MATERI KULIAH

MATERI KULIAH EDITING & PUBLISHING

 
MAKNA PENYUNTINGAN

  1. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBI) susunan W.J.S. Purwadarminta, makna penyuntingan adalah proses kerja yang berkaitan dengan  sebuah benda yang namanya sunting.
  1. Dalam Bahasa Indonesia klasik/tradisional/Melayu, kata sunting merujuk pada sejenis hiasan (hiasan itu pada umumnya adalah bunga). Hiasan atau bunga itu umumnya diletakkan di belakang daun telinga atau rambut manusia.
  1. Makna penyuntingan dalam ranah Bahasa Indonesia klasik adalah kegiatan hias-menghias, mempercantik diri dengan menempatkan bunga atau hiasan sejenis pada rambut atau di belakang daun telinga sehingga manusia yang berperhiasan itu menarik perhatian publik yang memandang dirinya.
  1. Dalam masyarakat berbahasa Inggris, sebagaimana diungkapkan John M. Echols, penyuntingan berarti editing; to edit; to prefare (an author’s works, a manuscript etc.) for publication, as by selection, annotation, revision etc.

BEBERAPA ISTILAH

  1. Menyunting berarti menyiapkan naskah siap cetak atau siap untuk diterbitkan dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur);
  2. Mengedit berarti merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah);
  3. Penyunting (1) orang yang bertugas menyiapkan naskah siap cetak

(2) orang yang bertugas mengarahkan penerbitan media cetak.

  1. Penyuntingan berarti proses, cara, perbuatan sunting-menyunting segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan penyutingan; pengeditan.
  2. Ilmu pengetahuan penyuntingan yang lazim digunakan dalam komunitas penerbitan media profesional dan universal, dikenal dengan Editologi.

ASPEK PENYUNTINGAN NASKAH
1. keterbacaan
2. ketaatasasan
3. kebahasaan
4. ketelitian fakta
5. kesopanan (legalitas)
____________________________________________________________

MATERI KULIAH EDITING & PUBLISHING

 
Kompetensi seorang editor:
1. PROBLEM SOLVER  
Editor harus mampu memecahkan masalah kebahasaan                                    maupun masalah substansi naskah.
2. COMMUNICATOR
Editor harus mampu mengomunikasikan ide-ide para                                       pengarang atau penulis dengan tepat sasaran sesuai                                                   dengan maksud sebenarnya.
3. DECISION MAKER
Editor harus mengambil keputusan yang cepat dan tepat                                 untuk mewujudkan karya tulis yang dapat dibaca dan                                              dipahami banyak.
4. TIME KEEPER
Editor harus menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan                                  deadline karena terkait dengan momentum tertentu                                                  ataupun tuntutan bisnis yang serba-cepat.
“Editing merupakan kegiatan yang memerlukan kecerdasan                            intelektual, kecerdasan emosional, bahkan kecerdasan spiritual. Tanpa               ketiganya, proses editing menjadi pincang.
Proses editing standar dimulai dari tiga aktivitas.

  1. Baca Pertama merupakan aktivitas membaca keseluruhan isi naskah dengan cara membaca memindai (scanning) sehingga editor dapat memahami ide dasar penulis.
  2. Pahami merupakan proses menangkap makna dari setiap kata, kalimat, dan paragraf yang ditulis oleh penulis.
  3. Maknai merupakan sikap editor untuk mengambil keputusan: membiarkan-mengubah-memperbaiki-menambahi-mengurangi

5 Aktivitas Editing

  1. Pengabaian: membaca awal (first reading) dan kemudian memaklumkan kebenaran naskah sehingga tetap sesuai dengan aslinya.
  2. Perbaikan: memperbaiki naskah sesuai dengan gaya selingkung penerbit, pedoman EYD, ataupun Kamus Besar Bahasa Indonesia sehingga menjadi baik dan benar.
  3. Pengubahan: mengubah naskah pada tingkat struktur kalimat, struktur paragraf, ataupun struktur outline sehingga lebih mudah dipahami dan runtut.
  4. Pengurangan: mengurangi bagian-bagian naskah yang dianggap tidak perlu ataupun tidak relevan dengan naskah, termasuk juga dalam hal penyesuaian banyaknya halaman buku.
  5. Penambahan: menambah bagian-bagian naskah yang dianggap perlu ataupun sangat relevan, termasuk juga dalam hal penyesuaian banyaknya halaman buku.

7  Hal-hal yang disunting:

  1. keterbacaan dan kejelasan (readability dan legibility);
  2. konsistensi atau ketaatasasan;
  3. kebahasaan;
  4. kejelasan gaya bahasa;
  5. ketelitian data dan fakta;
  6. kelegalan dan kesopanan;
  7. ketepatan rincian produksi.

Yang menjadi focus editing:

  1. kebenaran (correctness);
  2. kejelasan (clarity);
  3. keterkaitan (coherency);
  4. d. ketaatasasan (concistency).

Mechanical Editing
Merupakan dasar keterampilan editing yang sangat perlu dikuasai seorang editor pemula. Seorang penulis profesional pun bisa menguasai keterampilan ini dengan cepat.
Dalam mechanical editing ada hal-hal yang harus diperhatikan:

  1. ejaan;
  2. pemenggalan kata;
  3. penggunaan huruf kapital;
  4. penggunaan tanda baca;
  5. penerapan angka dan rumus;
  6. penerapan kutipan;
  7. penggunaan singkatan dan akronim;
  8. penggunaan huruf miring dan huruf tebal;
  9. penerapan elemen khusus;
  10. penulisan catatan kaki dan catatan akhir.

SUBSTANTIVE EDITING
Substantive editing atau structural editing memerlukan wawasan yang luas dan sekaligus kapabilitas editor terhadap topik naskah yang disuntingnya. Dalam proses substantive editing dapat dilakukan penyuntingan yang termasuk tingkatan berat, seperti:

  • mengubah struktur naskah (outline), baik bab, subbab, maupun sub-subbab;
  • menambahi atau mengurangi bagian-bagian tertentu dari naskah;
  • memperbaharui naskah dengan data dan fakta paling akhir (updating);
  • mengubah penyajian naskah untuk disesuaikan dengan pembaca sasaran, misalnya naskah ilmiah-serius menjadi ilmiah-populer; naskah dewasa menjadi naskah remaja;
  • mengoreksi kesalahan logika (nalar), kesalahan data dan fakta, maupun kesalahan informasi.

_____________________________________________________________

SEBELAS FAKTA PENTING BUKU BESTSELLER

Dalam tulisan ini, saya akan coba simpulkan temuan-temuan saya selama ini perihal mengapa dan bagaimana sebuah buku bisa jadi bestseller. Berikut pemaparannya.
Pertama, tema buku yang unik, baru, dan menarik, biasanya punya kans untuk jadi bestseller. Apakah semua tema yang semacam itu selalu jadi bestseller? Tidak juga. Tapi, tema-tema buku dengan keunggulan seperti saya sebut tadi, biasanya selalu jadi langganan bestseller. Ambil contoh buku True Power of Water karya Masaru Emoto yang benar-benar menyuguhkan sebuah fenomena baru yang menarik. Karena isi bukunya memang cukup unik, sangat menarik, dan baru—atau paling tidak semakin meneguhkan fenomena lama berdasarkan bukti-bukti baru—maka larislah buku terjemahan tersebut.
Untuk kasus nasional, tengok sukses buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Mungkin kita sudah sering mendengar istilah-istilah kuantum (quantum) yang digandengkan dengan berbagai konsep lainnya, seperti quantum leadership, quantum writing, atau quantum learning, dll. Tapi, begitu muncul lagi istilah baru dan unik, quantum ikhlas, orang tertarik pula. Terlebih karena isi bukunya juga menarik dan relatif menyajikan alternatif baru.
Kedua, tema-tema yang sejatinya tergolong lama ternyata bisa meledak lagi jika dikemas ulang secara lebih cerdas. Contoh, apalagi kalau bukan buku terjemahan The Secret: Mukjizat Berpikir Positif. Rhonda Byrne, si penulisnya, pun mengakui hal ‘ketidakbaruan’ isi bukunya itu. Kombinasi antara kecerdasan pengemasan ulang serta dampak publikasi medialah yang mendukung kesuksesan buku tersebut.
Untuk kasus nasional, lihat sukses Jakarta Undercover karya Moamar Emka. Mungkin Anda pernah baca buku Remang-Remang Jakarta yang terbit tahun 1980-an. Temanya sama, tapi kemasan, kasus, serta cara penulisannya yang agak berbeda sehingga mendatangkan hasil yang berbeda pula.
Ketiga, kemasan bernuansa religius bisa menjadi magnet tersendiri. Lihat saja, sebelumnya buku-buku pengembangan diri dan cara berpikir positif didominasi oleh penulis-penulis Barat yang identik dengan nonmuslim. Begitu muncul buku pengembangan diri terjemahan bernuansa islami semacam La Tahzan Jangan Bersedih karya Aidh Al Qarni, maka meledaklah buku tersebut.
Mirip dengan itu, lihat saja tema emotional and spiritual quotient. Ini bukan barang baru di Barat sana. Namun, ketika di sini dikemas dalam nilai-nilai islami, lahirlah buku ESQ dan ESQ Power karya Ary Ginanjar yang sukses spektakuler. Lihat saja nanti, pasti akan lahir lebih banyak buku yang membahas teori-teori atau konsep-konsep populer secara islami. Pasar untuk buku-buku populer bernuansa religius semacam ini pasti makin membengkak dari tahun ke tahun.
Keempat, tema-tema buku yang menguak suatu rahasia atau misteri juga terus menyedot perhatian. Terlebih bila misteri itu sempat menjadi perhatian publik secara luas. Contoh mudahnya yang masuk kategori ini ya The Secret atau Jakarta Undercover. Tapi, contoh lain yang tak kalah menarik adalah larisnya buku Intel-Menguak Tabir Intelijen Indonesia karya Ken Conboy, Membongkar Jamaah Islamiyah karya Nasir, atau sukses buku IPDN Undercover dan IPDN Uncensord keduanya karya Inu Kencana.
Lalu, lihat sukses buku Sukarno File karya Antonie C.A. Dake dan Detik-detik yang Menentukan karya mantan presiden B.J. Habibie. Sampai kapan pun, yang namanya misteri pasti akan menarik perhatian. Makanya, ini bisa jadi petunjuk menarik bagi siapa pun yang ingin sukses dalam penulisan.
Kelima, judul kontroversial tetap saja menarik perhatian, walau tidak menjamin kesuksesan. Mengapa demikian? Ya, karena yang aneh-aneh, yang unik, yang lain daripada biasanya, yang menentang arus, semuanya menarik perhatian kebanyakan orang. Mau bukti? Lihat buku saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! yang sejak terbit tahun 2004 hingga sekarang sudah 12 kali cetak dan kemudian terbit pula edisi khususnya (alias cetakan ke-13). Contoh lain, lihat buku Ternyata Akherat Tidak Kekal karya Agus Mustofa atau Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi. Keenam, cara penyajian yang populer tetap lebih menarik perhatian pembaca pada umumnya ketimbang buku-buku yang disajikan secara ketat atau berstandar ilmiah tinggi. Simak bagaimana masalah-masalah marketing yang serba teoretis jadi enak mengalir bila yang menuliskannya adalah Hermawan Kartajaya yang sukses dengan Marketing in Venus.
Lihat pula bagaimana masalah-masalah keuangan yang serba rumit bisa terasa renyah dibaca bila yang menulis adalah Safir Senduk yang sukses dengan Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? dan Buka Usaha Nggak Kaya Percuma. Jangan pula lupa, soal filsafat pendidikan, leadership, dan pembelajaran jadi begitu mudah dicerna ditangan Andrias Harefa dalam karyanya Menjadi Manusia Pembelajar.
Ketujuh, fakta bahwa pendatang baru atau orang yang baru pertama kali menulis buku pun sangat mungkin bisa langsung menjadi penulis bestseller. Ini jelas kabar baik bagi semua penulis yang baru mau menerbitkan buku untuk pertama kalinya. Tidak peduli apakah seorang penulis itu sudah punya nama atau belum, tapi walau baru sekali menerbitkan buku, bisa saja bukunya langsung meledak. Mau contohnya? Kita bisa sebut penulis seperti Ary Ginanjar, Valentino Dinsi, atau Raditya Dika dengan KambingJantan-nya, bahkan Eni Kusuma dengan Anda Luar Biasa!!!-nya.
Kedelapan, penulis ber-mindset ‘penjual’ punya peluang lebih besar dalam menjadikan bukunya bestseller. Simak lagi artikel saya yang berjudul “Menjadi Sales Writer”. Penulis yang berani bekerja keras mempromosikan bukunya, baik dalam bentuk seminar, peluncuran buku, diskusi, talk show, wawancara dengan media, termasuk menjual langsung bukunya, pasti punya kans besar untuk sukses. Orang-orang seperti Ary Ginanjar, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Tung Desem Waringin, dan Safir Senduk adalah kategori penulis ber-mindset penjual. Terbukti, buku-buku mereka jadi bestseller.
Kesembilan, bahwa iklan, promosi, dan liputan media massa sungguh berperan dalam mendorong sebuah judul buku jadi bestseller. Intinya adalah penampakan (visibility) melalui berbagai instrumen komunikasi massal, bisa lewat iklan, resensi atau pembahasan media, atau bahkan termasuk penampakan di bagian-bagian strategis di toko buku.
Apakah semua buku yang diiklankan, dipromosikan besar-besaranm serta dikupas habis media bisa jadi laris? Tidak juga. Buktinya, lihat saja buku-buku bertema berat yang sering diiklankan di harian Kompas, yang tidak serta merta laris di pasaran. Walau tidak otomatis laris, namun iklan, promosi, atau liputan media massa tetap berpengaruh.
Kesepuluh, distribusi sangat berpengaruh bagi laris tidaknya sebuah buku. Bisa saja bukunya unik, menarik, judulnya kontroversial, iklannya dan promosi juga besar-besaran, namun buku tidak ditemukan di toko mana pun. Ya, sama juga bohong. Makanya, di sinilah peran sentral rantai distribusi dalam mengantarkan produk kepada konsumen akhir. Jika rantai distribusi macet, maka sebesar apa pun potensinya, lupakan mimpi jadi bestseller.
Kesebelas, buku-buku nonfiksi populer relatif lebih bisa diprediksi keberhasilannya ketimbang buku fiksi. Jauh lebih sulit mengkreasikan atau bahkan sekadar meramal akankah sebuah karya fiksi bisa menjadi bestseller. Lihat saja karya-karya fiksi yang menang penghargaan (karena biasanya pasti dianggap bagus dan bermutu) dan kemudian diburu penerbit untuk diterbitkan. Harapan penerbit, pasti karya-karya berkualitas itu bisa laris di pasaran. Makanya, treatment-nya pun pasti berbeda dari buku terbitan yang lainnya, termasuk dalam hal promosi. Tapi, apakah karya fiksi berkualitas itu selalu laris di pasaran? Tampaknya tidak.
Ini beda dengan buku-buku nonfiksi populer yang seirama dengan suatu tren tertentu. Jauh lebih mudah meramal buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin akan sukses di pasaran ketimbang, misalnya, meramal sebuah novel yang menang penghargaan akan mengalami hal serupa. Lebih mudah pula meramal karya Andrias Harefa, Andrie Wongso, dan Safir Senduk akan laris ketimbang karya penulis-penulis fiksi lainnya.
Nah, fakta kesebelas tersebut sekaligus merupakan kabar baik bagi para penulis nonfiksi pada umumnya. Mereka bisa merancang buku sedemikian rupa sehingga potensi untuk jadi bestseller relatif lebih besar. Beberapa variabel yang dibahas di artikel ini pun bisa dijadikan sebagai area kontrol untuk memaksimalkan potensi bestseller.
Jadi, teruslah kreatif dan bersemangat menulis buku. Manfaatkan temuan-temuan di atas untuk merangsang pikiran dalam menemukan ide-ide baru serta meramunya menjadi karya yang berpotensi besar untuk jadi bestseller. Selamat berkarya. Salam bestseller![ez]

