bisnis sehingga harus dikemas sehingga menimbulkan hasil guna lain. Nilai awal berita adalah informasi yang dibutuhkan masyarakat. Tapi karena media sudah dikomodifikasi maka paket berita pun dikemas dalam bingkai bisnis. Maka rating acara berita bisa membuahkan hasil tinggi karena di sini ada interaksi penonton dan pebisnis. Penonton memang perlu informasi, tapi pebisnis juga perlu menampilkan produk bisnisnya. Sehingga semakin seru berita dibuat maka semakin tinggi produk yang beriklan.

Jika pola berpikir media ini dianut masyarakat maka yang terjadi ketergantungan pada media semakin tinggi. Masyarakat terjerat dalam agenda setting yang menjadi target media. Sementara tidak semua berita penting bagi masyarakat. Jika kondisi ini tetap berlangsung maka yang muncul justru apa yang disebut Teori Kultivikasi yakni teori yang dikembangkan Profesor George Gerbner, seorang dekan Annenberg School of Communications di Universitas Pennsylvania. Dia pertama kali melakukan penelitian dengan proyek ‘Meteran Kebudayaan’ pada pertengahan tahun 1960-an untuk mengetahui apakah dan bagaimana menonton televisi berkemungkinan bisa mempengaruhi pikiran penonton. Artinya, untuk mengetahui dunia nyata seperi apa yang dipersepsikan oleh penonton televisi dan teori ini hanya menekankan ‘dampak’ yang terjadi pada khayalak, terutama pada para penonton televisi.

Penonton berat televisi dilihat sebagai seseorang yang mengolah atau menanamkan sikap yang lebih konsisten dengan dunia program televisi dibanding dunia sehari-hari (nyata). Menonton televisi mungkin menyebabkan kecenderungan gaya pemikiran umum mengenai kekerasan di dunia, selain itu mungkin akan mengakibatkan efek  yang lain yaitu kerasnya sikap seseorang (penonton televisi).

Pengertian teori kultivikasi ini mengarah kepada indikator yang memberikan asumsi bahwa setiap pesan yang disampaikan  tv  seolah-olah dianggap  khalayak merupakan realita. Gerbner menyatakan bahwa program tv merupakan hal atau alat yang sangat ampuh memberikan efek-efek tv. Contoh, ketika kasus Gayus Tambunan mengemplang pajak miliaran rupiah lantas ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa pajak yang setiap orang bayarkan akan dikemplang  juga oleh petugas pajak lainnya. Maka muncul facebooker anti membayar pajak, Atau jika ada keributan seperti di Blowfish (minggu dinihari 4/3) seolah semua night club berbahaya karena di situ ada keributan fisik yang menyebabkan beberapan orang tewas.

Salah satu efek teori kultivasi adalah ‘Mean World Syndrom’, di mana para penoton berat (heavy viewer) menganggap dunia nyata atau kehidupan yang nyata lebih buruk dibandingkan dengan dunia tv. Mereka menganggap dunia nyata sebagai tempat yang kumuh dan keras. Oleh karena itu penonton berat selalu takut dan berhati-hati pada dunia nyata. Gerbner membantah bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai yang sudah ada pada kebudayaan, yang artinya media memelihara dan menyebarkan nilai budaya sekaligus mengaitkannya secara bersama-sama.

Itulah sebabnya Gerbner melihat tv sebagai penguasa ‘simbolik lingkungan’. As McQuail dan Windahl menyadari, teori kultivasi menyebabkan tv bukan merupakan gambaran atau jendela dunia, akan tetapi dunia itu sendiri’ (1993: 100). Gerbner dan relasinya menyatakan, para penonton berat yang menonton kekerasan di tv sadar dan kembali percaya bahwa kekerasan dunia nyata lebih tinggi daripada pemikiran para penonton ringan atau ‘light viewer’. Mereka menyebutnya sebagai mainstreaming efek.

Berdasarkan asumsi dan pemikiran Gerbner tersebut saatnya Anda mulai mengkonsumsi media dengan cara masyarakat biasa. Jangan biarkan Anda mengkonsumsi media menggunakan cara pikir media, di mana media selalu menanamkan news peg (cantelan berita) dalam mengemas paket pemberitaannya. Sehingga kalau hari ini ada kasus Blowfish, esok mungkin akan dikejar siapa di balik keributan itu. Ingat, istilah paket juga merupakan bagian komodifikasi pada setiap acara berita di media yang berorientasi pada kemasan berita untuk menarik minat khalayak (penonton dan pebisnis).

Marilah mulai berpikir ala Askurifai, ala Aji Hermawan, ala Eva Ritawati, dan masyarakat pada umumnya. Jika ini kita lakukan kita tidak akan terjebak dengan dua teori media yang masih ampuh, yakni agenda setting dan kultivikasi. Media hanya sekadar alat, bukan penuntun hidup Anda.

*penulis praktisi media, pengajar Ilmu Jurnalistik Fikom Unisba, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

___________________________________________________________

Anda mungkin salah seorang penakut yang sulit membuat keputusan terhadap suatu masalah. Saya juga termasuk salah satunya. Tapi setelah saya membaca tulisan Prof. MT Zen (guru besar ITB) saya mulai menjadi pemberani, sepemberani orang dan kisah yang dituturkan Prof. MT Zen dalam tulisannya, Mutiara Keberanian. Silakan simak dan resapi, insyaAllah Anda akan mendapat kandungannya yang luar biasa.

Mutiara Keberanian (I)

Tidak ada yang lebih mengesankan dan tidak ada yang lebih mengagumkan dari suatu tindakan dari seorang yang berani. Sebagaimana kecantikan merupakan perhiasan bagi kaum wanita, keberanian adalah permata laki-laki. Keberanianlah, di samping Cinta, yang merupakan pokok pangkal perbuatan yang besar, yakni Keberanian Moral dan Keberanian Fisik. Hanya manusia beranilah yang dapat berbuat jujur. Berani menderita, berani miskin, berani dianggap tidak sama, berani menyatakan pendapat berbeda dari pendapat umum, dan berani menyatakan “tidak” pada saat tertentu. Dan tidak heranlah apabila mendiang Presiden Kennedy menganggap keberanian sebagai unsur yang mulia dalam jiwa manusia sehingga ia menulis buku: “Profiles of Courage”.

Kalau Kennedy menyodorkan “Profiles Of Courage”, dalam rubrik ini akan kami sajikan “Glimpses of Courage”, yaitu percikan dari beberapa tindakan berani yang merangsang dan mengesankan.

Di suatu pagi sewaktu seorang hakim sedang asyik memimpin suatu sidang pengadilan di kota kecil, di salah satu negara bagian Amerika Serikat, maka masuklah tiba-tiba seorang penjahat yang ganas, dalam keadaan lazim dikenal di Indonesia sebagaimana “mata gelap”. Ia membawa senjata tajam yang mengerikan dan mengancam setiap orang yang ada sehingga ruang pengadilan menjadi panik dan orang lari kocar-kacir.

Melihat keadaan menjadi gawat sang hakim memerintahkan agar orang “mata gelap” itu dikeluarkan dari ruang sidang. Tetapi semua petugas pada menyingkir jauh-jauh. “Panggil pengawal yang bersenjata dan tangkaplah orang ini,” teriak hakim.

Juga pengawal mundur keluar setelah berhadapan dengan orang tadi. Akhirnya hakim berkata: “Panggillah aku! Sidang kuskors selama lima menit”. Maka berangkatlah Pak Hakim dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat orang jahat itu. dengan langkah meyakinkan serta pandangan penuh authoritair dihampirinya orang itu hingga pada jarak setengah meter, sehingga si penjahat tadi menjadi kecut hatinya seketika melihat keberanian Pak Hakim yang tak terduga. Ia menjatuhkan senjatanya dan menyerahkan diri. Pak Hakim tersebut tidak lain dari Jenderal Jackson yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat.

“Di Worms berkumpul banyak kardinal dan uskup,” ujar salah seorang teman kepada Luther. “Mereka akan membakarmu menjadi abu sebagaimana dialami Johannes Huss.” Jawab Luther : “Sekalipun mereka akan membuat api unggun yang memanjang dari Worms hingga ke Wittenberg dan sekalipun apinya akan menjilat-jilat hingga ke langit, aku akan datang ke sana menghadap mereka. Dan aku akan datang sekalipun di sana berkumpul setan-setan sebanyak genting-genting rumah yang ada di sini.” Seorang teman lain berkata, “Hertog George niscaya akan menangkapmu,” dan Luther menjawab: “Adalah kewajibanku untuk datang dan aku akan ke sana sekalipun Hertog-Hertog George akan hujan berjatuhan dari langit selama sembilan hari.”