5 KEBIASAAN PRODUKTIF PENULIS BESTSELLER

Beberapa hari lalu, seorang sahabat penulis mengirimkan SMS kepada saya. Bunyinya demikian, “Selamat siang Mas Edy. Saya mau membentuk kebiasaan menulis. Boleh tahu lima kebiasaan Mas Edy yang dirasakan efektif mendukung menjadi seorang penulis produktif bestseller? Terima kasih.”
SMS tersebut menggelitik saya untuk menuliskan artikel ini. Sebenarnya, saya sendiri tidak sepenuhnya yakin, apakah saya sungguh-sungguh memiliki kebiasaan-kebiasaan yang dia maksud. Tetapi, kalau boleh bercerita di sini, saya memang memiliki sejumlah kebiasaan dalam proses kreatif penulisan. Sebagian di antaranya memang benar-benar sudah jadi kebiasaan saya saban hari, sementara yang lain merupakan proses yang tampaknya menuju ke arah terciptanya kebiasaan baru.
Nah, mungkin saja kebiasaan-kebiasaan itulah yang membuka peluang saya untuk tetap produktif menulis. Mungkin pula, kebiasaan-kebiasaan itulah yang—langsung atau tidak langsung—ikut berpengaruh dan menjadikan buku-buku saya bestseller. Apa saja kebiasaan tersebut? Ini dia ceritanya.
Pertama, saya selalu menyukai tema-tema tulisan yang saya prediksi bakal menarik minat serta sungguh-sungguh bermanfaat bagi saya sendiri maupun pembaca. Saya pun selalu membaca tulisan-tulisan—yang menurut saya sendiri—sangat menarik perhatian saya. Nah, kebiasaan untuk selalu intens dengan hal-hal menarik dan bermanfaat inilah yang kemudian mendorong saya untuk terus berusaha menulis tema-tema pilihan.
Contoh, ketika saya melihat dan mendengar bahwa tema-tema wirausaha begitu digemari oleh masyarakat, saya pun mencoba mempelajari dengan detail dan berusaha menuliskannya. Tulisan semula hanya berwujud rajutan kiat-kiat berwirausaha, dan di lain waktu saya kembangkan menjadi tulisan yang lebih lengkap. Ketika dikompilasi, hasilnya adalah buku laris Resep Cespleng Berwirausaha (Gradien, 2004). Pola ini juga terjadi pada kasus artikel-artikel atau buku-buku saya lainnya.
Kedua, saya selalu mencatat setiap ide tulisan di sebuah “buku bank ide” dalam bentuk judul. Mengapa dalam bentuk judul? Sebab, inilah kebiasaan saya untuk memampatkan atau mengkristalkan gagasan-gagasan—yang mungkin saja panjang lebar—ke dalam bentuk yang simpel, mudah diingat, dan yang terpenting memotivasi/memprovokasi saya untuk mengelaborasinya menjadi naskah buku.
Minimal, ide-ide dalam bentuk judul itu sudah menggambarkan adanya tabungan ide kreatif saya. Makanya, dalam beberapa kesempatan saya sampaikan bahwa saya sampai memiliki lebih dari 700 judul tema buku atau artikel. Namun, yang tak kalah penting adalah tindak lanjut atau kreasi berikutnya atas bank ide tersebut. Dan ternyata, saya sangat terbantu oleh bank ide tersebut dalam setiap proses penulisan dan penyuntingan. Baik untuk keperluan pribadi, penerbitan, maupun saat menangani klien-klien saya.
Ketiga, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah kesenangan yang menantang. Apa kesenangannya dan apa pula tantangannya? Kesenangannya adalah bahwa saya bisa menjadikan aktivitas menulis sebagai sesuatu yang memberikan dampak finansial. Saya teramat sadar dan meyakini bahwa seorang penulis dapat hidup layak dari pekerjaan atau profesinya sebagai penulis. Asalakan, dia mampu memanfaatkan kemampuan menulis itu dengan baik.
Aktivitas menulis menjadi begitu menyenangkan bagi saya karena bisa memberikan penghasilan dalam bentuk honor, professional fee, maupun royalti. Dengan kemampuan menulis yang baik (termasuk di dalamnya kemampuan editing), membuat hari-hari saya dipenuhi oleh pekerjaan yang berkutat pada soal tulis-menulis dan penerbitan. Tapi yang tak kalah penting, aktivitas ini memberikan sumber penghidupan yang amat memadai.
Tantangannya, saya selalu terdorong untuk menghasilkan karya yang lebih baik, lebih banyak lagi, serta lebih diterima oleh para pembaca. Tantangan ini membuat saya tidak mau berhenti belajar untuk terus meningkatkan kemampuan menulis. Saya bahkan belajar kepada klien-klien yang saya tangani, yang notabene banyak di antaranya yang baru pertama kali belajar menulis. Setiap pengalaman, peristiwa, atau situasi yang berbeda bisa menjadi inspirasi yang kaya bagi dunia kepenulisan saya maupun proses pengembangan diri saya sendiri.
Keempat, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai salah satu komponen utama dalam proses pengembangan diri saya. Aktivitas menulis tidak akan lepas dari proses belajar. Dan, belajar adalah intisari proses pengembangan diri. Maka, jika kita belajar atau sedang menulis, maka sesungguhnya kita sedang mengembangkan atau mengaktualisasikan potensi-potensi dalam diri kita, supaya kemudian ada progress dalam kehidupan kita.
Saya temukan bahwa ketika kita menulis, sejatinya—dalam bahasa Stephen R. Covey—kita sedang mengembangkan realitas kita. Dalam menulis pula, sejatinya—dalam bahasa Wallace D. Wattles—kita sedang menjadikan ide mewujud menjadi peristiwa, realitas, atau materi. Makanya, memupuk kebiasaan menulis, dalam pandangan saya, sama saja artinya untuk membuktikan kebenaran teori-teori para penulis-motivator legendaris tersebut.
Hari demi hari saya semakin yakin bahwa menulis merupakan instrumen pengembangan diri yang luar biasa. Sebab, saya alami sendiri, saya temukan, dan saya ikut bersinggungan langsung dalam serangkaian proses perubahan hidup sejumlah orang yang kemudian menjadi penulis. Makanya tidak ada keraguan lagi, manakala kita mulai membiasakan diri untuk menulis, maka satu pintu perubahan hidup sudah ada di depan kita.
Kelima, saya selalu berusaha memublikasikan tulisan-tulisan yang sudah saya selesaikan. Bagi saya, menulis itu ada misinya tersendiri, yaitu untuk menanamkan pengaruh tertentu kepada pembaca. Sementara, hanya tulisan yang “hidup” saja yang bisa mempengaruhi orang. Namun, tulisan baru “hidup” atau “punya nyawa” jika sudah dibaca oleh orang lain. Nah, untuk menghidupkan tulisan atau memberinya nyawa, jalan satu-satunya adalah dengan memublikasikan tulisan tersebut.
Waktu SD dulu, “media” saya untuk memublikasikan tulisan saya adalah buku tulis bergaris, dan pembacanya adalah keluarga sendiri atau teman-teman sekelas. Waktu SMP, pantun saya pernah dimuat di koran mingguan Sinar Pagi Minggu (sehingga “mempengaruhi” seorang mahasiswa untuk berkorespondensi dengan saya he he he…). Waktu SMA, mading (majalah dinding) adalah media ekspresi saya.
Saat kuliah di Yogyakarta, saya mulai dari memublikasikan tulisan di majalah kampus Balairung, surat pembaca di majalah Tempo, sampai kemudian mampu merambah media massa seperti Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Ketika menjadi wartawan, saya sudah tidak lagi dipusingkan dengan urusan mencari wadah untuk publikasi tulisan-tulisan saya.
Kini, saat saya menjalankan profesi sebagai editor, penerbit, dan penulis buku, ruang untuk menghidupkan tulisan itu terasa berlimpah. Tapi, saya pikir saat ini semua penulis atau siapa pun yang baru belajar menulis, sesungguhnya mempunyai ruang berlimpah untuk memublikasikan tulisannya. Kita bisa lirik mailing list, blog, maupun website umum yang relevan serta memang mau menampilkan tulisan kita.
Prinsip yang saya tekankan kepada semua penulis, yang terpenting adalah jangan sampai menjadikan tulisan kita seperti “mumi”. Tulisan yang diperlakukan seperti “mumi” ini—yang dibungkus, disimpan rapi, atau malah disembunyikan—tidak akan pernah “hidup” dan memberikan pengaruh. Jadi, beri nyawa pada tulisan kita dengan memublikasikannya.
Apakah hanya lima kebiasaan ini saja? Ya, karena diminta lima kebiasaan, jadi yang saya tulis ya lima saja he he he… Mungkin ada yang lain, tapi saya belum terpikir sama sekali atau malah tidak menemukannya. Yang pasti, hampir semua penulis sukses memiliki kebiasaan yang umum alias standar, tapi ada juga kebiasaan-kebiasaan yang unik atau khas. Namun, semuanya bermuara pada hasil atau prestasi yang mereka raih.
Bagi sahabat saya yang menanyakan soal kebiasaan-kebiasaan menulis saya ini, saya tekankan bahwa yang terbaik adalah menemukan dan menumbuhkan kebiasaan sendiri. Artinya, boleh saja kita berkaca pada sekian banyak kebiasaan penulis sukses. Tapi, itu semua hanya “makanan tambahan” alias inspirasi saja bagi proses kreatif kita. Jadi, kalau bermaanfaat, ya ambil, kalau malah jadi beban, ya tinggal saja. Sebab, yang lebih penting adalah menemukan kebiasaan sendiri, yang paling efektif dan paling disukai. Karena, muara kita tetap pada produktivitas dan kualitas karya.
Selamat menumbuhkan kebiasaan menulis yang terbaik. Dan, salam bestseller.[ez]

BAGAIMANA PENULIS BERPIKIR ALA PENERBIT?

Belum lama berselang seorang penulis buku dan pembaca seri artikel Write & Grow Rich di Pembelajar.com bertanya kepada saya soal cara menguhubungi penerbit. Penulis buku ini baru saja menyelesaikan naskah yang menarik dan diyakininya akan menjadi gebrakan khusus dalam dunia perbukuan. Kalau tidak salah, buku ini dia prediksi akan disambut baik oleh pasar karena belum pernah ada buku dengan format seperti yang dia gagas. Dengan catatan: itu akan terjadi apabila ide-ide dia untuk sekaligus membidani atau menjadi sutradara penerbitan buku tersebut diamini oleh pihak penerbit.
Hal semacam ini memang jamak terjadi. Saya juga baru saja menerima naskah dari seorang konsultan, yang bermaksud menerbitkan bukunya dalam format tertentu. Hampir sama dengan penulis di atas, konsultan ini menginginkan bukunya diformat sedemikian rupa sehingga bisa membawa dampak positif bagi karirnya sebagai konsultan. Selain itu, ia berharap supaya tampilan bukunya tampak lebih anggun, tidak terkesan murahan, dan punya pengaruh di kalangan profesional di mana dia berkecimpung selama ini.
Sekali lagi, harapan penulis buku seperti itu memang sah-sah saja. Saya sendiri pada awal-awal menekuni dunia penulisan buku, juga suka punya pandangan-pandangan dan harapan seperti tadi. Saat itu, saya selalu punya keyakinan penuh bahwa ide-ide sayalah yang terbaik dan sungguh-sungguh saya percayai akan memberi hasil terbaik pula. Namun, bersamaan dengan semakin banyaknya informasi yang bisa saya timba, langsung dari para penerbit dan editor senior, pengalaman sendiri sebagai penulis dan penerbit, termasuk pengalaman sejumlah penulis buku laris, saya mulai punya perspektif yang lebih lengkap.
Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa penting bagi seorang penulis untuk bisa berpikir ala penerbit, terutama penerbit komersil. Sama seperti polisi yang ingin sukses menangkap seorang kriminal, polisi itu harus tahu cara berpikir atau logika orang yang dia buru. Jika tidak, bisa-bisa si polisi itu hanya mengejar angin, karena salah asumsi dan hanya menduga-duga ke mana si kriminal bersembunyi.
Nah, bagaimana penerbit berpikir terhadap setiap naskah buku yang dia terima? Bagaimana penerbit berpikir mengenai buku yang dia produksi? Inilah kisi-kisi logika penerbit bila dikaitkan dengan pasar:
Pertama, penerbit komersil tidak mau menerbitkan karya yang dia prediksi bakal jeblok di pasar. Penerbit hanya mau menerbitkan karya yang bermutu dan mendatangkan keuntungan. Dalam bahasa Wandi S. Brata (GM Produksi Gramedia Pustaka Utama), buku yang tinggi mutunya dan diprediksi bakal laku keras di pasaran adalah primadona penerbit. Naskah akan langsung dapat “lampu hijau” (baca artikelnya di: http://www.gramedia.com).
Mengapa demikian? Sebab, penerbitan buku adalah sebuah bisnis, sebuah industri, yang mana berlaku pula hukum-hukum ekonomi dan pasar. Jadi, dengan segala kemampuan teknis dan pengalamannya, biasanya penerbit akan berusaha keras mendapatkan naskah-naskah bermutu yang mereka prediksi akan sukses di pasaran.
Bagaimana dengan buku yang bermutu namun tampak kurang menarik di pasaran? Buku seperti ini pasti kena “lampu kuning”. Namun, memang ada sebagian penerbit yang bersedia menerbitkan naskah-naskah semacam ini. Terlebih bila naskah tersebut sesuai dengan visi, misi, dan nilai-nilai idealisme penerbit (ingat, tidak semua penerbit komersil mengabaikan sisi nilai dan idealisme). Akan tetapi kita harus sadar sejak awal, ruang untuk penerbitan buku jenis ini tidaklah lebar. Prasyarat mutu, kompetensi, kredibilitas dan popularitas penulis, barangkali akan semakin dituntut penerbit. Sementara persetujuan atau percepatan proses penerbitannya hanya bisa didapat manakala si penulis mampu meyakinkan idealismenya kepada penerbit, dan pihak penerbit pun harus merasa satu visi dengan si penulis.
Kedua, penerbit suka sekali naskah yang mudah atau sudah siap diproduksi. Maksudnya, jangan sekali-kali memasukkan naskah yang masih mentah, belum lengkap, atau amburadul editingnya. Ini akan membebani penerbit dengan cost tertentu serta memperlambat proses kerja mereka. Khususnya penerbit-penerbit besar dan mapan, setiap bulannya mereka bisa menerima ratusan naskah. Namun, tidak semua naskah tersebut siap diproduksi akibat kekurangan-kekurangan yang saya sebut tadi. Alhasil, hanya naskah yang mudah dan siap produksi saja yang biasanya dipilih.
Itu sebabnya, saya selalu menyarankan kepada para penulis buku maupun klien yang berkonsultasi kepada saya, untuk sabar dalam mempersiapkan naskahnya. Lebih baik mengalokasikan waktu yang cukup untuk merapikan dan melengkapi naskah, ketimbang mengirim naskah apa adanya. Dari sekian banyak kasus yang saya tangani, penerbit benar-benar menyukai naskah yang sudah lengkap, rapi, mudah dan siap diproduksi. Jadi, bila kita ingin naskah kita mudah masuk atau diterima penerbit, berpikirlah sebagaimana penerbit akan memandang dan memperlakukan naskah tersebut. Jangan percaya dengan pandangan bahwa asal naskah kita kualitasnya bagus, otomatis penerbit akan mau berlelah-lelah untuk memprosesnya.
Ketiga, tak peduli penerbit besar maupun kecil, mereka lebih menyukai naskah-naskah buku yang ditulis oleh para penulis yang punya branding yang kuat. Gampangnya, penerbit suka dengan nama-nama yang populer karena ini punya efek terhadap promosi buku yang nantinya akan mereka produksi. Jadi, jangan berkecil hati bila penulis-penulis beken atau yang punya nama, atau tokoh-tokoh non-penulis yang populer sekali yang memnyusun buku, pasti dapat tempat.
Lalu, bagaimana dengan kita yang belum punya branding tertentu? Ya, mulailah mem-branding diri dengan aktif menulis di berbagai media atau saluran. Masuk media massa lebih strategis. Kalau pun belum bisa, masuki dunia internet dengan aktif di website-website populer atau membuat blog. Pokoknya, minimal kalau kita klik Google nama kita ada di sana.
Keempat, penerbit suka dengan penulis yang mau bahu-membahu menjual atau mempromosikan bukunya bersama penerbit. Sebab, anggaran penerbit untuk mempromosikan buku biasanya terbatas. Maklum, mereka banyak menerbitkan buku. Makanya, mereka pasti suka dengan penulis yang mau mempromosikan atau bahkan beriklan di media massa.
Jadi, jika kita memiliki kemampuan untuk mempromosikan buku kita nantinya, baik melalui iklan, promosi seminar, mailling list, iklan di website atau blog pribadi, termasuk melakukan penjualan langsung, sampaikan saja itu semua ke penerbit. Ini benar-benar disukai penerbit.
Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan kita yang memiliki keterbatasan resourches untuk memenuhi pikiran-pikiran penerbit tersebut? Kalau logika mereka seperti itu, bagaimana dengan misi-misi idealisme penerbit? Apakah sudah hilang sama sekali?
Jawaban saya, kita punya banyak pilihan penerbit. Memang, kebanyakan penerbit mapan akan menggunakan logika tersebut dalam menerima naskah. Maklum, ini juag semacam sistem seleksi untuk memudahkan cara kerja mereka serta untuk mendapatkan hasil maksimal. Lagi-lagi ingat, mereka adalah institusi bisnis yang menjadikan profit sebagai kiblatnya.
Namun, tidak semua penerbit memiliki logika semacam itu. Tak sedikit penerbit yang sungguh-sungguh idealis dan mau berlelah-lelah untuk mempertimbangkan naskah bagus, tapi masih memiliki sejumlah kekurangan. Walau begitu, saya tetap punya keyakinan, bahwa penerbit idealis sekalipun pasti lebih senang bila para pemasok naskahnya mau berpikir ala penerbit komersil.[ez]

FAST BOOK!

“Betapa pun buku how to acapkali ‘dicaci’, ia pun tetap banyak dicari. Secara lugas, kehadiran buku genre ini menunjukkan bahwa problema manusia modern harus dicarikan solusi yang praktis.”
~ A.M. Ali Hisyam
(Pustakawan & Editor)
Apa artinya fast book? Ini istilah rekaan saya sendiri yang artinya kurang lebih adalah buku cepat saji. Mirip dengan istilah fast food atau makanan cepat saji. Fast book atau buku cepat saji sebenarnya hanyalah julukan untuk buku-buku saku (pocket book) yang tidak terlalu tebal, isinya ringan, populer, mudah dimengerti, dapat dibaca ‘sekali duduk’, dan harganya cukup miring. Buku cepat saji ini biasanya seukuran novel, yaitu ukuran 11×18 cm (paling banyak dipakai), 10,5×17 cm, 10×14,5 cm, 11×15,5 cm, atau 14×16 cm. Ciri lain dari buku cepat saji ini adalah fokus pada satu tema tertentu. Gaya penyajiannya populer, namun padat dan ringkas. Kebanyakan buku-buku cepat saji ini merupakan buku jenis how to, motivasi, self-help, kumpulan tulisan, keagamaan, kata-kata bijak, atau tema-tema spesifik lainnya.
Yang menarik adalah fakta bahwa banyak sekali buku cepat saji yang laris manis di pasaran. Ini ditunjukkan dengan gejala larisnya buku-buku panduan, buku keagamaan, dan buku-buku motivasi yang diluncurkan dalam format seperti ini. Contohnya, buku best-seller karangan Hermawan Kartajaya berjudul Marketing Yourself. Juga buku-buku best-seller karangan Anand Krishna, Andrias Harefa, Moamar Emka, Safir Senduk, Iip Wijayanto, Paulus Winarto, dan juga kedua buku best-seller saya, semua tampil dalam format buku cepat saji.
Dan, ada satu fakta menarik di sini. Gradien, salah satu penerbit baru dari Yogyakarta, ternyata sangat sukses dengan format ini. Hampir semua buku yang diterbitkan Gradien mengambil format buku cepat saji dan lebih dari 90 persen di antaranya mengalami cetak ulang. Cerita sukses serupa dialami juga oleh banyak penerbit Islam di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, yang menerbitkan buku-buku panduan islami. Salah satunya adalah MQ Publishing di Bandung, yang 70 persen buku-buku saku terbitannya menjadi best-seller. Format fast book benar-benar menjadi alternatif bagi penerbit. Selain keunggulan yang disebutkan di atas, buku cepat saji meringankan penerbit karena lebih murah biaya cetaknya, tidak terlalu makan tempat di gudang, plus lebih enteng timbangannya sehingga meringankan biaya ekspedisi.
Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari format buku cepat saji ini. Hanya saja, dengan ciri-ciri sebagaimana saya sebutkan di atas, ternyata format ini berhasil menembus dominasi format buku yang lebih besar. Dari pengamatan saya, ternyata ada faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi minat beli dan minat baca konsumen buku. Semisal, saya seringkali mendapati komentar bahwa buku cepat saji memang mudah dibawa ke mana-mana, bahasanya relatif mudah dipahami, cepat selesai kalau dibaca, dan biasanya miring pula harganya. Memang, ada buku-buku cepat saji yang dipasang dengan harga cukup tinggi, tapi itu bukan arus besarnya.
Berbeda dengan buku-buku tebal (biasanya terjemahan) yang mengambil ukuran 14×23 cm atau 15×24 cm. Buku-buku besar dan tebal ini biasanya membahas tema-tema dengan sangat dalam, banyak teorinya, lengkap datanya, dan langsung menimbulkan kesan sangat serius. Sekalipun temanya menarik, banyak orang yang saya temui berkomentar, “Wah… bukunya tebal banget…!”, “Berat juga baca buku setebal ini…!”, “Nanti kalau pas libur saja bacanya….” Apakah kesan yang saya tangkap itu hanya ada pada segelintir orang atau pada kebanyakan orang, saya tidak tahu. Yang pasti, banyak pula rekan penggemar berat buku sekalipun, yang sering gagal merampungkan bacaannya dalam waktu singkat. Alasannya klise tapi nyata, baca buku-buku berat dan tebal ini butuh banyak energi dan waktu.
Nah, bagi kita yang ingin membuat buku praktis, apalagi bila menulis buku merupakan pengalaman pertama, format buku cepat saji bisa menjadi alternatif. Alasan utamanya karena sifat pembuatannya yang relatif lebih mudah dibandingkan buku-buku masterpiece umumnya. Mengapa dikatakan lebih mudah? Dilihat dari sisi ketebalan halaman, sifat bahasanya yang ringan dan populer, serta fokusnya pada tema-tema yang spesifik, buku cepat saji memang relatif mudah dan lebih cepat ditulis. Ini dibuktikan dengan produktivitas penulis-penulis best-seller seperti yang saya sebutkan di depan.
Saya pernah membaca draft buku yang ditulis seorang profesional yang sangat padat kegiatannya. Tampaknya, profesional ini ingin sekali membuat sebuah karya yang lengkap dan menyeluruh pada kesempatan pertama. Sayangnya, antara keinginan membuat masterpiece dengan waktu yang dialokasikan untuk menulis tampaknya kurang sinkron. Akibatnya, draft buku itu tidak tergarap dengan baik dan terkesan hanya berisi kumpulan kutipan dari berbagai literatur atau seminar-seminar yang pernah diikutinya. Banyak tema-tema besar dan materi penting yang akhirnya hanya dibahas sekilas saja. Padahal, jika satu tema saja dibahas secara mendalam, maka tema itu sudah layak dijadikan buku tersendiri.
Beberapa kali saya menangani klien yang sangat sibuk sekaligus ingin menulis buku masterpiece dalam waktu singkat. Pengalaman menunjukkan, buku-buku masterpiece membutuhkan waktu pengumpulan bahan, data, dan penulisan yang sangat panjang. Bahkan, penulisan buku-buku seperti ini membutuhkan dedikasi, energi, dan curahan biaya yang tidak kecil. Solusi dari problem seperti ini jelas, yaitu mereka harus membentuk sebuah tim penulis yang bisa membantu mereka untuk mengumpulkan bahan-bahan dan data yang dibutuhkan.
Solusi lain, biasanya saya menyarankan agar tema buku masterpiece dipecah-pecah dan masing-masing pecahan tema itu ditulis dalam format buku cepat saji. Beberapa kali terbukti teknik ini membantu orang-orang sibuk yang ingin menulis buku. Semisal, saat saya menangani klien-klien pembicara publik yang sering melakukan seminar-seminar dengan beragam topik menarik. Dari semula menginginkan sebuah buku masterpiece, akhirnya mereka tertarik untuk membukukan tema-tema seminarnya dalam format buku cepat saji. Alhasil, di tengah-tengah kesibukan yang sangat menyita waktu, mereka tetap berhasil menyusun buku-buku cepat saji dalam waktu relatif singkat.
Satu hal yang sering terlupakan oleh kita bahwa dalam setiap artikel, kolom, materi presentasi, seminar, diskusi, ceramah, dan artikel wawancara kita, sesungguhnya terkandung potensi bagi lahirnya sebuah buku. Kalau bukan potensi menjadi buku masterpiece, minimal ada kandungan buku format cepat saji. Sayang sekali jika potensi tersebut tidak diwujudkan dalam bentuk buku. Ingat, buku cepat saji yang bagus pasti mendapat tempat di hati masyarakat dan tentu saja membawa banyak manfaat bagi si penulis.
Pada saat menulis buku ini, saya sedang menangani seorang klien yang mempunyai layanan konsultansi lengkap dengan produk-produk seminar. Hebatnya, topik-topik seminarnya sangat beragam, semuanya menarik, dan terbukti diminati publik. Saya membantu klien ini untuk mengeksplorasi ragam dan kekayaan bahan tulisan yang dia miliki. Lalu, saya perkenalkan format fast book, serta saya tunjukkan betapa banyak potensi buku yang bisa dia garap dalam setahun ini. Menyadari potensi yang besar itu, klien ini akhirnya memilih untuk menulis beberapa buku cepat saji. Bukan itu saja, dia juga berkeputusan untuk membuat independent publishing yang diproyeksikan akan menopang bisnis konsulting yang dibangunnya. Pilihan yang cerdas bukan?[ez]
Catatan: artikel ini merupakan bagian dari buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller yang sedang memasuki tahap cetakan ketiga (edisi revisi).
MENGHINDARI KELEMAHAN BUKU KUMPULAN TULISAN
Seri Artikel Write & Grow Rich
Dalam Bab 6 buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), secara khusus saya bahas soal kelebihan format buku yang berasal dari kumpulan tulisan atau artikel-artikel pendek. Selain relatif mudah disusun dan lebih instan sifatnya, format ini juga sangat membantu para penulis yang tidak punya keleluasaan waktu dalam menuangkan gagasan. Format ini pun bisa jadi alternatif yang pas bagi para penulis pemula.
Dan memang, tak sedikit contoh buku kumpulan tulisan yang ternyata mampu sukses di pasaran. Sebut misalnya buku-buku Andrias Harefa, Renald Kasali, Gede Prama, Bondan Winarno, Hermawan Kartajaya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Rasanya, hampir semua kolumnis di media massa punya buku jenis kumpulan tulisan.
Kedua penerbitan saya—yang baru saya rintis dalam dua tahun terakhir ini—pun berhasil menerbitkan sejumlah buku motivasi yang berasal dari kumpulan tulisan. Sebut misalnya buku Psikologi Duit (Rab A. Broto), Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang (Didik Darmanto), Rahasia Sukses Terbesar (Jennie S. Bev), dan Anda Luar Biasa!!! (Eni Kusuma). Boleh dikata, rata-rata buku tersebut mendapat sambutan yang lumayan bagus di pasaran. Ini menandakan bahwa potensi pasar untuk buku kumpulan naskah itu lumayan.
Belakangan, penerbitan saya juga menerima pengajuan beberapa naskah yang berasal dari kumpulan tulisan. Banyak ragam tema artikel di dalam naskah tersebut. Untuk sebuah naskah buku kadang bisa berisi antara 30-40 tulisan atau artikel, kadang malah lebih. Tema yang diangkat memang beragam, bahkan kadang agak berjauhan satu sama lain. Tapi, karena tulisan-tulisan tersebut umumnya pernah dipublikasikan di suatu media, kualitas tata bahasa dan editingnya terbilang lumayan.
Namun, saya temukan beberapa kelemahan tipikal dalam naskah-naskah jenis ini. Pertama, tema yang terlalu beragam. Ini merupakan akibat dari konstruksi awal tulisan-tulisan tersebut, yang biasanya memang tidak ditujukan untuk disusun menjadi buku. Penyusunan kumpulan tulisan itu menjadi buku di kemudian hari, umumnya dilatari oleh kesadaran bahwa ada ide-ide bermanfaat yang perlu dilestarikan.
Kedua, pembahasan yang terkesan instan dan kurang mendalam di setiap tulisan. Tak bisa dimungkiri, banyak tulisan atau artikel pendek di media massa itu lahir karena proses berpikir dan refleksi spontan atas suatu masalah yang sedang menghangat. Konstrain waktu sering membuat penulis sulit menghasilkan tulisan yang lebih komprehensif. Di sisi lain, artikel harus segera ditulis karena “kehangatan” suatu isu tidaklah bertahan lama.
Ketiga, akibat memencarnya tema atau topik yang dibahas, naskah menjadi kehilangan kekhasan atau keunikannya. Gagasan utama dalam naskah menjadi tidak fokus pada satu titik dan ini membuat naskah terasa mengambang. Naskah yang mengambang atau tidak berkarakter pasti akan kehilangan kekuatan dan daya tariknya, baik di mata calon penerbit maupun pembaca umumnya.
Para penulis yang personal brand-nya bagus (seperti saya sebut dimuka), kadang relatif bisa “berkelit” dari tiga kelemahan tipikal tadi. Karena pengalaman dan kepiawaian dalam membuat tulisan, maka kelemahan-kelemahan yang saya sebut tadi bisa ditambal oleh personal brand mereka. Kualitas tulisan mereka pun biasanya memang tidak bisa diabaikan. Maklum, tatarannya adalah pakar yang sudah diakui masyarakat. Makanya, tidak ada penerbit yang keberatan menerbitkan naskah kumpulan tulisan itu menjadi buku.
Ini beda dengan naskah kumpulan tulisan karya para penulis pemula, atau misalnya para kolumnis yang belum punya nama atau lemah personal brand-nya. Entah mengapa, kelemahan dan kekurangan terasa begitu muda dilihat oleh penerbit. Lain soal bila si penulis pemula itu punya latar belakang yang cukup unik. Semisal, kasus Eni Kusuma yang menulis buku motivasinya selagi menjadi TKW di Hong Kong. Penerbit mana pun—asal jeli melihat peluang—pasti mau menerbitkan karyanya. Terbukti, buku Anda Luar Biasa!!! karya Eni yang awalnya dicetak 3.000 eksemplar itu sudah cetak ulang pada bulan kedua sebanyak 5.000 eksemplar.
Nah, apa solusi bagi para penulis yang tidak memiliki “investasi” personal brand yang siap dipanen atau latar belakang yang unik? Saya ada beberapa saran yang saya sarikan dari pengalaman sendiri maupun sahabat-sahabat penulis sukses lainnya sebagai berikut.
Pertama, biasakan untuk menulis artikel pendek dalam koridor-koridor tema yang berpotensi menjadi buku atau kita proyeksikan jadi buku. Contoh, suatu saat kita ingin membuat buku motivasi, keuangan, atau wirausaha. Maka, sejak awal biasakan untuk selalu menuliskan artikel-artikel yang sejalur, senafas, dan memerinci gagasan-gagasan pada tema-tema motivasi, tema keuangan, atau tema wirausaha tersebut.
Lalu, kurangi atau kalau bisa hindari saja menuliskan artikel di luar tema-tema tersebut. Kalau pun hasrat menulis itu tak bisa direm, anggap saja penulisan di luar koridor tema yang kita tetapkan itu sebagai “rekreasi penulisan”. Siapa tahu minat kita berkembang, dan itu bisa menjadi tema garapan berikutnya?
Yang penting, upayakan untuk bisa fokus pada pilihan tema. Ini penting diperhatikan oleh para penulis generalis atau kolumnis yang tertarik menulis apa saja, asal tulisan itu bisa menjadi sarana mengaktulaisasikan diri.
Kedua, setelah menetapkan koridor-koridor tema, beranikan pula untuk menyusun butir-butir (pointers) topik yang hendak ditulis menjadi artikel. Syukur-syukur kalau bisa membuat outline buku sekalian. Jangan hiraukan apakah butiran-butiran topik itu jadi ditulis atau tidak. Yang penting, ketika kita sedang dalam kondisi berlimpah ide (flow), inventarisir saja topik-topik itu supaya tercatat dan terdokumentasi. Manakala kita butuh topik yang hendak ditulis dan relevan dengan situasi atau peristiwa yang sedang menghangat, kita tinggal menuliskannya.
Tak kalah penting, arahkan butiran-butiran ide artikel tersebut dalam suatu alur yang memfokus pada tema besar calon buku kita. Kalau kita tidak terbiasa mengorganisasikan gagasan, ini lumayan menantang untuk dilakukan. Tapi, tetap upayakan untuk bisa membawa butiran-butiran ide tersebut—termasuk proses penulisannya—dalam koridor tema besarnya. Langkah ini akan sangat membantu manakala kita harus mengedit ulang tulisan-tulisan dijadikan buku yang utuh.
Lalu, bagaimana dengan penulis yang sudah menuliskan puluhan atau bahkan ratusan artikel, namun tidak mempersiapkan diri seperti yang saya sarankan di atas? Saya juga punya saran—yang moga-moga saja ada manfaatnya.
Pertama, lakukan penyortiran artikel atau tulisan pendek sejeli dan seteliti mungkin. Hanya pilih tulisan yang benar-benar berkualitas dan mengandung gagasan-gagasan segar. Jangan tergoda untuk hanya menambah banyak jumlah tulisan, tapi mengabaikan relevansi atau benang merah secara keseluruhan. Satu saja muncul tulisan yang tidak relevan, maka itu bisa menjadi biang kelemahan naskah kita.
Kedua, fokuskan pada satu tema yang spesifik. Karena, ini akan menjadi kekuatan naskah kumpulan tulisan serta memudahkan kita dalam memolesnya. Terlebih bila proyeksinya adalah fast-book (buku cepat saji), jangan memperlebar temanya.
Memang ada juga buku kumpulan tulisan yang terdiri dari beberapa bagian—di mana setiap bagiannya berisi tulisan-tulisan yang dikelompok-kelompokkan—sambil tetap berusaha mempertahankan keterhubungan antar-bagiannnya. Ini boleh-boleh saja. Asal, tulisan-tulisan dalam setiap bagian itu tetap bisa memfokus pada tema besar yang terjaga spesifikasinya.
Ketiga, daripada memaksakan relevansi naskah dengan membuat beberapa bagian dan memperbanyak jumlah tulisan yang disertakan, lebih baik memecahnya menjadi beberapa naskah yang lebih fokus. Artinya, kita bisa punya beberapa naskah buku dari yang semula hanya satu naskah buku.
Ini contoh naskah yang baru saja masuk ke penerbitan saya. Naskah kumpulan tulisan ini berisi 46 artikel dan terbagi dalam tiga bagian: 1) Baca-Buku-Tulis (11 tulisan), 2) Pendidikan-Kurikulum-Belajar (19 tulisan), dan 3) Motivasi-Cerdas-Kreatif-Siswa (16 tulisan). Kalau diterbitkan, naskah ini akan menjelma menjadi buku yang cukup tebal. Sayangnya dari sisi tema, naskah ini terlalu melebar. Akan lebih strategis bila naskah ini dipecah saja menjadi tiga naskah buku dengan memperhatikan langkah selanjutnya.
Keempat, setelah memecah naskah yang melebar menjadi naskah yang lebih fokus, lakukan pengayaan atau elaborasi. Teliti ulang setiap tulisan dan cari kelemahan maupun kekuatannya. Perhatikan betul-betul apakah gagasan-gagasan yang kita ungkap itu unik dan baru, atau malah sering diungkap oleh banyak penulis sebelumnya. Pikirkan pula apakah tulisan itu masih bisa lebih dielaborasi lagi dengan beragam contoh yang aktual.
Bila perlu, tambahkan tulisan-tulisan baru yang mampu menambah kelengkapan, kefokusan, maupun kekomprehensifan naskah. Cari pula peluang untuk menambah kekuatan naskah kita dibanding naskah-naskah yang sudah ada. Pendek kata, sekalipun tema naskah kita mungkin sama atau pernah digarap penulis lain, kita harus mampu menyusun naskah baru yang memiliki kelebihan maupun kekuatan tersendiri.
Kelima, buat judul baru yang fokus pada tema serta memiliki efek-efek promosional tinggi. Bila perlu, lakukan survei atas pilihan judul yang dirumuskan. Khusus untuk teknik membuat judul, saya sudah bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Terpenting di sini, jangan serta merta menjadikan judul bagian pada naskah sebelumnya menjadi judul naskah yang baru hasil pemecahan.
Nah, melalui langkah-langkah yang saya sarankan di atas, semoga Anda para penulis generalis, penulis artikel opini, kolumnis, atau penulis pemula, sudah mulai dapat menata strategi penulisan. Bagi Anda yang sudah mempunyai stok tulisan bejibun dan tinggal memanen hasilnya, semoga pula saran-saran saya ini bisa membantu Anda bersiap sebelum memasukkan naskah ke penerbit. Tetap semangat menulis, sukses untuk kita semua, dan salam best-seller.[ez]