“Di sini aku berdiri, aku tidak berbuat lain. Tuhan akan menolongku,” ujar Marthin Luther pada pertemuan di Worms.

Pada tanggal 29 Oktober 1618 Sir Walter Raleigh yang telah lemah akibat ditahan menaiki tangga schavot untuk menjalani hukuman mati. Dalam pidato terakhirnya kepada rakyat ia berkata : “Selama 2-3 hari belakangan ini berkali-kali aku diserang demam tinggi. Jika pada diriku terlihat tanda-tanda kelemahan, itu dikarenakan penyakit dan aku mohon jangan sekali-kali kalian mengira itu manifestasi jiwaku.” Sesudah itu ia menghampiri kampak pemenggal, dipegang dan diciuminyalah kampak tersebut. Kepada algojo ia berkata : “Ini adalah obat yang tajam sekali, tetapi suatu obat yang mujarab bagi semua rupa-rupa penyakit.”

Sewaktu Marsekal Ney, salah seorang perwira tinggi Napoleon yang paling terpercaya, menunggang kuda menuju medan pertempuran, terasa olehnya bahwa lututnya bergetar. Maka berkatalah Ney : “Bergemetarlah hai lututku sepuas-puasmu sekarang. Dan engkau akan bergemetar hingga berantakan apabila engkau mengetahui ke mana engkau hendak kubawa.” Dan dipecutnyalah kudanya memasuki gelandang pertempuran.

Bandung, 6 Nopember 1968

Mutiara Keberanian (II)

Dalam membela kebenaran serta keadilan dan menggugat penderitaan rakyat  Indonesia di bawah penjajahan Belanda, Multatuli mempertaruhkan pangkat dan  kedudukan. Dalam kedudukan sebagai Asistent Resident Lebak dan sebagai  seorang Belanda, dia dapat hidup sebagai raja tanpa kekurangan apa-apa. Dia tidak perlu menyetujui, asal diam dan tutup mulut saja kedudukannya tidak akan berubah. Tetapi tidak. Hati nuraninya berontak dan menggoda dirinya dari dalam. Ia harus melakukan apa yang harus dilakukannya, yakni menulis Max Havelaar :

“Akan kuterjemahkan bukuku dalam beberapa bahasa yang kukuasai dan ke    dalam banyak lagi bahasa-bahasa lain yang masih dapat kupelajari, untuk          memohon kepada Eropah apa yang telah kupinta dengan sia-sia kepada Negeri Belanda !

Nanti, akan kedengaran orang menyanyikan lagi di setiap ibu kota dengan bait  sebagai berikut : ada cerita sebuah negara rompak yang terletak di pinggir laut, antara Friesland Timur dan Sungai Schelde !

Dan … apabila ini pun tidak memberi faedah, akan kuterjemahkan bukuku ke dalam bahasa Melayu, bahasa Jawa, Sunda, Alfur, Bugis, bahasa Batak … dan akan kutiupkan nyanyian-nyanyian perang ke dalam para martir yang hendak kubela, aku … Multatuli.

Akan kuberikan pertolongan dan bantuan melalui jalan syah selagi mungkin, … melalui kekerasan bila perlu ! Hal terakhir akan merugikan sekali pelelangan-pelelangan kopi Maskapai Dagang Negeri Belanda.

Karena aku bukanlah seorang penyair yang lemah, bukan pula pelamun bersilembut hati seperti Max Havelaar yang dihina dan diinjak; Havelaar yang menunaikan tugasnya dengan keberanian singa jantan dengan kesabaran marmot dalam musim salju.

Buku ini hanya pendahuluan …

Kekuatan kian bertambah dan penaku kian menajam apabila perlu. Semoga hal itu tidak perlu. Tidak! Hal demikian tidak akan perlu. Karena kepadamu kupersembahkan bukuku, engkau … Willem ketiga, Raja, Hertog dan Pangeran … ah, lebih dari Pangeran, Hertog, maupun Raja … tetapi Kaisar dari Kepulauan Nusantara yang bertabur laksana kalung zamrud yang melingkari equator.

Kepadamu aku berani bertanya apakah memang atas kehendak kekaisaranmu bahwa : Max Havelaar dihina serta rakyat dianiaya dan dihisap atas namamu”. Karena tulisan-tulisan dan gugatannya Multatuli, yaitu Edward Douwes Decker terpaksa melepaskan pangkat dan jabatan dan hidup menderita sebagai pengarang. Edward Douwes Decker adalah seorang besar. Tetapi, sebelum orang besar dia adalah seorang pemberani.

Di tahun 1656 Benedictus de Spinoza dikonfrontier oleh pemuka-pemuka agama   Jahudi dan ditanyakan satu persatu tentang idea-ideanya yang bertentangan  dengan ajaran Gereja Jahudi. Apa jawaban Spinoza tak diketahui. Tetapi umum  mengetahui bahwa kepadanya ditawarkan $ 500 (jumlah uang yang amat besar  pada masa itu) asal saja ia bungkam dan tetap mengambil sikap tidak  bertentangan dengan gereja secara lahiriah. Tawaran itu ditolak oleh Spinoza.

Pada tanggal 27 Juli 1656 berlangsunglah peristiwa besar bagi seorang Jahudi,   yaitu … pengusiran dari gereja lingkungannya dengan upacara resmi yang   mengerikan. Sewaktu kutukan sedang dibacakan, cahaya lampu yang menerangi    gereja secara berangsur-angsur dipadamkan. Secara berselang-selang dibunyikan   trompet (horn) dengan nada sendu yang lambat laun menghilang dan akhirnya ia  berada dalam kegelapan.

Bagi seorang Jahudi, hidup di perantauan di negeri orang sudah merupakan buangan yang menyiksa, tetapi apabila di samping itu ia diusir pula dari lingkungannya … hal itu terasakan sebagai kutukan luar biasa. Tetapi semuanya ditanggung oleh Spinoza. Ia hidup di pengasingan tanpa keluarga, tanpa teman, tanpa orang sebangsa. Dalam kesepian dan penderitaan batin yang amat berat ia menuliskan Ethica, salah satu risalah filsafat yang amat penting. Beberapa kali jiwanya terancam karena keyakinannya … tetapi ia tetap tabah dan tidak mengkhianati hati nuraninya. Ia hidup sebagai pemberani dan mati sebagai seorang raksasa.(Prof. MT Zein)

Bandung, 26 Maret 1969

Masa Depan Film Indie

Oleh Askurifai Baksin

Maraknya produksi film indie di kalangan mahasiswa menjadi fenomena yang cukup menarik. Dunia akademik yang awalnya enggan menerjuni wilayah perfilman kini semakin bergairah memberikan kesempatan kepada siswa dan mahasiswanya untuk menggeluti film.  Tampaknya ini angin segar bagi para pegiat kine klub di kampus-kampus. Pasalnya, jika kine klub sebelumnya  hanya sebatas  kegiatan wacana dan diskusi, kini sudah melebar hingga produksi.

Mengamati perkembangan film indie tidak bisa lepas dari jasa para perintisnya, yakni kalangan IKJ. Juga tak kalah penting kontribusi Konfiden (Komunitas Film Independen) serta SCTV yang sudah beberapa kali menggelar  FFI (Festival Film Independen) dan Metro TV yang tiap tahun menggelar Eagle Award.

Selain itu beberapa perguruan tinggi juga ikut memicu maraknya produksi film indie ini. Sebut saja ITB yang  pernah menggelar Festival Film Pendek di Pasar Seni 2000. Ditambah Fikom Unisba dan Stufvi Bandung (Studi Film dan Televisi) yang sering  mengadakan pelatihan produksi film indie.

Di jalur dokumenter, Indoc (Indonesia Documenter)  rajin mensosialisasikan film dokumenter. Sudah beberapa kali Indoc yang donaturnya Ford Foundation mengadakan pelatihan film dokumenter ini. Jadi lengkaplah sudah usaha-usaha  mengembangkan perfilman nasional lewat jalur indie. Bisakah jalur indie ini membangkitkan kembali perfilman nasional?