8 LANGKAH MUDAH MEMBUAT PENERBITAN MANDIRI

Salah satu pertanyaan yang sering dilayangkan kepada saya adalah soal bagaimana membuat self-publishing atau independent publishing. Self-publihsing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri. Sementara, independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independen, yang menerbitkan karya-karya sendiri maupun karya orang lain. Tak jarang, sebuah penerbitan umum yang berkembang semula diawali dari self/independent publishing.
Seperti saya singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, salah satu tren perbukuan ke depan adalah maraknya pendirian penerbitan mandiri ini. Mengapa? Ya, karena sekarang membuat penerbitan sendiri sudah sedemikian mudahnya. Selain itu, banyak manfaat yang bisa diambil, selain juga potensi bisnisnya yang lumayan. Saya pun mendapati bahwa minat para penulis untuk membuat penerbitan mandiri ternyata cukup lumayan. Klien-klien saya sendiri juga banyak yang berminat dan akhirnya mendirikan penerbitannya sendiri.
Nah, bagi Anda yang ingin mencoba membuat self-publishing atau independent publishing, saya coba memadatkan segala tetek-bengek pembuatan penerbitan mandiri ini ke dalam delapan langkah berikut.
Pertama, siapkan naskah yang siap terbit dan memenuhi kriteria atau anjuran-anjuran sebagaimana saya tulis dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005). Naskah siap terbit artinya naskah yang sudah tersunting secara rapi dan lengkap (lihat artikel “Bagaimana Melengkapi dan Mengamankan Naskah Buku?”). Naskah yang sudah rapi dan lengkap akan memudahkan proses penerbitan buku. Sementara, naskah yang tidak lengkap dan rapi bisa sangat merepotkan.
Untuk Anda yang ingin benar-benar mendapatkan manfaat finansial dari ‘petualangan penerbitan’ ini, saya anjurkan supaya benar-benar memilih naskah buku yang berpotensi untuk laku keras. Atau, akan jauh lebih baik lagi bila naskah itu berpotensi menjadi buku best-seller. Apa ciri-cirinya? Saya sudah bahas lengkap dalam artikel-artikel atau buku saya sebelumnya. Kecuali Anda memiliki misi khusus dengan penerbitan naskah tertentu, maka soal laku atau tidak laku memang tidak terlalu memusingkan.
Kedua, siapkan modal yang cukup untuk mencetak dan mempromosikan buku. Perkiraan saya, jika kita bisa efesien sekali dalam proses penerbitan ini, maka dengan modal sekitar Rp15-30 juta kita sudah bisa menerbitkan buku fast book atau buku ukuran 14 x 21 cm dengan rata-rata ketebalan antara 150-200 halaman dan oplah mencapai 3.000 eksemplar. Di sejumlah kota seperti di Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya, kadang dengan modal di bawah Rp10 juta pun bisa jalan dengan jumlah cetak yang lebih sedikit.
Nah, sebagian orang tidak bermasalah dengan modal. Klien-klien saya, terutama yang datang dari lembaga konsultan, perusahaan, atau pembicara publik, biasanya tidak menemui kesulitan soal modal penerbitan. Sementara, bagi sebagian lagi amat bermasalah alias sulit mendapatkan modal. Saya lihat, tak sedikit penulis yang memanfaatkan royalti bukunya untuk memodali dan mengawali penerbitan mandiri mereka. Saya sendiri termasuk yang menempuh jalan ini. Sebagian lain ada yang patungan dengan rekan-rekannya. Prinsipnya, asal ada naskah yang bagus potensi pasarnya, maka modal pasti tidak sulit didapat.
Ketiga, merumuskan nama penerbitan yang menjual. Bagi saya sendiri, ini merupakan satu tahap yang penting dan sangat menarik. Bagaimana tidak? Membuat nama penerbitan layaknya menciptakan sebuah merek produk. Kita menciptakan identitas yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah institusi. Sementara mereknya sendiri bisa saja berkembang dan memiliki ekuitas yang tinggi. Bolehlah kita berandai-andai suatu saat penerbitan yang kita lahirkan ini akan besar dan mapan sebagaimana penerbitan-penerbitan lainnya.
Maka dari itu, sekalipun kita bebas memilih nama penerbitan, saya anjurkan supaya Anda memilih atau menciptakan nama penerbitan yang memiliki makna tertentu, sekaligus punya nilai jual. Ketika saya melahirkan Bornrich Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan buku yang sifatnya menggerakkan motivasi dan etos ekonomi, dan kemudian berujung pada cita-cita kesejahteraan masyarakat. Ketika saya melahirkan Fivestar Publishing, maka bayangan saya adalah sebuah penerbitan yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat supaya bangkit dan mengejar prestasi terbaik.
Khusus untuk lembaga konsultansi atau yayasan, maka inisial atau singkatan dari institusi tersebut juga bagus untuk dipakai sebagai nama penerbitan. Selain membantu branding lembaga tersebut, koneksitas antara penerbitan dengan lembaga tadi juga terasa lebihs erasi. Semisal, Jagadnita adalah sebuah lembaga konsultasi psikologi yang kemudian mendirikan Jagadnita Publishing. Atau Quantum Asia Corpora, sebuah lembaga konsultansi yang kemudian mendirikan QAC Publishing.
Keempat, menyiapkan desain kaver dan tata letak (lay out). Untuk kedua pekerjaan ini, kita bisa melakukannya sendiri bila mampu, atau dengan menggunakan tenaga desain profesional. Kita bisa memanfaatkan tenaga-tenaga desainer freelance atau mereka yang biasanya bekerja di perusahaan penerbitan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan desainer kaver atau penata letak dengan cara mem-posting pengumuman ke milis-milis perbukuan.
Untuk tata letak buku, biayanya bervariasi tergantung pada ketebalan buku serta ornamen-ornamen di dalamnya. Jika naskah buku kita banyak menggunakan grafik, foto, atau detail ornamen yang rumit, maka biaya tata letaknya bisa agak mahal (standar Rp1.500.000-3.000.000). Sementara, tata letak buku yang hanya berisi teks tidak memerlukan biaya mahal karena relatif lebih mudah dikerjakan (standar Rp750.000-1.500.000).
Soal biaya desain kaver bervariasi, tergantung pada siapa yang mengerjakan dan jenis desain yang dikehendaki. Di Yogyakarta, kita bisa mendapatkan desainer kaver standar dengan fee berkisar antara Rp400.000-800.000. Adapun di Jakarta, fee untuk desain kaver standar berkisar antara Rp600.000-1.200.000. Untuk desain-desain tertentu, biayanya bisa lebih mahal. Saya dengar, seorang desainer kaver buku yang cukup punya nama menetapkan fee sebesar Rp10 juta.
Kelima, urus ISBN dan membuat barcode. Setiap judul buku perlu ‘identitas’ yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN. Jika sudah mendapat nomor ISBN, maka pekerjaan berikutnya adalah membuat barcode buku. Perpustakaan Nasional, tempat kita mendaftarkan ISBN buku kita, juga melayani pembuatan barcode. Tapi, kita bisa buat sendiri barcode dengan menggunakan program Corel Draw, asal sudah mendapatkan nomor ISBN.
Cara mendapatkan ISBN mudah sekali. Kita cukup menyiapkan satu surat permohonan ISBN (ditujukan kepada Kepala Perpustakaan Nasional u.p. bagian ISBN) dengan dilengkapi fotokopi halaman judul buku, halaman hak cipta, daftar isi, dan pendahuluan. Berkas bisa dikirim via pos, faksimili, atau diantar langsung ke Gedung Perpustakaan Nasional RI (lantai 2) di Jalan Salemba Raya 28-A, Jakarta (Telp: 021-3101411 psw 437). Bila kita baru pertama kali menerbitkan buku, maka kita akan diminta mengisi formulir keanggotaan ISBN. Kita akan mendapatkan kartu keanggotaan ISBN dan penerbitan kita tercatat di Perpustakaan Nasional. Pengalaman saya, mengurus ISBN berlangsung cepat, tak kurang dari 15 menit dan hanya membutuhkan biaya administrasi Rp25.000 (tanpa film barcode) untuk setiap judul buku.
Keenam, memilih percetakan yang tepat. Ada banyak jenis percetakan, tetapi pastikan untuk hanya memilih percetakan yang sudah berpengalaman dalam mencetak buku. Jangan pilih sembarang percetakan, terlebih percetakan yang hanya sekali-sekali mencetak buku. Jangan pula tergoda dengan percetakan yang asal murah. Terpenting adalah kualitas cetak dengan harga yang wajar. Ingat, produk buku punya bobot lain dibanding materi-materi cetak lainnya. Kalau kualitas cetaknya buruk, lupakanlah soal kredibilitas, kepercayaan, dan soal brand penerbitan maupun penulisnya.
Jika kita seorang pemula dalam penerbitan buku, usahakan mendapat pelayanan dari staf marketing percetakan tersebut. Pengalaman saya dan klien-klien saya, hampir setiap percetakan yang baik pasti menyediakan staf marketing yang siap melayani kliennya. Berurusan dengan percetakan seperti ini, kita bisa tinggal menyerahkan materi cetak, sementara mereka yang akan mengurus detailnya. Dan untuk amannya, pastikan pula kita bisa bersinergi dengan bagian percetakan dan desainer kaver maupun penata letak isi buku.
Ketujuh, menentukan harga jual buku. Setelah mengetahui biaya cetak dan komponen-komponen biaya lainnya (desain kaver, tata letak, editing, promosi), maka kita sudah bisa memperkirakan harga jual buku nantinya. Bagaiamana rumusannya? Mudah: seluruh biaya produksi dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima, hasilnya adalah harga jual buku kita. Contoh, biaya produksi Rp24.000.000 dibagi jumlah cetak 3.000 eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp8.000) dikalikan lima = Rp40.000. Jadi, harga jual buku kita di toko nantinya Rp40.000.
Formula harga di atas adalah yang paling umum digunakan dan membuat harga buku tetap terjangkau. Yang saya amati, ada pula yang menggunakan bilangan pengali antara 6-7 kali untuk menetapkan harga jual. Akibatnya, harga buku menjadi jauh lebih mahal. Di satu sisi ini menguntungkan penerbit, di sisi lain ini berisiko juga, karena harga yang terlalu tinggi juga mempengaruhi minat beli komsumen. Oleh karena itu, pada kesempatan pertama menerbitkan buku, jangan pernah tergoda untuk melambungkan harga buku. Bila ingin mengunakan angka pengali lebih dari lima, pertimbangkan betul-betul daya serap pasar nantinya. Bila perlu, mintalah masukan dari konsultan penerbitan, distributor, atau toko buku kerena merekalah yang paham soal itu.
Kedelapan, mengadakan perjanjian distribusi dengan distributor. Pada saat naskah buku naik cetak, kita sudah harus mendapatkan distributor buku. Sebab, bila kita sudah mendapatkan distributor buku saat proses pencetakan berlangsung, maka selesai cetak buku itu bisa langsung dikirim ke gudang distributor. Distributor buku adalah salah satu pilar utama bisnis penerbitan, selain toko buku dan penerbit itu sendiri. Sebagai penerbit, bisa saja kita berkeliling dari toko ke toko untuk menawarkan buku kita (konsinyasi atau beli putus). Tapi, untuk menghemat tenaga, menjangkau toko-toko secara nasional, dan mempermudah persoalan administrasi, lebih baik kita menggunakan jasa distributor.
Banyak distributor buku dengan kekuatan maupun kekurangannya masing-masing. Hampir semuanya menggunakan sistem konsinyasi (beli kredit atau pembayaran sesuai dengan jumlah buku yang laku). Ada yang lingkupnya nasional serta menjangkau hampir seluruh toko buku, ada pula yang lingkupnya lokal dan hanya menjangkau toko-toko buku tertentu. Diskon yang diminta oleh distributor (yang nantinya dibagi dengan toko-toko buku) berkisar antara 45-60 persen dari harga jual buku. Soal diskon, kita bisa bernegosiasi dengan pihak distributor dan kemudian kerjasama itu dibuat dalam format kontrak kerjasama pendistribusian.
Nantinya, sebulan sekali kita akan menerima laporan penjualan buku kita. Sementara, jatuh tempo pembayaran bervariasi antara distributor yang satu dengan yang lain. Ada distributor yang sudah bisa membayar dalam setengah bulan, namun ada pula yang baru membayar dua bulan setelah laporan penjualan kita terima. Semua ketentuan itu termaktub dalam kontrak kerjasama.
Pada intinya, delapan langkah itulah yang kita butuhkan untuk mendirikan sebuah penerbitan mandiri. Kedelapan langkah tersebut sudah mencakup persiapan penerbitan hingga peredaran buku ke pasaran. Sebab, begitu buku kita sudah sampai di tangan distributor, maka biasanya seminggu kemudian buku tersebut sudah beredar di toko-toko buku. Sebagai penerbit, kita sudah menyelesaikan satu rangkaian proses produksi atau penerbitan buku.
Dan, begitu buku produksi penerbitan mandiri kita beredar di toko-toko, maka sejak itulah merek penerbitan kita resmi beredar di tengah-tengah khalayak. Tugas kita selanjutnya sebagai penerbit adalah membuat gema promosi dengan berbagai aktivitas supaya khalayak tertarik dan kemudian membelinya.
Tapi, saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apakah membuat penerbitan mandiri itu harus disertai dengan pendirian badan usaha semacam PT atau setidaknya CV? Bagiamana soal pajak dan sebagainya?” Jawaban saya standar saja, tidak selalu. Apabila penerbitan ini formatnya self-publishing atau independent publishing, terlebih bila masih coba-coba menemukan format, mengapa harus di-PT-kan? Langkah itu akan menambah beban biaya lagi, sementara ‘petualangan penerbitan’ belum tentu menguntungkan.
Nah, apabila nantinya penerbitan yang kita bangun itu menguntungkan, bisa memproduksi buku lebih banyak lagi, bisa mempekerjakan beberapa orang, manajemen sudah dirapikan, urusan pajak sudah dipersiapkan dan ditata dengan lebih baik, silakan bentuk badan usahanya. Dunia penerbitan kita banyak diwarnai oleh langkah-langkah semacam ini. Hampir semua penerbit kecil atau independen pada awalnya berusaha memperkuat bisnisnya dulu. Setelah mampu memperkuat basis bisnisnya dengan terus mengembangkan diri, barulah kemudian membakukan penerbitannya dalam sebuah badan hukum dan kemudian memproklamirkan diri menjadi penerbitan umum. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat mendirikan penerbitan mandiri.[ez]

BUKU & KEKUATAN RESENSI MEDIA

Faktanya, tidak semua buku bagus diresensi oleh peresensi. Sebalikinya, tidak semua buku yang mutunya diangga “kurang bagus” tidak diresensi. Banyak peresensi yang menulis kajian bukunya setelah diminta oleh penerbit atau penulis. Sementara, peresensi yang menulis atas inisiatif dan pilihannya sendiri kabarnya tidak terlalu banyak jumlahnya. Kalau saya tidak salah, yang model begini banyak dilakukan oleh teman-teman mahasiswa yang ingin berlatih mengasah kekuatan analisisnya. Plus, mereka yang suka mencari tambahan uang saku. Sebagian lagi dilakukan oleh para kritikus buku yang memang benar-benar sangat mencintai dunia buku dan concern dengan perkembangan dunia perbukuan.
Jika buku yang kita tulis berkategori berat di teori, biografi, karya sastra, kajian-kajian kebudayaan, filsafat, atau buku yang bersifat analisis, maka kita harus berusaha menjadikan buku tersebut menarik perhatian media massa atau peresensi.
Cara paling praktis adalah meniru apa yang dilakukan penerbit umumnya, yaitu meminta seseorang peresensi menulis resensinya untuk buku kita itu. Sebagian penerbit memberikan insentif berupa uang ala kadarnya bagi peresensi yang resensi bukunya dimuat di media massa. Besarnya bervariasi, tapi umumnya tidak terlalu besar.
Tapi perlu diingat pula, penerbit tidak memintakan semua buku yang diterbitkannya diresensi. Jadi, sebagai penulis buku kita harus berani menjual buku kita sendiri kepada peresensi. Jika kita kenal dengan sejumlah peresensi, itu lebih bagus lagi. Kita juga bisa meminta rekan seprofesi atau mereka yang concern dengan kajian buku untuk meresensinya. Kalau kita tidak memiliki kenalan semacam itu, cukup kita hubungi penerbit atau media massa lain untuk meminta daftar nama dan alamat persensi.
Cara lain, kita bisa mengirimkan sampel buku, lengkap dengan surat pengantar, ringkasan isi (sinopsis), beserta pembahasannya, ke sejumlah koran, majalah, tabloid, atau buletin yang relevan dengan isi buku kita. Tidak ada jaminan buku itu akan diresensi. Tetapi, cara ini cukup simpatik untuk mengundang para wartawan atau redaktur buku untuk menulis resensi. Minimal, buku kita masuk dalam daftar buku baru mereka di media mereka.
Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Sindo, Matabaca, Marketing dan Investor Daily adalah sebagian kecil media massa yang menyediakan ruang seperti ini. Untuk pemuatan itu, kita tidak perlu bayar. Memang, media-media berkualitas umumnya menyediakan ruang seperti galeri buku untuk ikut merangsang minat baca masyarakat.
Khusus untuk resensi media ini, adanya para endorser berkualitas dalam buku kita sedikit banyak juga membawa pengaruh. Apabila buku kita di-endorse oleh tokoh-tokoh yang berpengaruh dan relevan, penulis-penulis kenamaan atau penulis best seller, punya personal brand sangat kuat, maka insan media pun relatif lebih mudah untuk diusik minatnya. Tidak ada jaminan memang, tetapi endorsement atau kata pengantar yang bagus dapat menjadi satu titik pembuka bagi minat para peresensi.
Nah, kita juga bisa menemukan nama-nama peresensi buku di sejumlah website yang menyediakan kolom resensi buku. Karena aturan di sejumlah website tidak terlalu kaku seperti di media cetak, maka kita pun bisa berinisiatif mengirimkan ringkasan atau kata pengantar buku, lengkap dengan kaver, data seperti pengarang, penerbit, tahun terbit, ISBN, ukuran buku, jumlah halaman, dan harganya. Jika pendekatan kita cukup simpatik dan buku kita memang layak didiskusikan, mereka tidak akan keberatan memuat resensinya.
Saya harus akui, khusus untuk buku-buku how to memang kurang begitu menarik perhatian peresensi. Sifatnya sebagai buku panduan yang ringan memang sangat menarik bagi pembaca umumnya, tetapi dianggap “kurang berbobot” bagi para peresensi. Jika Anda penggemar atau berencana menulis buku jenis how to, Anda tidak perlu berkecil hati. Biarkan pasar yang menilai karya Anda. Jika buku Anda laris, itulah pengakuan pasar yang sesungguhnya. Buku Anda tidak hidup dari pujian para pengkritik, tetapi dari penyerapan pasar.
Tambahan lagi, jika launching buku kita bagus, brand equity kita juga bagus, otomatis itu akan menarik media untuk membahasnya. Jadi, terus lakukan pendekatan yang simpatik ke semua pihak yang relevan. Itu saja kuncinya.
Pertanyaannya kemudian, apa resensi buku punya dampak bagi penjualan? Jawabnya, punya sekali! Tapi, kadarnya berbeda-beda. Banyak orang menjadikan resensi buku sebagai panduan pertama dalam memilih buku. Resensi juga menjadi semacam “lilin penerang” bagi calon pembaca di tengah ratusan buku lainnya yang terbit pada waktu yang sama.
Sejumlah buku populer yang diresensi di beberapa media bisa mengatrol penjualan buku. Terlebih bila buku tersebut digunjingkan di mana-mana. Bisa-bisa, resensi dan gunjingan itulah yang menjadi daya dorong orang untuk membelinya.
Namun, tak sedikit buku-buku yang sudah diresensi di mana-mana, penjualannya tetap saja seret. Ini bisa terjadi karena segmentasi bukunya yang memang sangat terbatas. Buku-buku humaniora, filsafat, minat khusus serta buku-buku teori umumnya mendapat tempat dalam resensi. Tapi penjualannya biasa-biasa saja karena segmennya yang memang terbatas. Walau begitu, resensi tetap mempunyai kekuatan dalam berbagai bentuknya. Jadi, kalau buku kita berpotensi untuk diresensi dan diapresiasi, mengapa tidak berupaya untuk mendapatkannya? Salam best seller!.[ez]