Tiga Serangkai

Tiga aspek yang menurut Doni Kusen (PD III FFTV-IKJ) menjadi tradisi kalangan film mayor (industri) di Hollywood, yakni produksi, distribusi dan tempat previewing (bioskop). Di Hollywood konsep ini sudah menjadi pakem bisnis mereka, sehingga banyak studio besar seperti Warners Brothers, Tri Star, 21 Century, Walt Disney, Touchstone, dan lainnya mampu bertahan dan melenggang hingga sekarang. Sementara di banyak negara lain, termasuk Indonesia, konsep ini belum sepenuhnya ada, sehingga perkembangan filmnya selalu labil.

Untuk urusan produksi hampir semua negara bisa. Juga faktor distribusi bisa saja suatu negara mengekspornya ke negara-negara lainnya. Namun gedung bioskop tempat mempertontonkan  tidak tersedia. Pemilik gedung bioskop sangat selektif secara bisnis menentukan film-film apa saja yang bisa tayang.  Di perfilman Hollywood studio besar selalu memiliki ketiganya sehingga ketika sebuah karya film sudah diproduksi dan didistribusikan, mereka juga bisa memutarnya di bioskop sendiri. Dari sinilah  di Hollywood mengusung karya audio visual ini dalam perspektif  industri.

Bicara soal film kita bisa melihatnya dari  tiga perspektif, yakni  sinema, film, dan movie. Mengapa harus dibedakan menjadi tiga,  padahal toh selama ini orang memandangnya  sama. Ada perbedaan pengertian diantara ketiganya. Pertama, sinema. Disebut sinema karena karya ini merupakan hasil akhir dari proses kreatif sinematografi, yakni suatu keterampilan menciptakan dan menyusun scene-scene (adegan) yang terdiri atas shot-shot dan tersusun  dalam sebuah skenario menjadi satu kesatuan utuh yang menarik ditonton dan  mengandung satu pengertian. Sinema ini pada awalnya dikemas dalam format film seluloid (8 mm, 16 mm, dan 35 mm) dan cenderung menggunakan proses kimiawi untuk melihat hasil akhirnya. Dengan ditemukannya kamera video ENG (Electronic News Gathering) yang prosesnya lebih banyak menggunakan alat elektronis maka lahirlah sinema elektronik (sinetron). Jadi  sinetron adalah produk sinematografi yang proses kreatifnya menggunakan alat elektronik (seperti kamera dan alat editing),  formatnya video serta penayangannya di layar kaca. Hanya dalam perkembangnnya kini antara kamera film dengan kamera video sudah saling mengisi, karena keduanya bisa ditransfer (kinestransfer).

Kedua, film. Orang menyebut film karena merupakan karya audio visual, baik menggunakan pita kaset video maupun film seluloid yang sudah dapat dinikmati setelah melalui proses pentahapan praproduksi (riset, ide, sinopsis, treatment, skenario), produksi  (syuting) dan pasca produksi (editing, titleling, dan finishing). Dan ketiga movie, yakni hasil akhir dari proses pembuatan film dengan menggunakan seluruh kaidah sinematografi dan sudah menjadi barang komoditi. Nah, barang komoditi yang sudah siap diperjualbelikan inilah yang sering disebut movie.

Melihat ketiga perspektif tersebut kita bisa memasukkan film indie itu dalam perspektif film. Artinya, sebuah karya audio visual yang sudah siap ditonton tapi belum masuk sebagai barang komoditas. Dan yang menjadi kendala di film indie adalah faktor distribusi dan previewing.  Kalangan indie (terutama mahasiswa dan pelajar) mungkin punya cukup biaya untuk memproduksi karya film dengan cara patungan atau cari donatur. Tetapi setelah film selesai masih ada pekerjaan besar yang menunggu, yakni distribusi dan previewing. Distribusi bagi mereka tidak mudah ditangani karena harus melalui jalur pemasaran yang memerlukan biaya tidak sedikit. Maka yang terjadi kalangan indie akan memasarkan filmnya ke kampus-kampus.

Kedua soal previewing. Karya indie karena dikemas dengan kamera video dan mayoritas diedit lewat komputer PC maka tidak bisa ditayangkan di bioskop. Out put-nya sudah digital. Selama ini bioskop tidak menyediakan LCD proyektor  untuk memutar film dalam format video. Mereka masih setia dengan proyektor 35 mm-nya. Alhasil, karya indie yang notabena sudah digital tidak bisa ditonton masyarakat luas.

Memang ada juga kalangan indie yang masih idealis dengan mengatakan yang penting produksi, soal ditonton oleh banyak orang atau sendiri tidak masalah. Menurut penulis pernyataan ini agak aneh. Karena tiap filmmaker menginginkan karyanya bisa dinikmati orang lain untuk diapresiasi. Sebab, untuk mengukur kualitas sebuah karya harus ada umpan balik (feedback) dari penonton. Selama tidak ada feedback kita  tidak bisa meningkatkan kualitas produk.

Ada dua contoh menarik dari persoalan di atas. Pertama, perjuangan film Jelangkung karya Riri Riza dan Mira Lesmana. Film yang dibuat dengan kamera video ini otomatis tidak bisa ditayangkan di bioskop, sampai akhirnya bioskop 21 Pondok Indah uji coba menayangkannya. Terpaksa Riri harus membawa sendiri LCD proyektor dan player VHS (hasil akhir dalam bentuk kaset VHS). Di luar dugaan ternyata penontonnya membludak. Dengan modal inilah akhirnya film ini ditransfer dalam bentuk film 35 mm agar bisa ditayangkan di bioskop 21 seluruh Indonesia. Keuntungannya pun melimpah setelah berhasil nangkring di bioskop 21.

Kedua, pemasaran gerilya gaya Aria Kusumadewa. Ada tiga film Aria yang dipasarkan secara gerilya, yakni Beth, Novel Tanpa Huruf ‘R’, dan Betina. Ketiga film ini  dalam format video sehingga tidak mungkin tayang di 21. Namun kampus merupakan sasaran strategis kedua film ini, sampai hasilnya menguntungkan.

Kedua contoh tersebut memperlihatkan bagaimana film indie yang sudah digital masih menjadi anak tiri dalam industri movie kita. Maka tak bisa disalahkan jika Memed Hamdan, (mantan Kepala Deparsenibud Jawa Barat) menyatakan tidak bisa memberikan dispensasi kepada kalangan indie untuk bisa ditayangkan di bioskop 21, terutama karena masalah bisnis yang dijalankan manajemen 21. Dan sampai detik ini belum ada  birokrat yang peduli dengan soal previewing film indie ini.

Yang jelas Gedung AACC pernah (tahun 2003) secara rutin menayangkan film indie dengan gelaran yang disebut PA (Pa Tonton-tonton). Bisa jadi suatu saat penayangan film indie di bioskop menjadi trendsetter di Indonesia karena tidak hanya film dari Bandung yang tampil, ada juga dari Yogyakarta dan Jakarta. Hanya kalau PA (Pa tonton-tonton) di gedung AACC bersifat gratis, sementara beberapa film indie yang  dari Yogyakarta  bayar.

Terakhir  soal kurasi terhadap film-filmnya. Jika sebelumnya hampir aspek ini kurang diperhatikan, ke depan sudah harus mulai melakukan kurasi terhadap film-film yang masuk. Sebab, setelah persoalan produksi tentunya PA harus juga mulai melihat faktor kualitas. Tapi sayangnya gelaran PA sudah tidak ada lagi. Tapi saya meyakini, masa depan film indie ada di bisokop. Selamat datang bioskop digital!

Tips Membuat Penerbitan Sendiri

*Edy Zaqeus

Salah satu pertanyaan yang sering dilayangkan kepada saya adalah soal bagaimana membuat self-publishing atau independent publishing. Self-publihsing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri. Sementara, independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independen, yang menerbitkan karya-karya sendiri maupun karya orang lain. Tak jarang, sebuah penerbitan umum yang berkembang semula diawali dari self/independent publishing.

Seperti saya singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, salah satu tren perbukuan ke depan adalah maraknya pendirian penerbitan mandiri ini. Mengapa? Ya, karena sekarang membuat penerbitan sendiri sudah sedemikian mudahnya. Selain itu, banyak manfaat yang bisa diambil, selain juga potensi bisnisnya yang lumayan. Saya pun mendapati bahwa minat para penulis untuk membuat penerbitan mandiri ternyata cukup lumayan. Klien-klien saya sendiri juga banyak yang berminat dan akhirnya mendirikan penerbitannya sendiri.

Nah, bagi Anda yang ingin mencoba membuat self-publishing atau independent publishing, saya coba memadatkan segala tetek-bengek pembuatan penerbitan mandiri ini ke dalam delapan langkah berikut.

Pertama, siapkan naskah yang siap terbit dan memenuhi kriteria atau anjuran-anjuran sebagaimana saya tulis dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005). Naskah siap terbit artinya naskah yang sudah tersunting secara rapi dan lengkap (lihat artikel “Bagaimana Melengkapi dan Mengamankan Naskah Buku?”). Naskah yang sudah rapi dan lengkap akan memudahkan proses penerbitan buku. Sementara, naskah yang tidak lengkap dan rapi bisa sangat merepotkan.

Untuk Anda yang ingin benar-benar mendapatkan manfaat finansial dari ‘petualangan penerbitan’ ini, saya anjurkan supaya benar-benar memilih naskah buku yang berpotensi untuk laku keras. Atau, akan jauh lebih baik lagi bila naskah itu berpotensi menjadi buku best-seller. Apa ciri-cirinya? Saya sudah bahas lengkap dalam artikel-artikel atau buku saya sebelumnya. Kecuali Anda memiliki misi khusus dengan penerbitan naskah tertentu, maka soal laku atau tidak laku memang tidak terlalu memusingkan.

Kedua, siapkan modal yang cukup untuk mencetak dan mempromosikan buku. Perkiraan saya, jika kita bisa efesien sekali dalam proses penerbitan ini, maka dengan modal sekitar Rp15-30 juta kita sudah bisa menerbitkan buku fast book atau buku ukuran 14 x 21 cm dengan rata-rata ketebalan antara 150-200 halaman dan oplah mencapai 3.000 eksemplar. Di sejumlah kota seperti di Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya, kadang dengan modal di bawah Rp10 juta pun bisa jalan dengan jumlah cetak yang lebih sedikit.

Nah, sebagian orang tidak bermasalah dengan modal. Klien-klien saya, terutama yang datang dari lembaga konsultan, perusahaan, atau pembicara publik, biasanya tidak menemui kesulitan soal modal penerbitan. Sementara, bagi sebagian lagi amat bermasalah alias sulit mendapatkan modal. Saya lihat, tak sedikit penulis yang memanfaatkan royalti bukunya untuk memodali dan mengawali penerbitan mandiri mereka. Saya sendiri termasuk yang menempuh jalan ini. Sebagian lain ada yang patungan dengan rekan-rekannya. Prinsipnya, asal ada naskah yang bagus potensi pasarnya, maka modal pasti tidak sulit didapat.

Ketiga, merumuskan nama penerbitan yang menjual. Bagi saya sendiri, ini merupakan satu tahap yang penting dan sangat menarik. Bagaimana tidak? Membuat nama penerbitan layaknya menciptakan sebuah merek produk. Kita menciptakan identitas yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah institusi. Sementara mereknya sendiri bisa saja berkembang dan memiliki ekuitas yang tinggi. Bolehlah kita berandai-andai suatu saat penerbitan yang kita lahirkan ini akan besar dan mapan sebagaimana penerbitan-penerbitan lainnya.

Maka dari itu, sekalipun kita bebas memilih nama penerbitan, saya anjurkan supaya Anda memilih atau menciptakan nama penerbitan yang memiliki makna tertentu, sekaligus punya nilai jual. Ketika saya melahirkan Bornrich Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan buku yang sifatnya menggerakkan motivasi dan etos ekonomi, dan kemudian berujung pada cita-cita kesejahteraan masyarakat. Ketika saya melahirkan Fivestar Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat supaya bangkit dan mengejar prestasi terbaik.

Khusus untuk lembaga konsultansi atau yayasan, maka inisial atau singkatan dari institusi tersebut juga bagus untuk dipakai sebagai nama penerbitan. Selain membantu branding lembaga tersebut, koneksitas antara penerbitan dengan lembaga tadi juga terasa lebihs erasi. Semisal, Jagadnita adalah sebuah lembaga konsultasi psikologi yang kemudian mendirikan Jagadnita Publishing. Atau Quantum Asia Corpora, sebuah lembaga konsultansi yang kemudian mendirikan QAC Publishing.

Keempat, menyiapkan desain kaver dan tata letak (lay out). Untuk kedua pekerjaan ini, kita bisa melakukannya sendiri bila mampu, atau dengan menggunakan tenaga desain profesional. Kita bisa memanfaatkan tenaga-tenaga desainer freelance atau mereka yang biasanya bekerja di perusahaan penerbitan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan desainer kaver atau penata letak dengan cara mem-posting pengumuman ke milis-milis perbukuan.

Untuk tata letak buku, biayanya bervariasi tergantung pada ketebalan buku serta ornamen-ornamen di dalamnya. Jika naskah buku kita banyak menggunakan grafik, foto, atau detail ornamen yang rumit, maka biaya tata letaknya bisa agak mahal (standar Rp1.500.000-3.000.000). Sementara, tata letak buku yang hanya berisi teks tidak memerlukan biaya mahal karena relatif lebih mudah dikerjakan (standar Rp750.000-1.500.000).

Soal biaya desain kaver bervariasi, tergantung pada siapa yang mengerjakan dan jenis desain yang dikehendaki. Di Yogyakarta, kita bisa mendapatkan desainer kaver standar dengan fee berkisar antara Rp400.000-800.000. Adapun di Jakarta, fee untuk desain kaver standar berkisar antara Rp600.000-1.200.000. Untuk desain-desain tertentu, biayanya bisa lebih mahal. Saya dengar, seorang desainer kaver buku yang cukup punya nama menetapkan fee sebesar Rp10 juta.

Kelima, urus ISBN dan membuat barcode. Setiap judul buku perlu ‘identitas’ yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN. Jika sudah mendapat nomor ISBN, maka pekerjaan berikutnya adalah membuat barcode buku. Perpustakaan Nasional, tempat kita mendaftarkan ISBN buku kita, juga melayani pembuatan barcode. Tapi, kita bisa buat sendiri barcode dengan menggunakan program Corel Draw, asal sudah mendapatkan nomor ISBN.

Cara mendapatkan ISBN mudah sekali. Kita cukup menyiapkan satu surat permohonan ISBN (ditujukan kepada Kepala Perpustakaan Nasional u.p. bagian ISBN) dengan dilengkapi fotokopi halaman judul buku, halaman hak cipta, daftar isi, dan pendahuluan. Berkas bisa dikirim via pos, faksimili, atau diantar langsung ke Gedung Perpustakaan Nasional RI (lantai 2) di Jalan Salemba Raya 28-A, Jakarta (Telp: 021-3101411 psw 437). Bila kita baru pertama kali menerbitkan buku, maka kita akan diminta mengisi formulir keanggotaan ISBN. Kita akan mendapatkan kartu keanggotaan ISBN dan penerbitan kita tercatat di Perpustakaan Nasional. Pengalaman saya, mengurus ISBN berlangsung cepat, tak kurang dari 15 menit dan hanya membutuhkan biaya administrasi Rp25.000 (tanpa film barcode) untuk setiap judul buku.

Keenam, memilih percetakan yang tepat. Ada banyak jenis percetakan, tetapi pastikan untuk hanya memilih percetakan yang sudah berpengalaman dalam mencetak buku. Jangan pilih sembarang percetakan, terlebih percetakan yang hanya sekali-sekali mencetak buku. Jangan pula tergoda dengan percetakan yang asal murah. Terpenting adalah kualitas cetak dengan harga yang wajar. Ingat, produk buku punya bobot lain dibanding materi-materi cetak lainnya. Kalau kualitas cetaknya buruk, lupakanlah soal kredibilitas, kepercayaan, dan soal brand penerbitan maupun penulisnya.

Jika kita seorang pemula dalam penerbitan buku, usahakan mendapat pelayanan dari staf marketing percetakan tersebut. Pengalaman saya dan klien-klien saya, hampir setiap percetakan yang baik pasti menyediakan staf marketing yang siap melayani kliennya. Berurusan dengan percetakan seperti ini, kita bisa tinggal menyerahkan materi cetak, sementara mereka yang akan mengurus detailnya. Dan untuk amannya, pastikan pula kita bisa bersinergi dengan bagian percetakan dan desainer kaver maupun penata letak isi buku.