BOOK LAUNCHING DAN PUBLISITAS

Banyak cara untuk mengundang perhatian media massa dalam acara peluncuran buku. Sebut misalnya peluncuran di toko buku, seminar di hotel-hotel berbintang, di kafe-kafe, klub-klub buku, gedung kesenian, atau di kampus-kampus.
Yang paling umum adalah melalui seminar, misalnya seperti yang dilakukan penerbit Elex Media ketika meluncurkan buku best seller internasional Who Move My Cheese beberapa tahun yang lalu. Sejumlah pembicara dan tokoh ternama diundang untuk membahas, seperti Gede Prama, Indra Gunawan, dan Hari Darmawan dari Matahari Group. Dengan berbagai cara dan gayanya masing-masing, semua tokoh tadi menjadi endorser langsung karena memuja-muji buku tersebut. Hasilnya, buku itu memang benar-benar jadi best seller di Indonesia.
Cara yang lebih kreatif dilakukan oleh Dewi Lestari (Dee)—yang sudah menjadi cerita klasik di dunia perbukuan kita—dalam peluncuran novel pertamanya Supernova. Sebagai self-publisher waktu itu, Dee menggandeng sebuah perusahaan event organizer untuk mengadakan serangkaian peluncuran, diskusi buku, penandatanganan, dan penjualan langsung di sejumlah kampus dan komunitas buku. Diskusi melalui internet pun berkembang demikian marak. Tak ayal lagi, baik media serius maupun media-media pop begitu gencar memberitakan novel tersebut. Meskipun novel-novel berikutnya seperti Akar dan Petir tidak segempar novel sebelumnya, tapi keduanya juga jadi novel best seller. Popularitas Dee sebagai selebritis, jelas punya nilai jual tersendiri.
Dan, salah satu peluncuran buku paling kreatif adalah yang dilakukan oleh Tung Desem Waringin dengan bukunya Financial Revolution. Bukan launching buku di toko atau di seminar-seminar, tapi Tung meluncurkan bukunya dengan menenteng poster kaver buku sambil menunggangi kuda di sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta. Lebih unik lagi, Tung mengenakan baju ala Pangeran Diponegoro, yaitu dengan jubah dan blankon. Peluncuran unik in diliput lumayan panjang lebar oleh sebuah majalah di Ibu Kota. Dan, peluncuran tersebut melengkapi promosi melalui radio dan iklan di surat kabar besar, sekitar sebulan hingga dua bulan sebelum bukunya beredar di pasaran.
Bukan itu saja. Cara yang ditempuh Tung memang beda dibanding peluncuran buku-buku umumnya, bahkan mungkin yang pertama di Indonesia. Tung bekerjasama dengan penerbitnya menjajal cara pembelian inden. Gimmick-nya, pemesan buku (kira-kira sebulan sebelum buku terbit) akan mendapatkan hadiah menarik berupa dua CD audio book (Financial Revolution dan Sales Magic) serta tiket gratis untuk menghadiri seminarnya. Alhasil, peluncuran yang unik, iklan dan promosi yang intensif, serta tawaran-tawaran hadiahnya, membuat buku Financial Revolution terjual 10.115 eksemplar pada hari pertama peredarannya dan langsung masuk catatan Museum Rekor Indonesia (Muri).
Cerita lain datang dari Paulus Winarto yang meluncurkan bukunya dalam sebuah penerbangan pesawat. Dalam kesempatan itu dia mengadakan sebuah seminar motivasi sekaligus meluncurkan bukunya. Karena kreatif dan baru pertama kali dilakukan, maka prestasinya itu dicatat di Muri.
Satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah peluncuran sebuah buku yang dilakukan oleh Dodi Mawardi (editor dan penulis sejumlah buku wirausaha) di atas KRL jurusan Bintaro-Jakarta. Buku yang berisi seribu satu kisah kehidupan di atas kereta api listrik itu diluncurkan dan dijajakan hanya di atas KRL. Jadi, sangat spesial sifatnya. Hebatnya lagi, si penulislah yang meluncurkan dan menjual sendiri bukunya, termasuk menjadi self-publisher.
Memang, tidak banyak penulis buku yang beruntung dibuatkan acara peluncuran buku secara eksklusif oleh penerbit. Pertimbangan-pertimbangan bisnis penerbit berperan dominan di sini, semisal menyangkut kemungkinan buku laris di pasaran, ketersediaan anggaran promosi, atau ada tidaknya sponsor. Jika buku kita diterbitkan oleh penerbit, dan kita yakin buku itu perlu acara peluncuran ke pasar, maka ada baiknya kita mendiskusikan kemungkinan bekerjasama dengan penerbit.
Jika kita menjadi self-publisher dan tidak ada pengalaman dalam penyelenggaraan acara peluncuran buku, ada baiknya kita menggunakan jasa event organizer berpengalaman. Klub-klub buku, kafe, atau forum-forum yang kita kelola sendiri bisa menjadi pilihan. Yang penting, sesuaikan lokasi dan forum dengan target pasar kita. Lebih penting lagi, undang para pembahas yang cakap, peresensi ternama, serta tokoh-tokoh yang bersedia menjadi endorser buku kita. Undang pula para wartawan yang kita kenal dan persiapkan diri untuk wawancara yang mengesankan mereka.
Kalau kita tidak memiliki anggaran untuk peluncuran buku semacam itu, manfaatkan segala macam forum yang relevan dan beraudiens besar. Saya punya pengalaman menarik dengan buku kedua saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah!. Waktu itu, saya diundang oleh sebuah perusahaan yang merupakan klien saya untuk meliput acara konferensi mereka. Seorang pembicara publik dan motivator yang sangat saya kenal dengan baik juga hadir di situ. Tahu bahwa saya akan bertemu dengan beberapa orang penting di forum itu, saya bawa beberapa buku sampel dari penerbit. Lalu, saya berikan buku-buku itu secara spesial kepada mereka.
Di luar dugaan, di tengah-tengah acara utama, saya diundang ke panggung oleh COO perusahaan tersebut untuk diperkenalkan ke audiens. Saya juga diberi kesempatan mempromosikan buku saya itu di hadapan ratusan orang. Kesempatan emas di atas panggung yang hanya dalam hitungan detik itu saya manfaatkan betul untuk secara resmi meluncurkan buku saya. Hebatnya lagi, tuan rumah pun ikut menambah bobot promosinya.
Hari itu sangat bersejarah bagi saya. Karena, sekalipun buku itu belum selesai dicetak dan belum beredar, saya sudah dapat pesanan langsung 350 eksemplar. Nah, 350 eksemplar buku pesanan itu akhirnya jatuh ke tangan para sales force berprestasi dari perusahaan klien saya. Asal tahu saja, para sales force itu masing-masing memiliki jaringan atau grup, sehingga gema buku itu pun semakin membahana. Alhasil, langsung atau tidak langsung, penjualan buku di toko-toko pun ikut terdongkrak. Memang tidak terlalu mendapat publisitas di media massa, tapi hasil penjualan di lapangan toh sangat tidak mengecewakan.
Jadi inti pesannya, jika buku kita diterbitkan, cobalah untuk mengadakan book launching, baik atas dukungan penerbit ataupun usaha sendiri. Mengapa, karena tidak semua buku mendapat biaya promosi yang cukup dari penerbit. Dus, tidak semua penerbit mau atau mampu mengadakannya.
Namun, ada banyak cara dan saluran untuk melakukan peluncuran-peluncuran simbolik, sebagaimana saya contohkan di atas. Cara lain, bisa lewat syukuran kecil-kecilan, diluncurkan melalui mailing list, dengan menyebar press realese ke sejumlah media massa, membuat talkshow di radio, mengadakan wawancara dengan media. Bisa juga dengan membuat forum-forum diskusi, seminar, mengumumkannya saat memberikan kuliah atau mengisi sebuah pidato, dll. Semua saluran bisa digunakan sesuai kemampuan kita. Asal ada audiens, di sana kita bisa melakukan peluncuran buku. [ez]

BRANDING PENULIS & PUBLIKASI MEDIA

Dalam karir jurnalistik saya, tak jarang saya temukan tokoh-tokoh atau pribadi yang enggan atau bahkan agak menghindari wartawan. Perilaku ini wajar mengingat adanya pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan saat berhubungan dengan pers. Semisal, pemelintiran keterangan, wawancara yang memojokkan dan hanya mencari-cari kesalahan, atau yang lebih parah lagi pemerasan oleh wartawan-wartawan gadungan yang tak bertanggung jawab.
Walau begitu, mayoritas yang pernah saya temui adalah para narasumber yang sadar betul akan pentingnya positive public expose sehingga mereka memanfaatkan betul kesempatan wawancara dengan wartawan. Apa yang mereka peroleh dari wawancara itu? Yang utama adalah, peluang menjadi humas, baik bagi institusi maupun diri mereka sendiri.
Sebuah wawancara yang dipersiapkan dengan baik biasanya menghasilkan hasil yang baik pula. Jika kita memperoleh kesempatan diwawancarai oleh wartawan media cetak, televisi, atau wartawan online, kita harus bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Apalagi jika itu merupakan wawancara profil yang eksklusif, bukan wawancara investigatif. Seorang narasumber bisa mengemukakan visi-visi terdalam, gagasan dan pandangannya, serta menyampaikan solusi atas permasalah yang disampaikan. Di sela-sela itu, kesempatan untuk “berpromosi” atau “nge-brand” selalu ada.
Contoh jenis wawancara profil dapat kita temui di harian Kompas,Jawa Pos, Investor Daily, Sinar Harapan, Eksekutif, MARKETING, Prospektif, Kontan, Pengusaha, dll. Untuk televisi, kita bisa dapati dalam banyak acara talkshow. Di sejumlah stasiun radio swasta di Jakarta, tersedia juga acara radio talk yang menarik, seperti yang diadakan oleh Smart FM, Delta FM, 68H, dll. Sementara untuk website, kita dapat temukan seperti di Pembelajar.Com, Tokoh.Com, Islamlib.Com, dan beberapa website lain yang menyediakan rubrik wawancara.
Khusus media online ada kelebihan tersendiri dibanding media lainnya. Hasil wawancara kita dapat terpampang dalam jangka waktu lama. Jika website tersebut ramai pengunjungnya, usia wawancaranya pun lebih panjang dan filenya akan tersimpan di search engine semacam Google atau Yahoo. Berikutnya, sejumlah blogs, mailing list, email pribadi, atau website lainnya juga sangat mungkin ikut-ikutan menampilkan wawancara kita tersebut.

MEMBANGUN BRAND DENGAN BUKU

Suatu kali saya bertemu guru, mentor, dan sahabat saya Andrias Harefa di sebuah seminar yang dibawakan oleh Andrie Wongso. Rupanya, ia sudah mendengar bahwa buku saya Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! jadi bestseller karena masuk cetakan ke-6 hanya dalam 4 bulan peredaran (sekarang sudah cetakan ke-11). “Wah, Edy ini sekarang julukannya penulis buku bestseller lho! Bukan sembarangan dia.. ha..ha..ha..,” canda penulis buku-buku bestseller ini di hadapan rekan-rekan eksekutif lainnya.
Sebagai penulis, terus terang saya merasa amat tersanjung. Saat itu juga saya berpikir, “Wah, saya sudah sah nih menyandang ‘gelar’ sebagai salah satu penulis buku bestseller di Indonesia? Apalagi setelah buku ketiga saya Resep Cespleng Berwirausaha juga laris di pasar…” Dan, ternyata gelar itu nantinya akan menjadi sebuah brand baru bagi karir saya sebagai penulis buku.
Memang, seorang penulis buku perlu sekali membangun reputasi, kredibilitas, popularitas, dan merek diri (personal brand) yang unik. Buku itu sendiri sesungguhnya merupakan alat yang tepat untuk membangun personal brand. Namun, selain branding melalui buku yang menarik dan populer, branding perlu juga dibangun melalui publikasi di berbagai media.
Ada banyak media untuk membangun brand seseorang, di antaranya adalah televisi, koran, majalah, tabloid, buletin, maupun website. Formatnya bervariasi. Di televisi, orang bisa terangkat merek dirinya dengan menjadi host tetap pada acara dengan topik tertentu, diwawancarai dalam event khusus, terlibat dalam talk show, acara konsultasi, dan acara-acara interaktif lainnya.
Andrie Wongso contohnya. Setelah hampir setengah tahun menjadi host pemutaran serial film Sun Tzu di Metro TV, Motivator No.1 Indonesia ini muncul dan dinobatkan sebagai pakar strategi Sun Tzu. Akhirnya, ketika sejumlah institusi bermaksud membuat seminar spektakuler mengenai topik tersebut, nama Andrie Wongso—dengan segala keunikannya—menjadi pilihan pertama.
Di media cetak, artikel atau kolom merupakan medium yang ampuh untuk mencipta, membangun, mengangkat, dan memperkuat merek seseorang. Artikel atau kolom biasanya merupakan wadah yang disediakan bagi para pakar atau mereka yang memang benar-benar ahli di bidangnya. Hermawan Kartajaya, Gede Prama, Renald Khasali, Bondan Winarno, Roy Sembel, Andrias Harefa, Handi Irawan, Safir Senduk, dan banyak lagi pakar lainnya, semua membangun brand melalui artikel-artikel mereka di berbagai media massa.
Andrie Wongso membangun mereknya terutama melalui seminar-seminar motivasi dan siaran rutin di sebuah radio swasta nasional. Anand Khrisna membangun mereknya melalui kursus-kursus meditasi dan berlanjut dengan lusinan buku yang laku di pasaran. Jennie S. Bev, seorang penulis ebook yang berhasil, juga membangun merek dirinya melalui ratusan artikel di media online dan websitenya sendiri. Dan, lihat saja sejumlah paranormal membangun brand melalui rubrik konsultasi di sejumlah media massa.
Pertanyaannya kemudian, apakah orang harus membuat buku dulu baru membangun brand secara simultan, ataukah menunggu brand kuat dulu baru kemudian menulis buku? Keduanya sah-sah saja. Sekali lagi, membuat buku sejatinya merupakan medium untuk mencipta, membentuk, membangun, mengembangkan, sekaligus memperkuat brand. Banyak konsultan menggunakan buku sebagai alat untuk mengembangkan brand. Anda yang berhasil, ada yang sangat berhasil, namun ada pula yang sedikit saja berhasil atau malah gagal sama sekali.
Namun, ada tak sedikit pula kasusnya dibalik. Ada sejumlah tokoh yang membentuk, membangun, mengembangkan, sekaligus memperkuat brand dulu. Baru setelah brand-nya terbentuk, brand awareness cukup tinggi, dan dia menjadi tokoh yang populer, baru kemudian menulis buku. Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, James Gwee, mungkin adalah sejumlah tokoh yang lebih dulu populer dan memiliki brand kuat sebelum menulis buku. Bahkan, SBY pun baru ditulis biografinya beberapa saat sebelum kampanye pemilihan presiden dimulai. Dia sudah punya brand sebelum buku tentang pemikiran-pemikirannya ditulis.
Contoh lain, lihat misalnya Ratih Sanggarwati, Krisdayanti, Melly Guslow, Angelina Sondakh, Tamara Geraldine, atau Adrie Subono. Mereka sudah populer lebih dulu, lalu membuat buku untuk memperkuat brand sekaligus mendapatkan benefit finansial yang berarti. Hasilnya? Buku mereka laris manis di pasaran. Sementara, buku yang ditulis pun menambahkan value tersendiri bagi brand mereka.
Jadi, semisal kita bukanlah tokoh populer dan belum punya brand, mulailah sekarang juga, jangan ragu untuk mengatur strategi mengembangkan merek diri. Kita bisa memanfaatkan berbagai saluran media. Jika perlu, manfaatkan tenaga konsultan yang profesional untuk membantu kita. Sebaliknya, jika kita merasa sudah populer dan punya banyak fans, ya tinggal mengintensifkan strategi lainnya sambil menulis buku.[ez]

POPULARITAS DAN BRAND SEORANG PENULIS

Dalam dunia penjualan dan pemasaran, dikenal ungkapan yang bunyinya kira-kira demikian; “Jual dulu diri Anda, produk pun akan terjual dengan sendirinya.” Apa artinya? Maksud dari ungkapan itu adalah, jika calon pembeli percaya pada integritas kita, tertarik dengan kepribadian atau popularitas kita, dan yakin dengan reputasi kita, maka menjual produk serasa melaju tanpa hambatan. Produk yang kita bawa seolah menjual dirinya sendiri. Para penjual ulung dan berpengalaman sering menjumpai situasi seperti itu.
Hal yang sama terjadi hampir di semua produk, termasuk buku kita. Memang kompetensi, pengalaman, dan kepakaran seseorang sangat penting. Namun, integritas, kredibilitas, dan terlebih popularitas, juga teramat penting bagi sukses buku-buku orang tersebut. Sekalipun nama besar tidak menjamin suksesnya sebuah buku, tetapi pengaruh popularitas sebuah nama itu benar-benar riil.
Bagi mereka yang bergerak di dunia manajemen dan pemasaran, nama Hermawan Kartajaya sudah menjadi jaminan mutu. Bagi penggemar buku-buku motivasional dan entrepreneurship, nama-nama Andrias Harefa, Purdie Chandra, Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, pastilah sudah melekat di telinga mereka. Bagi penggemar buku-buku spiritualitas atau inspirasional, nama Anand Khrisna maupun Gede Prama adalah rujukan utama. Bagi penggemar cerpen atau novel-novel islami, nama-nama seperti Asma Nadia dan Pipit Senja adalah pilihan utama. Mereka terkenal, buku-bukunya sering menjadi best seller, dan karya-karya terbaru mereka selalu dinanti penggemarnya.
Apakah mereka hanya menulis buku? Jelas tidak. Hermawan Kartajaya, Gede Prama, Andrias Harefa, Andrie Wongso, Anand Khrisna, juga Tung Desem Waringin adalah para pemasar ulung yang pandai menjual diri mereka. Mereka adalah para sales wariter yang sejati. Dalam berbagai forum seperti seminar, talk show, ceramah, diskusi, kursus-kursus eksekutif, wawancara-wawancara dengan media, mereka selalu aktif menjual diri dan gagasannya. Termasuk Asma Nadia, yang kuat dengan berbagai aktivitasnya di komunitas Lingkar Pena yang dia bentuk serta beranggotakan ratusan, bahkan mungkin ribuan penulis itu.
Benang merahnya adalah; mereka meneguhkan kehadiran dan eksistensinya melalui berbagai forum serta aktivitas yang bersinggungan dengan khalayak. Secara simultan, aktivitas-aktivitas maupun buku-buku yang mereka hasilkan telah mengangkat nama mereka. Melalui media massa, publik kemudian mengapresiasi kiprah mereka dan popularitas yang tinggi adalah efek sampingnya.
Pada titik inilah, nama mereka muncul sebagai sebuah merek yang sangat powerful untuk mendongkrak sukses buku-buku mereka. Makanya, bila kebetulan Anda sudah memililki forum-forum atau aktivitas-aktivitas yang bersingggungan dengan forum-forum publik maupun media massa, itulah nilai lebih Anda. Jika belum, Anda harus meraih nilai lebih semacam itu dengan menciptakan serangkaian aktivitas yang bisa membangun citra atau merek diri Anda. Singkat kata, Anda perlu membangun personal branding. Bagaimana caranya? Kita akan bahas pada artikel berikutnya. Salam best seller!(ez)

MELADENI PEMBACA YANG HAUS HAL-HAL BARU

Pada artikel yang lalu saya sudah membahas soal judul buku yang saya anggap sangat berperan dalam menarik perhatian calon pembaca. Kali ini, saya akan membahas sebuah buku yang—selain kreatif dan inovatif dari segi judul—juga inovatif dari segi konsep atau gagasan yang diusung kepada pembaca. Buku itu berjudul Marketing in Venus karya Hermawan Kartajaya. Bukan sekadar mengandung konsep baru dan provokatif, tetapi buku tersebut ternyata juga menangguk sukses di pasaran.
Dalam hal marketing, barangkali tidak ada yang meragukan kepakaran Hermawan Kartajaya. Seminar, lokakarya, pelatihan, kolom-kolom, dan analisis-analisis pendiri MarkPuls&Co itu selalu ditunggu-tunggu oleh para praktisi pemasaran dan penjualan. Kepiawaiannya memetakan tren dunia pemasaran tidak diragukan. Hermawan memang telah memang menjadi ikon marketing di Indonesia. Bahkan namanya sangat dikenal dalam komunitas para teoritisi marketing internasional.
Oleh sebab itu, ketika dia memunculkan sebuah paradigma baru tentang marketing, orang akan langsung tersedot perhatiannya. Itulah yang terjadi saat Hermawan dan kawan-kawannya menerbitkan buku berjudul Marketing in Venus (Gramedia Pustaka Utama). Buku yang berisi 18 prinsip pemasaran di era venus tersebut laris manis di pasaran. Gara-gara buku itu pula, gaung konsep metroseksual maupun experiential marketing lebih membahana. Tak heran jika buku tersebut segera saja cetak ulang beberapa kali dalam setahun dan masuk kategori buku best seller.
Nah, apa kunci kesuksesan buku Marketing in Venus? Dalam pandangan saya, buku itu sukses karena ditulis oleh pakar yang sungguh-sungguh mumpuni di bidangnya. Kedua, buku itu sukses karena kekuatannya dalam membuka pemahaman dunia pemasaran di Tanah Air, khususnya tentang tren dan paradigma baru dalam menjual produk. Hermawanlah satu-satunya pakar marketing di Indonesia yang waktu itu tegas-tegas menyatakan adanya pergeseran perilaku konsumen, dari perilaku rasional (manusia Mars) menjadi perilaku emosional (manusia Venus). Itu saja saripati dari ke-18 prinsip pemasaran di era Venus.
Nah, faktor ketiga ada pada pilihan judul yang menurut saya menunjukkan kejeniusan Hermawan dan kawan-kawannya. Pertama kali mendengar judul Marketing in Venus, saya sempat bertanya-tanya, apa maksud penulisnya? Apa hubungan antara konsep pemasaran dengan nama sebuah planet? Tapi, pertanyaan lugu saya itu segera sirna ketika saya teringat dengan sebuah judul buku best seller internasional, Mars and Venus karya John Gray. Inilah salah satu buku psikologi-komunikasi populer yang paling banyak dibaca orang. Bahkan, ketika saya mengikuti pendidikan pranikah (yang diselenggarakan oleh gereja), buku ini pula yang direkomendasikan untuk dibaca oleh si psikolog yang mengajar kami waktu itu.
* Edy Zaqeus adalah editor Pembelajar.com, trainer SPP, konsultan penulisan dan penerbitan, pendiri Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, dan penulis buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller”. Jangan lewatkan workshopnya bersama Andrias Harefa dengan judul “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada 14-15 Desember 2007 ini. Info selengkapnya di 021-7828044. Kunjungi pula blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com atau hubungi dia via email: edzaqeus@gmail.com.
_____________________________________________________________