Ketujuh, menentukan harga jual buku. Setelah mengetahui biaya cetak dan komponen-komponen biaya lainnya (desain kaver, tata letak, editing, promosi), maka kita sudah bisa memperkirakan harga jual buku nantinya. Bagaiamana rumusannya? Mudah: seluruh biaya produksi dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima, hasilnya adalah harga jual buku kita. Contoh, biaya produksi Rp24.000.000 dibagi jumlah cetak 3.000 eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp8.000) dikalikan lima = Rp40.000. Jadi, harga jual buku kita di toko nantinya Rp40.000.

Formula harga di atas adalah yang paling umum digunakan dan membuat harga buku tetap terjangkau. Yang saya amati, ada pula yang menggunakan bilangan pengali antara 6-7 kali untuk menetapkan harga jual. Akibatnya, harga buku menjadi jauh lebih mahal. Di satu sisi ini menguntungkan penerbit, di sisi lain ini berisiko juga, karena harga yang terlalu tinggi juga mempengaruhi minat beli komsumen. Oleh karena itu, pada kesempatan pertama menerbitkan buku, jangan pernah tergoda untuk melambungkan harga buku. Bila ingin mengunakan angka pengali lebih dari lima, pertimbangkan betul-betul daya serap pasar nantinya. Bila perlu, mintalah masukan dari konsultan penerbitan, distributor, atau toko buku kerena merekalah yang paham soal itu.

Kedelapan, mengadakan perjanjian distribusi dengan distributor. Pada saat naskah buku naik cetak, kita sudah harus mendapatkan distributor buku. Sebab, bila kita sudah mendapatkan distributor buku saat proses pencetakan berlangsung, maka selesai cetak buku itu bisa langsung dikirim ke gudang distributor. Distributor buku adalah salah satu pilar utama bisnis penerbitan, selain toko buku dan penerbit itu sendiri. Sebagai penerbit, bisa saja kita berkeliling dari toko ke toko untuk menawarkan buku kita (konsinyasi atau beli putus). Tapi, untuk menghemat tenaga, menjangkau toko-toko secara nasional, dan mempermudah persoalan administrasi, lebih baik kita menggunakan jasa distributor.

Banyak distributor buku dengan kekuatan maupun kekurangannya masing-masing. Hampir semuanya menggunakan sistem konsinyasi (beli kredit atau pembayaran sesuai dengan jumlah buku yang laku). Ada yang lingkupnya nasional serta menjangkau hampir seluruh toko buku, ada pula yang lingkupnya lokal dan hanya menjangkau toko-toko buku tertentu. Diskon yang diminta oleh distributor (yang nantinya dibagi dengan toko-toko buku) berkisar antara 45-60 persen dari harga jual buku. Soal diskon, kita bisa bernegosiasi dengan pihak distributor dan kemudian kerjasama itu dibuat dalam format kontrak kerjasama pendistribusian.

Nantinya, sebulan sekali kita akan menerima laporan penjualan buku kita. Sementara, jatuh tempo pembayaran bervariasi antara distributor yang satu dengan yang lain. Ada distributor yang sudah bisa membayar dalam setengah bulan, namun ada pula yang baru membayar dua bulan setelah laporan penjualan kita terima. Semua ketentuan itu termaktub dalam kontrak kerjasama.

Pada intinya, delapan langkah itulah yang kita butuhkan untuk mendirikan sebuah penerbitan mandiri. Kedelapan langkah tersebut sudah mencakup persiapan penerbitan hingga peredaran buku ke pasaran. Sebab, begitu buku kita sudah sampai di tangan distributor, maka biasanya seminggu kemudian buku tersebut sudah beredar di toko-toko buku. Sebagai penerbit, kita sudah menyelesaikan satu rangkaian proses produksi atau penerbitan buku.

Dan, begitu buku produksi penerbitan mandiri kita beredar di toko-toko, maka sejak itulah merek penerbitan kita resmi beredar di tengah-tengah khalayak. Tugas kita selanjutnya sebagai penerbit adalah membuat gema promosi dengan berbagai aktivitas supaya khalayak tertarik dan kemudian membelinya.

Tapi, saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apakah membuat penerbitan mandiri itu harus disertai dengan pendirian badan usaha semacam PT atau setidaknya CV? Bagiamana soal pajak dan sebagainya?” Jawaban saya standar saja, tidak selalu. Apabila penerbitan ini formatnya self-publishing atau independent publishing, terlebih bila masih coba-coba menemukan format, mengapa harus di-PT-kan? Langkah itu akan menambah beban biaya lagi, sementara ‘petualangan penerbitan’ belum tentu menguntungkan.

Nah, apabila nantinya penerbitan yang kita bangun itu menguntungkan, bisa memproduksi buku lebih banyak lagi, bisa mempekerjakan beberapa orang, manajemen sudah dirapikan, urusan pajak sudah dipersiapkan dan ditata dengan lebih baik, silakan bentuk badan usahanya. Dunia penerbitan kita banyak diwarnai oleh langkah-langkah semacam ini. Hampir semua penerbit kecil atau independen pada awalnya berusaha memperkuat bisnisnya dulu. Setelah mampu memperkuat basis bisnisnya dengan terus mengembangkan diri, barulah kemudian membakukan penerbitannya dalam sebuah badan hukum dan kemudian memproklamirkan diri menjadi penerbitan umum. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat mendirikan penerbitan mandiri.[ez]

11 Fakta Buku Bestseller

Quantcast

*Edy Zaqeus

Dalam tulisan ini, saya akan coba simpulkan temuan-temuan saya selama ini perihal mengapa dan bagaimana sebuah buku bisa jadi bestseller. Berikut pemaparannya.

Pertama, tema buku yang unik, baru, dan menarik, biasanya punya kans untuk jadi bestseller. Apakah semua tema yang semacam itu selalu jadi bestseller? Tidak juga. Tapi, tema-tema buku dengan keunggulan seperti saya sebut tadi, biasanya selalu jadi langganan bestseller. Ambil contoh buku True Power of Water karya Masaru Emoto yang benar-benar menyuguhkan sebuah fenomena baru yang menarik. Karena isi bukunya memang cukup unik, sangat menarik, dan baru—atau paling tidak semakin meneguhkan fenomena lama berdasarkan bukti-bukti baru—maka larislah buku terjemahan tersebut.

Untuk kasus nasional, tengok sukses buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Mungkin kita sudah sering mendengar istilah-istilah kuantum (quantum) yang digandengkan dengan berbagai konsep lainnya, seperti quantum leadership, quantum writing, atau quantum learning, dll. Tapi, begitu muncul lagi istilah baru dan unik, quantum ikhlas, orang tertarik pula. Terlebih karena isi bukunya juga menarik dan relatif menyajikan alternatif baru.

Kedua, tema-tema yang sejatinya tergolong lama ternyata bisa meledak lagi jika dikemas ulang secara lebih cerdas. Contoh, apalagi kalau bukan buku terjemahan The Secret: Mukjizat Berpikir Positif. Rhonda Byrne, si penulisnya, pun mengakui hal ‘ketidakbaruan’ isi bukunya itu. Kombinasi antara kecerdasan pengemasan ulang serta dampak publikasi medialah yang mendukung kesuksesan buku tersebut.

Untuk kasus nasional, lihat sukses Jakarta Undercover karya Moamar Emka. Mungkin Anda pernah baca buku Remang-Remang Jakarta yang terbit tahun 1980-an. Temanya sama, tapi kemasan, kasus, serta cara penulisannya yang agak berbeda sehingga mendatangkan hasil yang berbeda pula.

Ketiga, kemasan bernuansa religius bisa menjadi magnet tersendiri. Lihat saja, sebelumnya buku-buku pengembangan diri dan cara berpikir positif didominasi oleh penulis-penulis Barat yang identik dengan nonmuslim. Begitu muncul buku pengembangan diri terjemahan bernuansa islami semacam La Tahzan Jangan Bersedih karya Aidh Al Qarni, maka meledaklah buku tersebut.

Mirip dengan itu, lihat saja tema emotional and spiritual quotient. Ini bukan barang baru di Barat sana. Namun, ketika di sini dikemas dalam nilai-nilai islami, lahirlah buku ESQ dan ESQ Power karya Ary Ginanjar yang sukses spektakuler. Lihat saja nanti, pasti akan lahir lebih banyak buku yang membahas teori-teori atau konsep-konsep populer secara islami. Pasar untuk buku-buku populer bernuansa religius semacam ini pasti makin membengkak dari tahun ke tahun.