MATERI KULIAH JURNALISME FILM

Varian Jurnalistik Bernama Jurnalisme Film

Rupanya kini popularitas sebuah stasiun televisi tidak bertumpu pada tayangan pemberitaan, infotainment, dan film saja, tetapi ada satu primadona yang kini mulai diperhitungkan, yakni film dokumenter. Dalam tataran film, dokumenter masuk dalam jajaran film, melengkapi perkembangan film cerita. Dan tampaknya harta karun yang satu ini mulai digali oleh para sineas, antropolog, dan jurnalis.
Dalam pandangan saya, film dokumenter tak ada bedanya dengan jurnalisme film. Idiom ini memang  masih dalam kerangka wacana, sebab belum ada konsepsi yang baku tentang jurnalisme film. Pada awalnya orang mengkategorikan  film dokumentar karena tampilan film jenis ini memenuhi kriteria film; ada unsur sinematografi, unsur filmis, dan akhirnya melebur menjadi  sebuah movie.
Apa yang membedakan ketiga unsur tersebut? Sinematografi diartikan sebagai aspek keilmuan sinema. Yakni ilmu yang mempelajari ketrampilan menyusun dan menggabungkan scene-scene dalam rangkaian skenario yang membentuk sinema (gambar hidup), sehingga lahir sinema layar lebar dan sinetron (sinema elektronik). Film merupakan karya kolektif yang di dalamnya tergabung berbagai  item seni (peran, musik, rupa, grafis, sastra, estetika) dan menghasilkan tontonan yang direkam pada pita seluloid atau  kaset. Dan movie merupakan karya akhir dari  proses perpaduan sinematografi dan filmis yang sudah berujud serta  siap menjadi barang komoditi yang dijual ke bioskop atau televisi.
Para jurnalis memandang film dokumenter merupakan produk akhir dari kerja  jurnalisme film, sebab jika dilakukan ‘operasi’ terhadap karya ini di dalamnya terdapat aspek yang sama. Apa saja kesamaannya?
Seperti layaknya dokter bedah, jika orang film dan jurnalis menjadi ahli bedahnya maka ada kesamaan kandungan (ruh) yang terdapat dalam film dokumenter. Namun untuk menyibaknya ada beberapa pisau bedah yang harus kita pakai. Pertama pisau  proses produksi. Jika melihat film dokumenter dari kaca mata jurnalistik sama seperti kegiatan menulis (artikel, feature, kolom, tajuk rencana), yakni proses kreatif penuangan ide-ide dan referensi dalam bentuk tulisan. Di dalamnya ada fakta dan data serta menghindarkan dari hal yang bersifat imajinatif. Sebuah film dokumentar selalu berdasarkan pada survei dan mapping (pemetaan) serta penggalian fakta di lapangan. Tanpa ketiga unsur ini  film dokumenter tidak sah. Beda dengan film cerita yang identik dengan mengarang karena lebih fiktif dan imajinatif.
Kedua, pisau sinematografi. Karya dokumenter tetap mengacu pada khasanah sinematografi. Artinya, ada pentahapan dalam membuatnya, seperti pra produksi meliputi survei, pemetaan, hunting lokasi, dan memilih nara sumber yang kompeten dengan tema film. Hasil survei dan pemetaan disusun menjadi sinopsis, treatment, serta skenario. Produksi meliputi proses syuting dan pengadegan, dan tahap pasca produksi tetap harus melewati logging (selection of shot), editing, titteling, dan finishing (hasil akhir). Yang tidak ada mungkin aspek casting, karena dokumenter seperti layaknya investigative reporting di lapangan, tanpa  rekayasa.  Juga pada saat editing penggunaan special effect dan manipulasi filmis lainnya tidak diperlukan. Dalam proses jurnalisme film unsur-unsur tersebut harus ada semua, ditambah usaha keras dalam imajinasi karena banyak film dokumenter yang membosankan, sementara  penonton ingin dihibur.
Ketiga, pisau previewing (dipertontonkan). Film dokumenter dalam formatnya ada dua, yakni format seluloid (35 mm) dan video (analog dan digital). Jika menggunakan format seluloid biasanya dapat dinikmati di gedung bioskop dengan proyektor 35 mm (layaknya film cerita). Tapi jika dalam format video bisa ditonton dalam bentuk pita kaset (beta, VHS, mini DV, dan DV), VCD, DVD maupun blue ray. Untuk melihat keindahan filmnya sebaiknya pilih dalam bentuk pita kaset atau DVD / blue ray. Di luar itu biasanya ada degradasi color sehingga mempengaruhi tampilan dokumenter.
Jika ketiga pisau tersebut kita gunakan maka film dokumenter dan kerja jurnalisme film punya kesamaan. Itulah sebabnya film dokumenter yang kini banyak ditayangkan di beberapa stasiun tv oleh para jurnalis merupakan produk  jurnalisme film.
Pembenaran apa saja yang bisa dipakai untuk menisbahkan film dokumenter sebagai karya jurnalisme film?  Ada beberapa landasan untuk itu. Onong Uchajana Effendy menyatakan, film dokumenter merupakan sebuah karya ciptaan mengenai kenyataan yang pembuatannya dilakukan dengan pemikiran dan perencanaan yang matang (creative treatment of actuality) serta memerlukan usaha keras dalam imajinasi dan biasanya berkisar pada hal-hal yang merupakan perpaduan antara manusia dan alam, selain itu film dokumenter adalah siaran yang mengandung nilai dan fakta (Effendy, 2000: 204).
Sementara itu dalam The Random House Dictionary istilah Documentary berasal dari kata document, yakni sebuah film yang menggambarkan kejadian nyata, kehidupan dari seseorang, suatu periode dalam kurun sejarah, atau barangkali sebuah rekaman dari suatu cara hidup mahkluk. Dokumenter berbentuk rangkuman perekaman fotografi berdasarkan kejadian nyata dan akurat. (Hanan, 1997: 123).
Selanjutnya John Grierson (pembuat film dokumenter pertama), membuat revolusi dunia perfilman di Inggris. Gerakan yang dilakukan Grierson inilah yang melahirkan film dokumenter di tahun 1940-an. Inti dari perjuangan Grierson adalah reaksi terhadap kuatnya pengaruh ekspresi romantisme Jerman yang pada saat itu sangat mendominasi perfilman Inggris. Dengan film dokumenter Grierson berupaya untuk mengembalikan pengertian “realist” dalam sebuah film, bukan ‘romantic’ dan imajinatifnya
Akhirnya Grierson berpendapat bahwa dokumenter merupakan perwujudan interprestasi kreatif  tentang fakta yang memungkinkan diperlakukan sebagai arsip dari realitas dikarenakan prosedur dan karakter yang dimilikinya. Sebagai arsip dari suatu realitas Bill Nicholas berpendapat bahwa dokumenter menjadi sebuah upaya penghargaan yang diberikan melalui pilihan kata batin, di mana kesan tentang “realita” digambarkan dalam film dengan ketergantungan yang sangat kuat dalam seberapa besar kerja dalam memberikan penghargaan itu (Prakosa,1997:125).
Untuk itu jurnalisme film diartikan bukan pada produk jadi film yang bersangkutan, tetapi prosesnya. Namun, jurnalisme film di sini tetap dibedakan dari film berita. Jika film berita merupakan visualisasi (perekaman gambar) dari berita yang dilansir sehingga harus mempunyai nilai berita untuk disajikan kepada penonton apa adanya, sementara jurnalisme film proses dari kegiatan produksi film dokumenter. Ini maknanya,  sebuah film dokumenter tidak bisa seenaknya mengandalkan imajinasi pembuatnya yang bersifat imajinatif, tapi lebih pada penelusuraan fakta dan data di lapangan yang disajikan secara estetik film. Raymond Spottiswoodw dalam bukunya A Grammer of the film menyebut film dokumenter dilihat dari segi subyek dan pendekatannya adalah penyajian hubungan manusia yang didramatisir dengan kehidupan kelembagaannya, baik lembaga  industri, sosial, maupun politik, dan dilihat dari  segi teknik merupakan bentuk yang kurang penting dibandingkan dengan isinya.
Sosial Budaya
Jika dulu film dokumenter diangggap kurang profit, kini kenyataannya lain. Portret, sebuah karya jurnalisme film yang ditayangkan di SCTV merupakan tayangan mahal, lebih mahal dibanding acara infotainment mana pun. Hanya masalahanya banyak tayangan jurnalisme film ini diproduksi oleh in house production yang keberadaannya tidak indenden. Sebuah karya jurnalisme film yang baik menurut penulis harus independen sehingga tugasnya menyampaikan realitas sosial budaya secara proporsional benar-benar tercapai. Dari beberapa pembuat film dokumenter terkesan  sebatas pesanan dari para donatur sehingga kurang objektf, padahal jurnalisme film jangan sampai terlalu subyektif. Hanya masalahnya, membuat karya jurnalisme film ini layaknya membuat film cerita, malah terkadang lebih mahal karena proses survei, pemetaan, dan penggalian informasi dari narasumber jauh lebih lama. Selain Portret di SCTV, ada Kampung Halaman (RCTI), Oase (Metro TV), Jelajah (Trans-TV), Horizon (Indosiar), Jejak dan Petualangan (TV-7), ditambah tayangan asing lainnya semacam National Geographic, Discovery Channel, dan Animal Planet.
Sejauhmanakah jurnalisme film ini bisa betul-betul menyajikan realitas sosial-budaya yang jujur tanpa dibebani banyak tendensi? Menurut penulis sejauh karya ini didasarkan pada kerja jurnalisme yang mengutamakan empat nilai berita, yakni impact (suatu kejadian yang menimbulkan dampak), prominance (punya nilai keagungan), proximity (unsur kedekatan dengan penonton), dan the unusual (tidak biasa terjadi). Dan agar jurnalisme film juga baik maka harus mempertimbangkan kualitas yang diukur dengan standar accurate (ketepatan data),  properly attributed (identifikasi narasumber), balanced and fair (seimbang), objective, brief and focused (ringkas, padat, langsung), dan well written (kisahnya jelas, langsung, dan menarik). Ini semua menyangkut aspek isi. Sementara sebagai alatnya, sinematografi tetap  harus diperhatikan. Jangan sampai jurnalisme film sebatas dokumentasi peristiwa saja.
Nilai dan standar berita di atas tampaknya sudah menjadi keharusan jika para jurnalis menerjuni jurnalisme film. Tidak untuk gagah-gagahan tapi untuk kelangsungan keilmuan  jurnalistik itu sendiri. Dan sebagai ilmu sosial jurnalisme film suatu saat akan menjadi barometer perkembangan kolaborasi antara jurnalistik dan film. Perkawinan yang harmonis tentunya tidak saling mematikan, justru saling memajukan. Dan dewasa ini, ketika berita tv straight news sudah mulai mengalami kejenuhan maka jurnalisme film menjadi alternatif  berikutnya. Dan  penonton kita sangat senang bila mendapat informasi sekaligus hiburan. Ini akibat struktur masyarakat kita masih pada taraf  views society (masyarakat menonton), belum reading society (masyarakat baca), sehingga kehadiran jurnalisme film sungguh menjadi alternatif karya jurnalistik yang dibalut dengan sense of art. Dan ‘penampakan’ sosial-budaya di tv  cenderung mudah diterima masyarakat mana pun. Dengan tampilan news dan art jurnalisme film mampu melahirkan tontonan atraktif sekaligus informatif.
Tak ada salahnya kajian jurnalisme film ini sebagai penambah khasanah perbendaharaan keilmuan di rumpun Ilmu Komunikasi. Toh, jika diruntut film itu sendiri merupakan produk komunikasi massa periodik. Untuk bisa membuat karya jurnalisme film yang baik belajarlah dari konsepsi komunikasi efektif di mana ada source (survei, narasumber), komunikator (sutradara), message (isi pesan berupa realitas sosial-budaya), channel (film itu sendiri), feedback (umpan balik penonton), dan effek (hasil akhir yang diharapkan).
Jika film dokumenter lebih banyak dikreasi oleh para antropolog karena pada awalnya objek film dokumenter itu sendiri masalah etno (budaya suatu daerah dan yang melingkupinya), sehingga yang banyak terlibat dari disiplin ilmu sosiologi dan antropologi budaya. Belakangan pemaknaan budaya itu sendiri semakin luas sehingga mau tidak mau objek dokumenter pun berubah. Maka, untuk tidak menyombongkan, para jurnalis lebih banyak peluangnya untuk mengakrabi jurnalisme film, karena bekal jurnalis jauh lebih mumpuni dalam melihat gejala sosial-budaya di masyarakat. Dengan pena jurnalis realitas sosial budaya masyarakat kita menjadi transparan. Orang yang tiba-tiba melihat realitas masyarakat pedalaman di Lembah Baliem Papua lewat jurnalisme film akan tergugah untuk membantu mengatasi masyarakat pedalaman Suku Dani ini.
Yang jelas  jurnalisme film semakin menjadi daya tarik stasiun televisi. Tak heran stasiun tv saling berlomba menayangkan jurnalisme film. Selamat datang jurnalisme film.
Pengertian Jurnalisme Film
Berbicara tentang perkembangan jurnalistik, belakangan ini telah muncul istilah baru dalam dunia jurnalisme, yaitu “Jurnalisme Film”, suatu kegiatan jurnalistik yang digabungkan dengan segi artistik film. Jurnalisme film termasuk dalam artikel-artikel, risalah film, penyutradaraan, industri film dan produser film.
Menurut Askurifai Baksin, jurnalisme film merupakan proses pemindahan realitas sosial-budaya suatu masyarakat atau komunitas tertentu dalam bentuk gambar hidup dengan kaidah filmis (Jurnalisme Film, Sebuah Alternatif, Pikiran Rakyat, Rabu, 3 Desember 2003).
Sedangkan menurut Ari Kivimaki, jurnalisme film adalah kegiatan jurnalistik yang cenderung mengarah pada dunia sinema di segala media. (www. users.utu.fi).
Produk yang dihasilkan jurnalisme film ini biasanya berupa film dokumenter. Dokumenter adalah siaran yang mengandung nilai dan fakta (Effendy, 2000:204).
Dalam jurnalisme film, terkandung penggabungan unsur jurnalistik dan film. Produk dalam kegiatan jurnalistik ini menampilkan fakta secara mendalam dengan menggunakan teknik sinematografi. Materi penuturan kisah jurnalisme film seperti laiknya penulisan features, mengisahkan isi dengan mendalam dan detil, dan berdasarkan riset. Dan untuk menuangkan materi ini menjadi suatu tayangan, maka harus melewati proses penahapan dalam sinematografi, yaitu tahap pra produksi, produksi (eksekusi di lapangan) dan pasca produksi (eksekusi di studio).
Sebenarnya jurnalisme film bukanlah hal yang baru di dunia jurnalistik, dalam melatih kekuatan dan permainan-bermain dalam konteks budaya jurnalistik pada umumnya, khususnya jurnalisme film ini sudah lama menjadi topik utama perbincangan para ahli dalam penelitian-penelitian sosial budaya sejak tahun 1960-an.
Dengan sifatnya yang menggabungkan kegiatan jurnalistik (teknik wawancara, mengumpulkan dan mengolah data) dengan kekuatan gambar/film, jurnalisme film adalah salah satu kegiatan yang sajiannya dapat menarik minat masyarakat dalam menerima informasi. Sebab, selain menghadirkan informasi faktual, dalam jurnalisme film juga mementingkan cara pengambilan gambar/film yang hidup dan menarik namun tetap ber-etika dan mampu menghibur penonton.
Diantara segala keuntungan yang dimiliki jurnalisme film ini, Ari Kivimaki, dalam tulisannya “The Publicity Games of Film Journalism: Ideology, Expectation And Power”, mengatakan “persamaan, objektifitas, dan integritas memang merupakan salah satu diantara segala kebajikan jurnalisme film”. (“Equality, objectivity and integrity are naturally also among the virtues of the film journalim”). (www.user.utu.fi)

Hubungan Jurnalisme Film dan Televisi
Jurnalisme film dan televisi adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Hal ini dikarenakan televisi adalah media yang paling aman untuk menayangkan karya jurnalisme film atau film dokumenter. Sebagai media komunikasi massa, televisi adalah media populer yang dapat dengan sempurna menyampaikan informasi dengan sarana audio dan visual, sedangkan jurnalisme film adalah produk yang sangat kental unsur audio visualnya. Melalui televisi, penonton dapat dengan mudah menerima informasi mengenai budaya, lingkungan, perkembangan serta kemajuan dunia dan kehidupan makhluk hidup dengan gambar yang minim rekayasa.
Sekedar contoh, Britain terkenal dengan program dokumenternya, baik pemutaran atau produksi untuk televisi dan mendistribusikannya ke seluruh dunia. Setiap hari Anda dapat menonton program dokumenter dari lima saluran TV di UK (United Kingdom).  Untuk itu, Negara Inggris juga disebut sebagai negara yang paling banyak memproduksi jurnalisme film. (Ria Ernunsari,  www.chevening.com).
Beda halnya jika produk jurnalisme film ditayangkan di medium yang lebih kecil, seperti bioskop, penontonnya tidak akan sebanyak penonton televisi. Masyarakat khususnya di Indonesia sudah terdoktrin dengan pemikiran bahwa bioskop sebagai salah satu sarana hiburan  dan selalu memutar film-film non-fiksi yang sarat dengan rekayasa teknologi untuk memberi bumbu ketegangan dan dramatisasi, maka jika produk jurnalisme film ini ditayangkan di bioskop, tidak sedikit yang menganggap akan membuang biaya, waktu dan tenaga untuk menonton tayangan yang sarat dengan pengetahuan ini di bioskop.
Selain itu, film yang diputar di bioskop setidaknya harus memenuhi tiga unsur tertentu, yaitu: film itu harus mengandung unsur surprising (kejutan atau hal yang tidak disangka-sangka), harus mengandung unsur shocking (benturan), dan akhirnya harus mengandung apa yang disebut unsur touching (hal-hal yang menyentuh hati). (Idris, 1987: 73). Jika produk jurnalisme film harus mengikuti ketiga unsur diatas, maka jurnalisme film sarat dengan rekayasa. Hal ini bertentangan dengan akidah jurnalistik yang melarang unsur rekayasa, serta fungsi jurnalisme film yang mendidik dan menginformasikan hal-hal yang faktual.
Alasan lain jurnalisme film menjaring lebih banyak penonton televisi, karena selain lebih praktis, tidak dikutip biaya dan dengan gambarnya yang nyata, penonton dapat menyaksikan kehidupan binatang liar, kehidupan masyarakat pedalaman, dan keindahan objek wisata dunia dengan mudah tanpa rekayasa. Dengan media televisi maka penyampaian informasi dan pengetahuan yang ingin disampaikan dalam produk jurnalisme film ini dapat dengan mudah ditangkap dan dimengerti bahkan untuk anak balita sekalipun.
Karya jurnalistik salah satunya adalah film. Dalam arti sempit film merupakan penyajian gambar lewat layar lebar, tetapi dalam pengertian yang lebih luas film juga bisa termasuk yang disiarkan TV. Sedangkan menurut M.O. Palapah & Atang Syamsudin dalam bukunya “Studi Ilmu Komunikasi” :
Film merupakan medium komunikasi massa yang ampuh, bukan saja berfungsi untuk hiburan tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan (1983 : 119 ).
Maksudnya adalah bahwa film selain sebagai saluran hiburan,  dengan film juga khalayak mampu memperoleh pendidikan melalui informasi dan pesan yang disampaikan untuk menambah ilmu pengetahuan. Pengaruh film sangat besar sekali terhadap jiwa manusia, terlebih lagi pada masyarakat tetapi pengaruh tersebut muncul lebih bergantung pada filmnya itu sendiri.
Pengaruh film terhadap sistem komunikasi tidak lepas dari pengaruh aspek-aspek kehidupan pada umumnya. Bahwa film dapat menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sudah banyak yang mengetahui dan merasakannya.Tetapi sejauhmana pengaruh positif dan sejauhmana pengaruh negatif belum diketahui banyak.
Menurut Prof. Dr. R. Mar’at, acara televisi yang berbentuk film pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan para penonton, ini adalah wajar.
Maksud penuturan di atas adalah bahwa film mampu membuat penonton terharu, terpesona dan merasa kagum. Oleh sebab itu film sering disebut sebagai sesuatu yang istimewa, sebab salah satu pengaruh psikologi dari film adalah seakan-akan menghipnotis penonton, sehingga penonton dihanyutkan dalam suasana film itu sendiri.
Saat ini film tidak lepas dari siaran TV, di mana kenyataannya siaran TV membutuhkan film sehingga menimbulkan minat para pengusaha produksi film untuk membuat film khusus bagi keperluan siaran, dan tak heran pula dewasa ini hampir semua badan siaran TV di negara-negara yang sudah maju telah mampu membuat filmnya sendiri yang kemudian dijadikan bahan tukar-menukar antarnegara. Ini merupakan usaha ke arah kerjasama dalam rangka membina saling pengertian dan saling menghargai antara masyarakat negara satu dengan negara lainnya menuju perdamaian.
Di Indonesia tentu saja pertukaran film ini tidak disia-siakan, di mana TPI sebagai televisi pendidikan mencoba membeli hak siar Planet Animal BBC Inggris dengan harga yang relatif tinggi bila diukur dengan dolar yang naik turun sekarang. Hal ini dilakukan TPI sebagai upaya pencapaian kualitas dan kuantitas dalam persaingan.
Berbicara tentang film dokumenter, tentu banyak sekali pengertian tentang film dokumenter itu sendiri. Menurut The Random House Dictionary dalam bukuFilm pinggiran” karangan Hanan :
Documentary berasal dari kata document, yakni sebuah film yang menggambarkan kejadian nyata, kehidupan dari seseorang, suatu periode dalam kurun sejarah, atau barangkali sebuah rekaman dari suatu cara hidup makhluk (1997 : 123 ).