Keempat, tema-tema buku yang menguak suatu rahasia atau misteri juga terus menyedot perhatian. Terlebih bila misteri itu sempat menjadi perhatian publik secara luas. Contoh mudahnya yang masuk kategori ini ya The Secret atau Jakarta Undercover. Tapi, contoh lain yang tak kalah menarik adalah larisnya buku Intel-Menguak Tabir Intelijen Indonesia karya Ken Conboy, Membongkar Jamaah Islamiyah karya Nasir, atau sukses buku IPDN Undercover dan IPDN Uncensord keduanya karya Inu Kencana.

Lalu, lihat sukses buku Sukarno File karya Antonie C.A. Dake dan Detik-detik yang Menentukan karya mantan presiden B.J. Habibie. Sampai kapan pun, yang namanya misteri pasti akan menarik perhatian. Makanya, ini bisa jadi petunjuk menarik bagi siapa pun yang ingin sukses dalam penulisan.

Kelima, judul kontroversial tetap saja menarik perhatian, walau tidak menjamin kesuksesan. Mengapa demikian? Ya, karena yang aneh-aneh, yang unik, yang lain daripada biasanya, yang menentang arus, semuanya menarik perhatian kebanyakan orang. Mau bukti? Lihat buku saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! yang sejak terbit tahun 2004 hingga sekarang sudah 12 kali cetak dan kemudian terbit pula edisi khususnya (alias cetakan ke-13). Contoh lain, lihat buku Ternyata Akherat Tidak Kekal karya Agus Mustofa atau Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi. Keenam, cara penyajian yang populer tetap lebih menarik perhatian pembaca pada umumnya ketimbang buku-buku yang disajikan secara ketat atau berstandar ilmiah tinggi. Simak bagaimana masalah-masalah marketing yang serba teoretis jadi enak mengalir bila yang menuliskannya adalah Hermawan Kartajaya yang sukses dengan Marketing in Venus.

Lihat pula bagaimana masalah-masalah keuangan yang serba rumit bisa terasa renyah dibaca bila yang menulis adalah Safir Senduk yang sukses dengan Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? dan Buka Usaha Nggak Kaya Percuma. Jangan pula lupa, soal filsafat pendidikan, leadership, dan pembelajaran jadi begitu mudah dicerna ditangan Andrias Harefa dalam karyanya Menjadi Manusia Pembelajar.

Ketujuh, fakta bahwa pendatang baru atau orang yang baru pertama kali menulis buku pun sangat mungkin bisa langsung menjadi penulis bestseller. Ini jelas kabar baik bagi semua penulis yang baru mau menerbitkan buku untuk pertama kalinya. Tidak peduli apakah seorang penulis itu sudah punya nama atau belum, tapi walau baru sekali menerbitkan buku, bisa saja bukunya langsung meledak. Mau contohnya? Kita bisa sebut penulis seperti Ary Ginanjar, Valentino Dinsi, atau Raditya Dika dengan KambingJantan-nya, bahkan Eni Kusuma dengan Anda Luar Biasa!!!-nya.

Kedelapan, penulis ber-mindset ‘penjual’ punya peluang lebih besar dalam menjadikan bukunya bestseller. Simak lagi artikel saya yang berjudul “Menjadi Sales Writer”. Penulis yang berani bekerja keras mempromosikan bukunya, baik dalam bentuk seminar, peluncuran buku, diskusi, talk show, wawancara dengan media, termasuk menjual langsung bukunya, pasti punya kans besar untuk sukses. Orang-orang seperti Ary Ginanjar, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Tung Desem Waringin, dan Safir Senduk adalah kategori penulis ber-mindset penjual. Terbukti, buku-buku mereka jadi bestseller.

Kesembilan, bahwa iklan, promosi, dan liputan media massa sungguh berperan dalam mendorong sebuah judul buku jadi bestseller. Intinya adalah penampakan (visibility) melalui berbagai instrumen komunikasi massal, bisa lewat iklan, resensi atau pembahasan media, atau bahkan termasuk penampakan di bagian-bagian strategis di toko buku.

Apakah semua buku yang diiklankan, dipromosikan besar-besaranm serta dikupas habis media bisa jadi laris? Tidak juga. Buktinya, lihat saja buku-buku bertema berat yang sering diiklankan di harian Kompas, yang tidak serta merta laris di pasaran. Walau tidak otomatis laris, namun iklan, promosi, atau liputan media massa tetap berpengaruh.

Kesepuluh, distribusi sangat berpengaruh bagi laris tidaknya sebuah buku. Bisa saja bukunya unik, menarik, judulnya kontroversial, iklannya dan promosi juga besar-besaran, namun buku tidak ditemukan di toko mana pun. Ya, sama juga bohong. Makanya, di sinilah peran sentral rantai distribusi dalam mengantarkan produk kepada konsumen akhir. Jika rantai distribusi macet, maka sebesar apa pun potensinya, lupakan mimpi jadi bestseller.

Kesebelas, buku-buku nonfiksi populer relatif lebih bisa diprediksi keberhasilannya ketimbang buku fiksi. Jauh lebih sulit mengkreasikan atau bahkan sekadar meramal akankah sebuah karya fiksi bisa menjadi bestseller. Lihat saja karya-karya fiksi yang menang penghargaan (karena biasanya pasti dianggap bagus dan bermutu) dan kemudian diburu penerbit untuk diterbitkan. Harapan penerbit, pasti karya-karya berkualitas itu bisa laris di pasaran. Makanya, treatment-nya pun pasti berbeda dari buku terbitan yang lainnya, termasuk dalam hal promosi. Tapi, apakah karya fiksi berkualitas itu selalu laris di pasaran? Tampaknya tidak.

Ini beda dengan buku-buku nonfiksi populer yang seirama dengan suatu tren tertentu. Jauh lebih mudah meramal buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin akan sukses di pasaran ketimbang, misalnya, meramal sebuah novel yang menang penghargaan akan mengalami hal serupa. Lebih mudah pula meramal karya Andrias Harefa, Andrie Wongso, dan Safir Senduk akan laris ketimbang karya penulis-penulis fiksi lainnya.

Nah, fakta kesebelas tersebut sekaligus merupakan kabar baik bagi para penulis nonfiksi pada umumnya. Mereka bisa merancang buku sedemikian rupa sehingga potensi untuk jadi bestseller relatif lebih besar. Beberapa variabel yang dibahas di artikel ini pun bisa dijadikan sebagai area kontrol untuk memaksimalkan potensi bestseller.

Jadi, teruslah kreatif dan bersemangat menulis buku. Manfaatkan temuan-temuan di atas untuk merangsang pikiran dalam menemukan ide-ide baru serta meramunya menjadi karya yang berpotensi besar untuk jadi bestseller. Selamat berkarya. Salam bestseller![ez]

* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada 14-15 Desember 2007 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com atau hubungi dia via email: edzaqeus@gmail.com.

Fenomena Spin Off

*Askurifai Baksin

Ibarat drama tiga babak, 3 Maret yang lalu ‘pertunjukkan’ Century Gate memperlihatkan babak antiklimak. Antiklimak karena Opsi ‘C’ sebagai ‘peran utama’ dalam pergelaran yang menyedot hampir seluruh bangsa Indonesia ini masih menunggu babak berikutnya, yakni proses hukum sebagai babak klimak. Tapi di tengah-tengah drama tiga babak ini, ada pemeran lain yang kini muncul, yakni spin off. Sejauhmanakah spin off ini dalam konstelasi media di negeri ini?

Dalam praktik media spin off merupakan upaya memindah-mindahkan channel lewat remote control. Dalan konteks bangsa Indonesia, ketika kesimpulan Pansus Century diambil secara voting, tiba-tiba perhatian masyarakat beralih ke pemberitaan baku tembak Brimob Polda Aceh – Densus 88 Jakarta dengan sekelompok orang yang ditengarai sebagai teroris di Aceh. Selain itu masyarakat juga ‘terpancing’ dengan pemberitaan konflik antara HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Makassar dengan aparat kepolisian di Makasar. Kedua-duanya gaungnya menasional. Terutama karena isu terorisme paling mudah menarik perhatian massa. Juga HMI yang punya jaringan politik kuat di tingkat nasional yang kini berkuasa.