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa film dokumenter selalu bersinggungan dengan dokumen-dokumen faktual berdasarkan kejadian-kejadian nyata. Dokumen-dokumen faktual berdasarkan kejadian nyata ini tentu tak salah pula jika diangkat untuk menjadi sebuah karya, yakni dalam bentuk film. Karya ini dapat dilihat seperti film-film yang  terdapat dalam film yang diproduksi oleh Planet Animal BBC Inggris, sebuah produksi siaran Televisi asing yang telah banyak menciptakan film dokumenter tentang serba-serbi kehidupan flora dan fauna.
Rata-rata film yang dihasilkan memuaskan para penonton di dunia, ini di buktikan dalam setiap karya BBC yang menyajikan film dokumenter selalu mendapat tempat nomor satu pada TV-TV yang ada didunia, sehingga film-film yang mereka buat dapat dijadikan pertukaran film antarnegara, salah satunya Indonesia yakni melalui saluran Televisi Pendidikan Indonesia (TPI).
Ada pun film dokumenter produksi Animal Planet BBC Inggris yang dibeli TPI ini berupa film Discovery Channel. Dalam Discovery channel menceritakan berbagai realita kehidupan kehidupan fauna atau binatang (Discovery animal), kebudayaan yang terdapat di negara-negara di dunia (Discovery  ghatering), dunia pekerjaan (Discovery job), dan makanan (Discovery food).
Dari banyaknya Discovery Channel yang terdapat pada program acara di TPI, Discovery Animal lah yang paling menarik di tonton. Hal ini terbukti melalui penuturan dari Syjahrudin, Marketing & Program Director TPI yang mengatakan bahwa Film informasi dokumenter yang paling banyak meraih iklan paling besar adalah film dokumenter Discovery Channel Animal. Ini membuktikan bahwa film tersebut sangat menarik untuk ditonton masyarakat (Wawancara 10 April 2002).
Segmentasi penonton TPI sendiri untuk acara Discovery Channel menurut survei AC Nielsen, Januari lalu menunjukkan adanya pergeseran kelas. Saat ini Penonton TPI terbanyak bukan lagi dari segmentasi E yang sama dengan kelas bawah. Kini penonton TPI lebih didominasi kelas menengah kelas ke atas. Selengkapnya yakni, A: 15 %, B: 19%, C: 48%, D: 13%, dan E: 5% (www.gamma.com).
Sedang untuk target audience Market Share menurut peringkat SRI (Survei Riset Indonesia), TPI meraih 14,5 %, dengan optimis raih peluang rating point 3, sejak minggu pertama di bulan Januari 2002 lalu. Ini membuktikan film Discovery Channel mampu meraih tempat di hati pemirsanya.
Film Discovery Channel Animal ini berupa perpaduan cerita antara manusia dan alam. Tayangan ini terbagi atas seri-seri kehidupan yang berbeda antara seri satu dengan seri lainnya.
Yang paling unik dan menarik dari film Discovery Channel Animal ini adalah seri “Wildlife On One”, yang ditayangkan TPI setiap hari Rabu pukul 19.00-19.30 WIB. Seri ini menyajikan tentang kehidupan fauna yang mendiami bumi yang luas ini. Dari serial ini kita dapat mengetahui ternyata fauna itu beraneka ragam, dari ukuran, bentuk, struktur dalam, dan luar serta kebiasaan dan tingkah lakunya.
Tontonan seperti ini adalah sebuah tontonan yang menarik dan mengasyikkan untuk ditonton, karena secara tak langsung selain memperoleh pengetahuan dan informasi kita dapat mengetahui ternyata fauna itu sangat banyak jenis dan tingkah lakunya. Selain itu ternyata binatang juga sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya. Bila berbicara tentang fauna sebagai penonton yang berpikir luas kita tentu sadar akan lingkungan fauna itu sendiri yang merupakan kekayaan alam warisan berjuta-juta tahun perjalanan hidup penyesuaian diri dengan lingkungan alamiah dimuka bumi fana yang luas dan perlu dilindungi.
Pesan moral yang disampaikan dalam tiap episode di film dokumenter fauna ini, seperti “ Sayangilah fauna-fauna yang ada seperti Anda menyayangi diri Anda sendiri”, sangatlah tepat untuk diperhatikan khususnya bagi lingkungan hidup fauna yang rata-rata sekarang mulai terabaikan, dan satu demi satu mulai punah.
Seperti yang diungkapkan pihak TPI, Penyajian program acara Flora dan Fauna di televisi, pada intinya ingin memperlihatkan dunia tumbuhan dan hewan yang menjadi pendamping hidup manusia secara akrab, karena  akhir-akhir ini perhatian seseorang itu jarang tertumpah pada kehidupan seekor binatang (Agus, Program acara TPI: wawancara 10 April 2002).  Setidaknya film dokumenter yang memuat cerita tentang fauna-fauna di seluruh dunia yang diproduksi oleh Planet Animal BBC Inggris ini membuat kita memiliki kesadaran untuk mencegah kepunahan fauna-fauna itu dengan melakukan pelestarian secara ketat agar tetap terjaga, karena fauna merupakan sumber daya alam yang juga mendatangkan aset besar bagi tiap-tiap negara di dunia.
Sebagai manusia yakni makhluk yang memiliki kebudayaan, akal dan budi yang tidak dimiliki oleh tumbuhan dan hewan, kita haruslah mampu menunjukkan sisi human interest pada lingkungan sekitar, khususnya lingkungan yang terancam akan bahaya kepunahan, seperti hidup fauna yang tanpa kita sadari dekat sekali  dengan kita. Sesuai dengan pernyataan yang dilansir dari salah satu situs internet jumlah kepunahan di Indonesia saat ini sangat meningkat, hampir 40 % persen penduduk Indonesia sudah tidak memperhatikan bagaimana kelansungan hidup- hidup binatang, baik itu binatang langka maupun binatang yang tidak termasuk binatang langka (http://www.astaga.com).
Menurut Wahyudi, dalam bukunya “Jurnalistik Radio dan Televisi”, human interest merupakan sesuatu yang dapat memberikan sentuhan rasa insani (1996: 78 ). Rasa human interest manusia dapat ditunjukkan melalui sikap yang tumbuh dalam perasaan  untuk mau turut peduli, seperti datang ke kebun bintang, memelihara, merawat, menyayangi, serta menjaga kelestarian lingkungan hidup binatang-binatang itu.
Namun sikap yang  demikian untuk zaman sekarang sudah sangat sulit untuk ditemukan pada diri manusia yang dianggap lebih beradab dari pada mahluk yang lainnya.Maka tidak salah pula film dokumenter yang ditayangkan oleh TPI ini sedikit banyak dapat menggugah rasa human interest mereka dalam rangka meningkatkan rasa kepedulian terhadap kehidupan fauna yang akhir-akhir ini hampir tidak tampak dalam masyarakat. Hanya sedikit mereka yang peduli dengan lingkungan hidup fauna.
Terdorong dari rasa human interest tersebut, serta penanyangan film dokumenter Discovery Channel Animal dalam seri Wildlife On One yang ditayangkan TPI ini membuat penulis terbersit untuk melakukan penelitian tentang sejauhmana efektivitas penanyangan film dokumenter Discovery Channel Animal seri Wildlife On One di TPI dalam menusmbuhkan  rasa human interest pemirsa terhadap hidup fauna, yang saat ini hampir terabaikan bahkan kurang diperhatikan oleh kita sebagai manusia yang lebih berakal dari pada mereka sebagai makhluk hidup salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
ANGGAPAN DASAR

  1. Panjang pendeknya film dokumenter tidak dibatasi, karena limitasi dari karya itu adalah misi yang diungkapkan melalui gambar-gambar sebagai realita, di mana objek-objeknya juga tidak dibatasi, baik persoalan kehidupan sehari-hari hingga masalah-masalah eksperimentasi kesenian dan ungkapan pemikiran yang bisa mengacu terhadap lingkungan tertentu untuk bereaksi, kadang-kadang film ini juga bertindak sebagai stimulus untuk memancing dialog-dialog yang menjurus ataupun yang membuka persoalan menjadi lebih luas, akan tetapi dalam hal ini film dokumenter adalah  medium komunikasi utuh sebagai karya kesenian, sehingga mendorong menjadi sebuah efektifitas bagi seseorang untuk menontonnya (Gotot, 1993: 135).
  2. Sebuah teknik atau metode yang ditetapkan untuk menyajikan sebuah acara siaran hangat akan menentukan berhasilnya informasi yang akan disampaikan kepada pemirsa. Hal ini berkaitan dengan tujuan komunikasi yang akan dilancarkan melalui media massa televisi yang audio visual dan hidup, sehingga mempermudah orang-orang memperoleh informasi itu selanjutnya akan mendorong efektifitas belajar (Finn, 1972: 153).
  3. Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator di mana pesan mempunyai inti pesan (tema) yang sebenarnya menjadi pengarah di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan, sehingga pesan dalam hal ini dapat secara panjang lebar mengupas berbagai segi, namun intinya pesan dari komunikasi akan selalu mengarah kepada tujuan akhir komunikasi itu (Widjaja, 1998:32).
  4. Suatu keseringan pemirsa menonton tayangan acara televisi akan semakin menimbulkan kesamaan persepsi serta image antara program acara televisi dan tingkat kebutuhan pemirsa sesuai dengan kondisi objektif secara sosiologis dan psikologis menuju perubahan sikap sehingga melahirkan frekusensi terhadap pemirsa,  walaupun pemirsa dalam media televisi adalah sejumlah orang yang disatukan oleh suatu minat yang sama yang mempunyai bentuk tingkah laku yang sama dan terbuka bagi pengaktifan tujuan yang sama, meskipun demikian orang-orang yang bersangkut tadi tidak saling mengenal, berinteraksi secara terbatas dan tidak terorganisasi (Kuswandi, 1993: 103).
  5. Pada dasarnya segi human interest tercipta karena sikap yang berupa perasaan yang menimbulkan adanya penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi, menghibur, dan memunculkan keharuan (rasa kemanusiaan)serta mendatangkan suatu perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, dan dibenci khalayak, efek ini berhubungan dengan emosi, sikap atau nilai.  (Rubben, 1996: 10).