Dengan dua headline news tersebut mau tidak mau masyarakat dialihkan untuk sejenak melupakan kasus Century. Apalagi hasil keputusan rapat paripurna DPR RI beberapa waktu lalu itu memecah koalisi demokrat dengan partai-partai pendukungnya yang ternyata tidak mendukung Opsi ‘A’. Apa boleh di kata, kini partai berkuasa mengelus dada karena sudah kehilangan dukungan partai koalisinya.

Pelupa dan Pemaaf

Sejak dulu, masyarakat Indonesia terkenal mudah lupa dan  memaafkan. Sejaumanakah sifat mulia ini diapresiasi kalangan politisi? Kita bisa lihat sejarah, bagaimana figur-figur yang pernah menyakiti masyarakat Indonesia dengan ‘dosanya’ yang begitu besar bisa menjadi orang ‘biasa’ lagi, seolah tak punya salah apa pun. Malah, terkadang ada seseorang yang dulu begitu dibenci tapi di kemudian hari muncul sebagai sosok yang baik dan dibutuhkan masyarakat melalui publisitas yang terus menerus.

Semua itu karena masyarakat kita ‘mudah melupakan’ dan ‘pemaaf’. Mudah lupa dan pemaaf akhirnya menjadi senjata siapa pun tokoh di negeri ini untuk berbuat seenaknya. Padahal, kalau kita belajar dari sejarah Nelson Mandela dialah orang yang paling disakiti pemerintahnya di jaman menjadi pejuang. Tapi ketika Nelson mendapat simpati masyarakat Afrika Selatan dan menjadi pemimpin di negeri ini apa yang dia katakan? Dia mengatakan, forgive but don’t forget (maafkan tapi jangan lupakan). Ya, Nelson Mandela mampu memaafkan lawan-lawan politiknya yang waktu itu sangat kejam dan rasialis, tapi dia tidak pernah melupakan kejadian yang pernah dialaminya.

Sebaliknya di negeri kita. Jika ada seseorang yang nyata-nyata bersalah cukup berujar: maafkan dan lupakanlah. Ya, lupakan dan maafkan adalah dua kata yang mampu dibangun oleh praktik spin off. Manakala ada seseorang yang  punya opini publik negatif maka dengan spin off berita akan terkubur dengan peristiwa dan berita lain. Setelah itu masyarakat melupakan dan memaafkan. Banyak kasus-kasus yang belum sempat tuntas tapi berkat spin off kasus itu terlupakan dan masyarakat memaafkan.

Jika dikaitkan dengan kasus Century, di tengah-tengah spin off ini, tiba-tiba politikus Partai Demokrat, Mubarok, mengatakan bahwa dalam proses berpolitik itu tak ada yang sulit. Menurutnya, politik itu meliputi 3 dimensi, yakni ilmu, game, dan seni. Ilmu artinya harus dengan pengetahuan, game untuk membuat politik itu kalau menang senang dan juga harus ada seni. Seni artinya membuat pertandingan yang ada sekalipun bertengkar harus tampak indah ditonton dan dirasa (PR, 6/3).

Dari pernyatan ini jelas bahwa spin off masuk dalam tataran seni. Sebagai mana mayoritas tayangan televisi, spin off juga layaknya seperti seni. Satu berita menggembirakan sebagian penonton, muncul berita lain yang tidak menggembirakan penonton lainnya. Begitulah seterusnya. Dan ini tidak berlangsung sekarang saja. Hampir di semua kasus-kasus besar. Kita masih ingat bagaimana dulu kasus seorang politikus nasional yang siap-siap masuk wilayah hukum. Tiba-tiba bom Bali meledak. Meskipun secara sosial kejadian ini tidak ada kaitannya tapi secara spin off masyarakat langsung beralih perhatian ke bom Bali, melupakan ‘dosa’ sang politikus tadi.

Kini, kasus baku tembak polisi dengan sekelompok bersenjata di Aceh meledak dengan menewaskan beberapa orang (dari polisi 3 orang, dari sipil Aceh sekitar 4 orang). Sampai kini tim gabungan menyisir kembali lokasi kontak tembak di Desa Bayu, Kemukiman Lamkabeu, Aceh Nanggro Darusaalam. Dan kasus HMI versus polisi juga terus bergulir di media, malah merembet ke wilayah lain, seperti Cianjur, Pekanbaru, dan Jakarta. Entah ke wilayah mana lagi. Kedua berita ini mampu mengalihkan penonton dari Century.

Mengamati fenomena ini saya ingat pernyataan Anang Hermawan (pengajar Fisipol UGM) bahwa dalam kaitannya dengan informasi alias produk media, paradigma posistivisme-empiris meyakini bahwa apa yang dilakukan media seolah sekadar memindahkan realitas pertama (sosial) ke realitas kedua (media) tanpa tendensi melakukan distorsi. Seolah-olah, media cermin dari realitas masyarakat yang sesungguhnya. Dalam kajian media, pandangan reflektif ini mendapat tempat melalui analisis isi kuantitatif yang notabene merupakan analisis struktural sederhana yang tak mau terlibat jauh dengan kontek di luar bahasa.

Pada sisi lain, isi media tidak mungkin lagi dilihat sebagai cermin dari realitas. Keyakinan ini muncul dalam paradigma konstruktivisme. Media tidak layak lagi disebut sebagai refleksi, melainkan media sebagai ‘representasi’ apa yang berlangsung dalam masyarakat, sehingga klaim-klaim obyektif untuk memahami bahasa media tidak layak lagi diterapkan. Pikiran manusia membawa konstruksi nilai tertentu yang kemudian mewujud sebagai produk media. Dalam perspektif konstruktivisme, produk media merupakan man made, sehingga subyektivitas manusia pembuatnya merupakan hal wajar terjadi sehingga tidak bisa disebut realitas obyektif lagi.

Realitas yang tampil dalam produk media merupakan hasil konstruksi yang telah mengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktor subyektivitas dari orang-orang yang terlibat dalam media. Tidaklah sesederhana pandangan reflektif, penggunaan istilah representasi berangkat dari kesadaran bahwa apa yang tersaji di media seringkali tidak selalu persis dengan apa yang ada di realitas empirik. Meyakini realitas media sama halnya dengan memandang suatu fenomena yang diibaratkan seperti gunung es. Permukaan yang terlihat seringkali hanya sebagian kecil dari kenyataan sesungguhnya, dan sebaliknya apa yang ada di bawah permukaan itu justru lebih besar. Pada gilirannya peran pemaknaan oleh ‘pembaca’ menjadi hal penting karena pembacalah yang punya otoritas untuk melihat sejauhmana bagian yang tidak tampak dari gunung es itu dapat ditemukan.

Praktik spin off jelas menunjukkan bagaimana media merepresentaskan peristiwa yang hangat terjadi di masyarakat. Dengan instrumen  ‘mudah lupa’ dan ‘pemaaf’  berita-berita yang silih berganti mampu membuat pembaca dan penonton (tv) melupakan peristiwa atau tokoh-tokoh tertentu. Setelah sekian lama terkubur akhirnya masyarakat menjadi ‘seolah’ memaafkan. ‘Seolah’, karena bisa jadi masyarakat tak berdaya sehingga hanya ‘menerima’ saja, bukan ‘memaafkan’.  Inilah (mungkin) yang dimaksud seni berpolitik. Dan spin off tampaknya masih  menjadi fenomena menarik di negeri ini. Entah sampai kapan.

*Penulis Sekjen Ormas GAIB (Gerakan Anak Indonesia Bersatu) dan pengajar Jurnalistik Fikom Unisba dan UIN Gunung Djati Bandung.

Ampuhnya Kanalisasi Media

Quantcast

*Askurifai Baksin

Dalam literatur komunikasi, Lazarfeld dan Merton (1948-1960) memandang media massa mengundang tiga kemungkinan, yakni monopolisasi, kanalisasi, dan suplementasi. Monopolisasi (monopolization) artinya masyarakat tidak berdaya menghadapi media karena sudah dimonopoli media. Ini terjadi akibat tidak adanya upaya melawan propaganda yang dilakukan oleh media massa. Hal ini tidak hanya pada masyarakat dengan sistem otoriter tetapi juga di tiap masyarakat di mana tidak ada perlawanan terhadap suatu pandangan, nilai kebijakan, atau citra publik.

Kedua, kanalisasi (canalization). Kedua  pakar komunikasi tersebut memerhatikan bahwa iklan biasanya hanya berusaha untuk mencoba kanalisasi atau menyalurkan pada tingkah laku atau sikap yang sudah ada. Ketika seseorang akan menggosok giginya dia teringat sebuah merek produk yang secara terus menerus muncul di media dan meliputi benaknya. Ketika di kota-kota besar diberitakan ada aksi demo, di daerah pun demikian. Bahkan perilaku pejabat kota (misalnya)  yang kerap korupsi pun ditiru oleh pejabat di tingkat daerah. Di sini kanalisasi yang awalnya garapan periklanan bergeser ke ranah lainnya: politik, sosial, ekonomi, dan lainnya.

Ketiga, suplementasi (supplementation). Di sini, media massa yang tidak monopolistik maupun mengkanalisasi ternyata terbukti efektif juga. Suplementasi berarti media berkolaborasi dengan kelompok tertentu untuk menguatkan dominasinya, misalnya dalam acara talk show. Seorang tokoh masyarakat atau politikus atau siapa saja jika sudah berkolaborasi dengan media niscaya akan mampu membentuk opini publik yang diinginkan. Situasi seperti ini kini dimanfaatkan (salah satunya) oleh TV-One. Hampir setiap hari media ini mencoba menggiring opini publik untuk tujuan-tujuan tertentu. Ada CPNS  yang menolak pengangkatan CPNS karena dirasa tidak fair. Ada lagi santri yang mengadukan karena disiram air keras oleh salah seorang pengurus pesantren, dan lain-lain.

Kanalisasi Media

Menyangkut kanalisasi media, ada yang menarik akhir-akhir ini. Begitu kasus Prita Mulyasari mencuat, kontan berbagai media menayangkan dan memberitakannya terus menerus. Sekali lagi opini publik yang  tendensius memaksa khalayak terkanalisasi. Masyarakat suka atau tidak akan “dijuruskan” ikut membangun opini publik untuk memperjuangkan sesuatu. Dan Prita (kebetulan) sosok yang menjadi objek kanalisasi media sehingga mampu menggiring khalayak untuk menyumbang demi kebebasan Prita. Dari proses kanalisasi media ini ratusan juta koin terkumpul dan disalurkan kepada Prita untuk membayar kasus Prita.

Di sisi lain, berita kelangkaan minyak tanah, krisis pangan, dan bencana alam di beberapa wilayah Indonesia seolah menjadi bagian yang kurang penting dalam dinamika masyarakat Indonesia saat ini. Di banyak daerah masyarakat Indonesia kesulitan mendapatkan minyak tanah. Ingin menggunakan gas tidak ada, dan akhirnya berebut kayu bahan limbah dari pabrik (di Mojoketo). Ada juga kasus penjarahan pupuk karena petani sudah mulai kehilangan akal dalam menghadapi kelangkaan pupuk. Atau ada yang sengaja menampung air hujan karena pipa ledeng lama tak mengucur (PR, 3/2).

Maksud saya, berilah porsi yang seimbang dalam beberapa kasus. Media tv terutama, tampaknya sering mengarahkan masyarakat pada kanal tertentu. Sebaliknya, pada media cetak porsi berita masih cukup berimbang. Muatan berita skandal Century tampaknya sudah mulai tidak dikanalkan, mengingat berbagai kepentingan belum mampu menghasilkan keputusan yang melegakan banyak pihak. Justru wacana pemakzulan presiden dan wakilnya yang mencuat seolah memberi peluang agar media lari dari Century. Dan pemakzulan ini karena tidak semuanya menghendaki juga akhirnya deadlock. Akhirnya semuanya serba kabur, tidak jelas. Dan karena ‘garapan’ media juga tidak jelas maka masyarakat dikanalkan juga untuk tidak jelas.

Pendekatan Marxisme

Adanya proses kanalisasi media ini sebetulnya dampak dari pendekatan Teori Media Marxisme. Stuart Hall menampilkan pendekatan Marxisme kultural yang menganggap media massa sangat berpengaruh dalam membentuk kesadaran publik. Kulturalisme mengikuti strukturalisme Althusserian yang menolak ekonomisme. Namun,  tidak seperti strukturalisme, kulturalisme menekankan pada pengalaman aktual kelompok dalam masyarakat dan mengontekstualisasikan media ke dalam suatu masyarakat yang dipandang sebagai a complex expressive totality (Chandler, mengutip Curran et.al 1982 : 27). Masih menurut Curran, teoritisi Marxis berbeda dalam pertimbangan  mereka tentang determinasi media massa dan sifat serta kekuatan ideologi-ideologi media massa.

Kasus Qilqis kini yang menjadi target kanalisasi media. Bocah malang yang harus melakukan transpalasi hati ini memerlukan biaya Rp 1,3 miliar! Angka fantastik yang tidak mungkin bisa dikeluarkan dari kocek orang tuanya. Dan lagi-lagi media menganalkan publik untuk simpati dan menolong Bilqis. Dan hebatnya, dalam hitungan hari sudah terkumpul ratusan juta rupiah. Selain itu proses kanalisasi ini juga mengimbas pada Departemen Kesehatan RI yang ikut membantu proses operasi Bilqis di RS Karyadi Semarang.

Inilah (mungkin) yang saya sebut “ampuhnya kanalisasi media”. Setelah kasus Prita berhasil menganalisasi publik, kini publik dikanalisasikan untuk membantu penderitaan Bilqis. Dan nyatanya masyarakat Indonesia sangat peduli terhadap nasib sesamanya. Memang terkadang situasi ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang atau segelintir pribadi untuk bisa tampil di media. Untuk yang kedua ini sebetulnya masuk sebagai praktik suplementasi media.

Jadi, kalau Lazarfeld dan Merton menganggap monolipolisasi, kanalisasi dan komplementasi merupakan bahaya media yang selalu mengintai, pada kasus ‘membantu orang kesulitan’ kanalisasi efeknya positif. Bayangkan, jika media tidak mengekpos Prita atau Bilqis mungkin Prita tidak bisa bebas dan Bilqis tetap menderita karena kelainan hati.

Implikasi lain dari kanalisasi media tersebut adalah munculnya kesadaran kolektif masyarakat Indonesia dengan sikap gotong royongnya. Secara matematis mobilisasi biaya dari masyarakat pada kasus Prita dan Bilqis berhasil. Nah, tinggal bagaimana media mengkombinasikan agenda media dengan pemilihan objek kanalisasi agar sikap paguyuban (gotong royong) masyarakat Indonesia tetap terjaga. Meskipun di lain kasus masyarakat dikanalisasikan sampai menjadi masyarakat patembayan (egois) yang hanya mementingkan diri, tapi ternyata masyarakat Indonesia masih memiliki budaya mulia.

Jika media mampu mengagendakan titik krusial yang terjadi di masyarakat dan mengkanalisasikan secara positif niscaya banyak persoalan masyarakat bisa teratasi dengan baik. Istilah hukumnya ‘jangan tebang pilih’. Jangan hanya memilih kasus-kasus tertentu saja yang dikanalisasikan sehingga mampu memobilisasi masyarakat untuk gotong roong. Gizi buruk, himpitan ekonomi yang menyebabkan kasus bunuh diri, korban PHK yang memprihatinkan, dan terakhir dampak liberalisasi perdagangan Indonesia-China. Inilah yang harus menjadi agenda media.

Pemberlakuan ACFTA mulai 2010 lambat laun akan memperlihatkan krisis multidimensi di negeri ini. Untuk mengantisipasinya meminjam teori Marxis tentang kulturalisme. Di sini kulturalisme menekankan pada pengalaman aktual kelompok dalam masyarakat dan mengontekstualisasikan media ke dalam suatu masyarakat yang dipandang sebagai a complex expressive totality. Lewat pendekatan ini proses kanalisasi media yang selama ini sudah dilakukan akan lebih efektif lagi. Karena bagaimana pun juga masih ada suara sumbang tentang ‘keberhasilan’ Prita dan Bilqis. Mereka berhasil karena menjadi objek yang diagendakan media.

Jadi, pengalaman aktual Prita dan Bilqis alangkah baiknya dikontektualisasikan media ke dalam masyarakat Indonesia saat ini. Seluruhnya. Karena, seperti ungkapan Curran, masyarakat kita sebagai a complex expressive totality. Inilah ampuhnya kanalisasi media.

 

*Penulis praktisi media, pengajar Ilmu Jurnalistik Fikom Unisba dan Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

*Tulisan ini pernah dimuat di Pikiran Rakyat 10 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s