Film Dokumenter
Penggabungan jurnalisme dan film hasilnya adalah dokumenter. (Ria Ernunsari, Chevening.com). Film dokumenter merupakan hasil atau produk dari jurnalisme film. Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. (Effendy, 2002 : 12).
Documentary berasal dari kata document, sebuah film yang menggambarkan kejadian nyata, kehidupan dari seseorang, suatu periode dalam kurun sejarah, atau barangkali sebuah rekaman dari suatu cara hidup mahkluk. Dokumenter berbentuk rangkuman perekaman fotografi berdasarkan kejadian nyata dan akurat. (The Random House Dictionary dalam Hanan, 1997: 123).
Jadi dokumenter selalu bersinggungan dengan dokumen-dokumen faktual berdasarkan kejadian-kejadian nyata. Dari interpretasi istilah documentary, sebuah kata berarti nyata, faktual, dan verisimilitude (fotografi dari kejadian seperti yang tepat dan mendekati kenyataan dari pengertian tentang kebenaran dan realita).
Film Dokumenter tidak lain hanyalah salah satu dari beberapa jenis film yang ada. Hanya perbedaannya dalam penyampaian ide atau gagasannya diperkuat dengan penelitian dan pembahasan yang panjang sebelum film mulai diproduksi. Alasannya karena film dokumenter mempunyai isi dan visi yang jelas dalam penyampaian kepada penontonnya sesuai yang ingin disampaikan pembuatnya.
Pada awalnya film dokumenter dibuat seorang Amerika yang bernama Robert Flaherty yang berjudul “Nanook of the North” (1922). Dalam film pertamanya itu ia menggambarkan perjuangan sehari-hari sebuah keluarga Eskimo dalam mempertahankan hidup di Kutub Utara.
Menurut John Grierson, seorang sutradara Inggris, film dokumenter adalah “karya ciptaan mengenai  kenyataan”. (Effendi, 2000 : 214).
Sedangkan pemerintah Indonesia sendiri mengeluarkan teori mengenai film dokumenter, yang menyatakan :
“Karya rekam film ceritera atau film dokumenter pada dasarnya merupakan salah satu karya budaya bangsa sebagai perwujudan cipta, rasa dan karsa manusia serta mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pembangunan pada umumnya, khususnya pembangunan pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penyebaran informasi.” (www.imlpc.or.id).
Dalam memproduksi film dokumenter, sang pembuat haruslah mempunyai imajinasi tinggi dan ketelatenan dalam pembuatannya. Karena biasanya berkisar pada hal-hal yang menyangkut manusia, sejarah dan alam maka segala data dan informasi yang diberikan haruslah tepat dan nyata. Tidak jauh berbeda dengan proses jurnalistik, keoriginalitasan materi yang faktual serta penelitian mendalam sangatlah berperan penting berpengaruh pada kualitas film dokumenter.
Di sisi lain dokumenter memiliki cakupan dari zona yang sangat kompleks tentang representasi sebagimana observasi kesenian, ada respon, dan kedengarannya harus dikombinasikan dengan seni untuk memberikan nuansa interprestasi, atau memberi argumentasi. Hal ini dilakukan adalah semata-mata untuk menarik minat khalayak untuk menonton film dokumenter itu sendiri tentunya .
Maka, dari pengetian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa titik berat dari film dokumenter adalah fakta atau peristiwa yang terjadi. Selain itu dalam merencanakan suatu film dokumenter juga diperlukan usaha keras dalam imajinasi, hal ini dilakukan karena film dokumenter sering sekali mengalami kesukaran untuk membebaskan diri dari hal-hal yang menjemukan, sedangkan khalayak yang dihidangi film tersebut harus tertarik bahkan mereka harus dihibur.(Cut Mindry Agusta, 2005)
Semakin majunya perkembangan teknologi dan komunikasi belakangan ini, maka mau tidak mau, dunia jurnalistik terus mengalami perkembangan. Dari sekadar pengumuman hingga mengumpulkan berita dan menyampaikannya melalui berita langsung di televisi. Mengikuti perkembangan zaman maka varian dalam dunia jurnalistik pun semakin bertambah.
Dalam buku Jurnalistik Terapan, saat ini terdapat lima belas jenis jurnalisme yang menggambarkan visi dan misi sebuah penerbitan pers, antara lain: jurnalisme alkohol, jurnalisme baru atau dikenal dengan jurnalisme sastra, jurnalisme buku cek, jurnalisme damai, jurnalisme foya-foya, jurnalisme got, jurnalisme kasak-kusuk, jurnalisme jazz, jurnalisme oposisi, jurnalisme pembangunan, jurnalisme pro-pemerintah, jurnalisme proses, jurnalisme profetik, jurnalisme revolusioner dan jurnalisme suci. (Romli, 2003:20-23)
Jurnalisme film adalah salah satu varian dalam dunia jurnalistik. Menurut Askurifai Baksin, jurnalisme film merupakan proses pemindahan realitas sosial-budaya suatu masyarakat atau komunitas tertentu dalam bentuk gambar hidup dengan kaidah filmis (Jurnalisme Film, Sebuah Alternatif, Pikiran Rakyat, Rabu, 3 Desember 2003).
Sedangkan Ari Kivimaki menyatakan,
“I use the term film journalism to denote to journalistic activity concerned with cinema in various media. “Journalistic activity” refers to all communication which is independent of commercial interests. Film journalism includes articles and essays on films, directors, the film industry and producers”. (www. users.utu.fi).
(Saya menggunakan term film jurnalistik untuk menunjukkan mengenai aktivitas jurnalistik yang menyangkut pada perfilman di segala media. “Aktifitas jurnalistik” merujuk pada segala komunikasi yang bebas dengan kepentingan komersil. Jurnalistik film termasuk pada artikel, dan esay mengenai film, penyutradaraan, industri perfilman dan produser).
Dalam jurnalisme film, terkandung penggabungan unsur jurnalistik dan film. Produk dalam kegiatan jurnalistik ini menampilkan fakta secara mendalam dengan menggunakan teknik sinematografi. Dalam jurnalisme film, materi penuturan kisahnya seperti laiknya penulisan features, mengisahkan isi dengan mendalam dan detil, dan berdasarkan riset. Dan untuk menuangkan materi ini menjadi suatu tayangan, maka harus melewati proses penahapan yang dalam sinematografi, yaitu tahap pra produksi, produksi (eksekusi di lapangan) dan pasca produksi (eksekusi di studio).
Produk yang dihasilkan jurnalisme film ini biasanya berupa film dokumenter, yaitu siaran yang mengandung nilai dan fakta (Effendy, 2000:204).
Namun karena film dokumenter masih terkesan membosankan dan sulit mendatangkan keuntungan, maka sebagai alternatif  beberapa stasiun televisi Indonesia menayangkan acara-acara yang menggunakan penyajian dokumenter. Diantaranya, Jelajah di Trans TV, Jejak Petualang di TV 7, Potret di SCTV dan banyak lagi. Tema yang diangkat biasanya mengenai kebudayaan dan lingkungan alam Indonesia dengan ciri khas penyajiannya masing-masing.
Penayangan acara ini memang cukup efektif sebagai media hiburan sekaligus pembelajaran masyarakat. Mengingat kini masyarakat tanpa disadari telah menjadikan menonton televisi sebagai budaya. Pada anak-anak misalnya, mereka lebih senang menghabiskan waktu berjam-jam waktu belajarnya di depan televisi, bahkan dapat dikatakan mereka belajar dari televisi.
Trans TV sebagai salah satu stasiun televisi yang menayangkan Jelajah, bertujuan  untuk membuka mata masyarakat di Indonesia mengenai keberagaman kebudayaan yang ada di seluruh nusantara. Dimana ironisnya, masih banyak dari masyarakat Indonesia yang tidak menyadari kekayaan tersebut. Padahal seperti yang kita ketahui Indonesia adalah negara yang sangat potensial dan kaya, dari alamnya yang indah dan subur hingga keberagaman sukunya yang konon mencapai ratusan dan tersebar di 13.000 pulau Indonesia.
Agar tidak memiliki kesamaan dengan tayangan sejenis, Iis, salah seorang editor Trans TV yang turut menyunting Jelajah mengatakan tayangan Jelajah bersifat tematis. Mengangkat satu tema dalam satu episode dan mengambil sumber dari beberapa daerah berbeda namun memiliki adat atau kebiasaan yang hampir serupa. Tetapi Jelajah belum dapat disebut sebagai tayangan dokumenter, sebab berdasarkan tuntutan televisi, maka penayangan Jelajah diselingi iklan, penambahan efek-efek yang bertujuan untuk menarik minat penonton dimana menurut anggapan para konservatif masih “diharamkan” dalam karya dokumenter. Namun teknik penyajian yang digunakan tetap menggunakan gaya penyajian dokumenter, yaitu bersifat faktual dan berdasarkan riset di lapangan yang disajikan dengan lebih menarik.
Sedangkan menurut Alan Rosenthal, pengarang buku “Writing, directing, and producing documentary film and videos”, penambahan efek-efek yang dapat menarik minat penonton, seperti tata cara pengambilan gambar yang dapat menggugah  emosi dan gaya penyampaian adalah yang hal penting dalam suatu dokumenter, seperti pernyataannya berikut :
“style is important in documentary as in love, and it may be straight forward, comic, elaborate, fantastic-whatever you want. In brief, think of  where you want to go, what tou want to do, and then find the most appropriate style to reach the objective”.
(Gaya adalah penting dalam dokumenter, seperti cinta, dalam hal ini mudah dimengerti, jenaka, rumit, fantastik-apapun yang kamu inginkan. Pendeknya, fikirkan kearah mana yang akan dituju, apa yang akan diperbuat, dan temukan gaya yang paling sesuai untuk mencapai ke objektifan). (Rosenthal, 1996:54).
Selain itu Rosenthal juga mengatakan, beri kebebasan dalam berkreasi. Dalam dokumenter bebas menentukan tema, tidak perlu terlalu serius dan menuangkan visual melalui still image, yang terpenting adalah sesuai fakta. (Rosenthal, 1996:54-55). Hal ini disebabkan karena ketika memproduksi dokumenter untuk televisi, kita harus memikirkan bahwa kita  menulis untuk seluruh golongan antara yang berumur empat belas tahun dan tujuh puluh lima tahun, untuk semua level pendidikan, dan untuk setiap orang yang berbeda status sosial dan kepercayaan agama. (Rosenthal, 1996:19).  (Cut Augusta Mindry, 2004)
Komunikasi massa, seperti yang di jelaskan Prof. Onong Uchjana Effendy, adalah komunikasi melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum, dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. Komunikasi massa berfungsi untuk menyiarkan informasi, gagasan, dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dan menggunakan media (Effendy, 2000:79-80).
Sebagai salah satu dari media komunikasi massa, kegiatan jurnalistik baik dalam media cetak maupun elektronik mempunyai fungsi sebagai media untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya pada masyarakat luas. Menurut Asep Syamsul M. Romli, jurnalistik adalah proses penulisan dan penyebaran informasi berita, feature, dan opini melalui media massa (Romli, 2003:2)
Dalam ilmu komunikasi sendiri, istilah “jurnalistik” mempunyai arti cara penyampaian isi pernyataan dengan menggunakan media massa periodik.(Soehoet, 2003:6). Drs. A.M. Hoeta Soehoet menjelaskan yang termasuk media massa periodik adalah pers (surat kabar, majalah, buletin, kantor berita), radio, televisi dan film. Maka terdapat istilah jurnalistik pers, jurnalistik radio, jurnalistik televisi, dan jurnalistik film (Soehoet, 2003:6).
Dalam penelitian ini, peneliti akan membahas mengenai jurnalisme film dengan judul “Aspek Jurnalisme Film Dalam Tayangan Jelajah di Trans TV”. Pengertian jurnalisme film adalah proses pemindahan realitas sosial budaya suatu masyarakat atau komunitas tertentu dalam bentuk gambar dengan kaidah filmis (Askurifai Baksin, Jurnalisme Film, Sebuah Alternatif, Pikiran Rakyat, Rabu, 3 Sept 2003).
Fungsi jurnalisme film adalah untuk menginvestigasi, menganalisis, dan memberi komentar dalam penambahan untuk mewakili keindahan dan nilai sosial. (Savo, www.users.utu.fi)
Jurnalisme film bisa betul-betul menyajikan realitas sosial budaya yang jujur tanpa dibebani banyak tendensi selama didasarkan pada kerja jurnalisme yang mengutamakan empat nilai berita, yakni, impact (suatu kejadian yang menimbulkan dampak), prominence (mempunyai nilai keagungan), proximity (unsur kedekatan dengan penonton) dan the unusual (jarang atau tidak biasa terjadi). Agar produk jurnalisme film berhasil baik, maka harus dipertimbangkan kualitas yang diukur dengan standar accurate (ketepatan data), properly attribute (identifikasi nara sumber), balanced and fair (seimbang), objective, brief and focused (ringkas, padat, langsung) dan well written (kisahnya jelas, langsung dan menarik) (Askurifai Baksin, Jurnalisme Film, Sebuah Alternatif, Pikiran Rakyat, Rabu, 3 Sept 2003).
Pada dasarnya produk yang dihasilkan jurnalisme film ini berupa film dokumenter. Dalam buku “Broadcast Journalism: Techniques Of Radio And TV News”, Film dokumenter adalah memperkecil berita dengan mencampur fakta dengan fiksi dan informasi dengan hiburan. (Boyd, 1995:109).
Dalam mengerjakan suatu produk jurnalisme film, kita harus benar-benar mengerti keragaman budaya yang ada. Untuk itu Alan Rosenthal mengatakan, “you should understand the culture and beliefs of the audience you are trying to reach and influence. Or the film can be technically well made and yet fail to deliver it’s message” (Kau harus mengerti kebudayaan dan kepercayaan penonton yang kita coba jangkau dan pengaruhi. Atau film dapat dibuat baik secara teknis, namun masih gagal dalam penyampaian pesannya) (Rosenthal, 1996:19).
Meskipun jurnalisme film ini berisikan fakta-fakta seperti laiknya berita soft news dan hard news, namun bukan berarti gaya yang digunakan harus seserius mungkin, seperti gamabr-gambar yang kaku (still image). Hal ini akan menjenuhkan penonton yang menyaksikan karya jurnalisme film tersebut. Menurut Alan Rosenthal, produk-produk jurnalisme film atau dokumenter juga sangat mementingkan style, bagaimana cerita akan disampaikan pada penonton, apakah bersifat humor, serius, atau santai. “style is important in documentary as in love….and find the most appropriate  style to reach the objective”, (suatu gaya sangat penting dalam dokumenter, seperti cinta…,dan temukan gaya yang paling cocok untuk menyampaikan cerita secara objektif). (Rosenthal, 1990:54). Berdasar kerangka pemikiran diataslah peneliti akan berpijak dalam melakukan penelitian ini.
Dari diperkenalkannya kumpulan foto yang tersusun hingga menghasilkan rentetan gambar yang berhubungan oleh Lumiere sampai muncul kamera film pertama oleh Thomas Alva Edison, dunia film menjadi salah satu alat komunikasi massa yang baik sebelum munculnya media televisi.
Dalam perjalanan dunia film indonesia memang sudah sejak jaman penjajahan Belanda yaitu semenjak diproduksinya film Eulis Acih dan  Loetoeng Kasarung pada tahun 1927, yang sampai saat ini dianggap produksi pertama film Indonesia ( Sarjono, 1969;5)  bangsa kita mengenal film sebagai alat propaganda penjajah maupun sebagai media hiburan. Selanjutnya dalam perkembangannya film hanya dijadikan sebagai sarana hiburan yang kurang nilai informasinya, banyak disebabkan oleh banyaknya  produksi film yang asal jadi yang tidak diimbangi dengan mutu dan kualitas yang baik, dari segi kreatifitas dan sumber daya manusianya
Hal ini memang terjadi beberapa tahun yang lalu di mana dunia perfilman Indonesia sempat jatuh pada tingkat paling bawah, baik dari segi produksi maupun dari segi kreatifitas.
Sejarah film Indonesia pernah mencatat pada rentang tahun 1960 sampai 1970, produksi film Indonesia mencapai 200 judul setahun merupakan rekor tertinggi produksi film indonesia dan juga munculnya film-film yang bermutu tinggi yang dapat berbicara banyak di tingkat internasional. (Sarjono,1969;7)
Namun film-film tersebut hanya film-film berjenis cerita, Film yang didistribusikan sebagai barang dagangan dan diperuntukan untuk publik di mana saja. (Effendy,1984:211)
Film cerita sebagai salah satu dari jenis fim dianggap oleh masyarakat awam sebagai satu-satunya jenis film.
Jenis-jenis film yang biasa diproduksi untuk berbagai keperluan antara lain Film dokumenter, Film cerita pendek, Film cerita panjang, Film profil perusahaan, Iklan televisi, Program televisi dan Video klip ( Effendy, 2002:12 -14).
Salah satu jenis film yang dapat mencakup dua bidang informasi dan hiburan sekaligus adalah film dokumenter. Sebagai salah satu jenis dari film, film dokumenter mempunyai nilai lebih dibanding dengan jenis film lainnya.
Di dunia film dokumenter sudah menjadi tren para pembuat film, karena para pembuat film bisa bereksperimen dan belajar tentang banyak hal ketika produksi film dokumenter. Ini bisa dilihat dari banyaknya film dokumenter yang disiarkan di saluran televisi seperti program National Geographic dan ataupun dari Discovery Channel yang memang mengkhususkan diri dalam penayangan film Dokumenter.
Memang sejarah film dokumenter di Indonesia belum mencatat banyak produksi film dokumenter, namun semenjak pertama kali film dokumenter diperkenalkan oleh TVRI pada awal era 80-an, film dokumenter mendapat sambutan yang baik dari insan-insan film Indonesia, karena film dokumenter sangat menonjolkan isi pesan dan tujuan yang ingin disampaikan oleh pembuat film.
Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. (Effendy, 2002:12)
Dalam perkembangannya film dokumenter Indonesia memang belum bisa berbuat banyak tidak seperti jenis film lainnya, apalagi ketika dunia perfilman kita sedang jatuh, namun semenjak ditayangkan secara serentak di lima stasiun televisi swasta dan TVRI film Dokumenter Anak Seribu Pulau (Miles Production), insan film dapat menerima dengan baik film dokumenter sebagai salah satu sarana penyampaian informasi tentang suatu masalah yang ada di sekitar kita sekaligus hiburan yang baik. Hal ini juga menepis anggapan bahwa film dokumenter tentang Indonesia hanya bisa di produksi oleh orang asing, yang memang kerap kali memproduksinya.
Proses berkembanganya dunia perfilman kita beberapa tahun belakangan ini memungkinkan tumbuhnya dunia film dokumenter yang merupakan imbas dari perkembangan tersebut.  Film Dokumenter  “Student Movement” karya Tino Saroenggalo, Film yang merupakan catatan sejarah penting mengenai gerakan mahasiswa Indonesia di tahun 1998, bisa dibilang memiliki catatan sendiri dalam perkembangan film dokumenter Indonesia, karena pertama kalinya film dokumenter Indonesia diputar di gedung bioskop 21, serta diputar secara serentak di beberapa kota besar di Indonesia.
Kemajuan film dokumenter Indonesia beberapa tahun ini membuat banyak pihak yang peduli tentang kemajuan film Indonesia membuat berbagai macam program untuk memasyarakatkan film dokumenter salah satunya adalah In-docs (Indonesia Documentarys).
Keyword:
1. Film sebagai alat komunikasi
Merupakan suatu kombinasi antara usaha penyampaian pesan melalui gambar bergerak, pemanfaatan teknologi kamera, warna dan suara. Unsur-unsur tersebut dilatar belakangi oleh suatu cerita yang mengandung suatu pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara kepada khalayak film. (Susanto, 1980:60)
2. Film Dokumenter
Film Dokumenter adalah film yang memberi laporan realita, dari kejadian yang benar-benar terjadi (Verkyl, 1958:52)
3. Unsur-unsur dari film dokumenter
Meliputi: pencarian ide, script development, penulisan proposal penelitian, penelitian, penulisan skenario, pra produksi, produksi dan post produksi.
4. Daya tarik film dokumenter
Daya tarik film dokumenter adalah realita kehidupan yang ditampilkan secara nyata ke dalam media film hingga dapat menyampaikan pesan dan kesan yang diinginkan oleh sutradara.

MATERI JURNALISME FILM (lanjutan)

FILM ITU APA SIH?

  • MEDIA untuk berekspresi

Ada media lain, seperti teater, musik, sastra, tari, dll.

  • ALAT untuk bercerita

Bahan ceritanya bisa dari cerpen, novel, peristiwa sehari-hari, sejarah, biografi,  dll

  • Merupakan KARYA seni

Ada karya seni lainnya, seperti lukis, puisi, patung, anyaman, dll

FILM MERUPAKAN SENI KE-7

  1. Sastra
  2. Teater
  3. Seni rupa
  4. Seni suara
  5. Musik
  6. Arsitektur
  7. Film

FILM MERUPAKAN SENI KOMPLEK
DI DALAMNYA TERKANDUNG

  • Seni sastra
  • Seni suara
  • Seni musik
  • Seni rupa
  • Seni teater
  • Teknologi
  • Sarana publikasi

FILM SEBAGAI BENTUK KOMMAS

  • Ada KOMUNIKATOR

Yakni sutradara dan kru lainnya

  • Ada PESAN

Yakni tema dan materi film

  • Ada MEDIA

Yaitu film itu sendiri

  • Ada KOMUNIKAN

Yaitu penonton

  • Ada EFFEK

Yaitu gejala / akibat setelah menonton
FILM  KOMUNIKATIF YG BAGAIMANA ?
-Pesan yang disampaikan dimengerti penonton
-Ada eye contact antara tontonan dan penonton
-Menimbulkan feedback (umpan balik)
-Mengubah perilaku (audience effect)
-Tidak membuat misunderstanding penontonnya
ASPEK FILM APA SAJA YG HRS DIPERHATIKAN ?
-Software (perangkat lunak)
materi, tema, skenario dikemas agar mudah dimengerti penonton
-Hardware (perangkat keras)
kamera & perlengkapannya, editing & perlengkapannya, kostum, make-up, dan alat pendukung lainnya
-Humanware (perangkat insani)
sutradara, juru kamera, penulis skenario, pencatat skript hrs piawai dll
ELEMEN FILM YG HARUS KOMUNIKATIF

  1. Skenario film

-tema tunggal
-penokohan jelas
-ada alurnya
-kandungan pesan jelas
-tidak berbelit-belit
-maknanya bisa konotatif /denotatif\

2.Shot

-camera angle
-type of shoot
-frame size
-composition
-transitions
-imaginery line
-continuity

                 3. Kostum & Make Up

-sesuai karakter
-sesuai usia
-sesuai meliu / jaman
-sesuai status sosial
-sesuai negara / etnik
-sesuai suasana / setting
-pokoknya sesuai skenario

4.Properti & Artistik

-sesuai karakter
-sesuai usia
-sesuai meliu / jaman
-sesuai status sosial
-sesuai negara / etnik
-sesuai suasana / setting
-pokoknya sesuai skenario

5. Sound

  • Unsur penting ketika film berubah dari silence film ke film bersuara
  • Sound terbagi menjadi 5: atmosfir, dialog, voice over, back sound (music ilustration), dan sound effect
  • Masing-masing jenis suara berasal dan dikreasi secara berbeda

6. Penyutradaraan
-memahami cerita / tema film
-mampu menerjemahkan skenario
-menguasai psikologi pemain
-mampu mengarahkan pemain
-mampu memenej pemain
-menguasi ‘the art of film presenting’
-menciptakan film yang mudah ‘cerna’
-mampu menciptakan film baik dan menarik

MATERI JURNALISME FILM (lanjutan)

Tentang Pita Video
Pada dasarnya pita video itu sama dengan pita audio yang sering kita gunakan kita gunakan untuk merekam musik. Pita pada kaset video adalah bahan yang peka terhadap daya magnet. Perekaman video adalah sebuah proses yang esensial dimana signal elektronik disimpan.
Di pasar indonesia ada beberapa jenis pita video yang kita kenal seperti :
VHS / Super VHS
Betamax
Video 8 / Hi 8
Ketiga jenis inilah yang banyak digunakan oleh para kameraman amatir. Sementara sekarang juga sudah diproduksi jenis :
Mini DV  (Digital Video)
DV
Chips
Sistem perekamannya sudah tidak analog lagi tapi sudah sistem digital. Perekaman analog adalah perekaman sesuai dengan signal aslinya (elektromagnetik), sedangkan digital adalah  perekaman sistem bilangan (angka/binary).
Hal lain yang juga cukup penting adalah Sistem Standard apa yang kita gunakan. Indonesia menggunakan sistem PAL (Pashe Alternate Line). Berbeda dengan Amerika dan Jepang yang menggunakan sistem NTSC (National Televition System Committee).
Pita video harus disimpan di tempat yang bersih, Kering dan sejuk. Sedikit debu dapat menyebabkan robeknya (scratch) pada gambar di layar. Kelembaban juga akan menghasilkan jamur dan kepanasan akan mengubah bentuk pita. Sedikit cacat pada pita akan merusak video head yang berputar pada perekam pita video (VTR- Video Tape Recorder)
Kamera
Seperti kita ketahui, Perkembangan kamera video adalah perkembangan dari teknik fotografi dimana medianya saja yang berbeda.
Pada prinsipnya konsep kamera adalah sama, yaitu alat untuk menangkap imaji sementara film dan pita magnetik sebagai penyimpan imaji tersebut.
Dari konsep tersebut akan terlihat 3 bagian terpenting pada sebuah kamera (apakah itu still foto, cinematograph, maupun video) yaitu :
Lensa Badan (body) Perekaman (film, VCR)
Fungsi lensa adalah untuk memfokuskan titik cahaya (imaji) ke sebuah bidang  di belakang lensa.
Pada badan (body) inilah arti dari kamera berperan, karena arti dari kamera sendiri adalah kamar/ruang yang dapat membantu menangkap imaji (citra) dari subyek yang terkena cahaya, maka imaji yang terdiri dari gelombang cahaya tersebut akan tercipta jika intensitas ruang lebih gelap dari pada intensitas cahaya pada subyek.
Sedangkan perekaman adalah tempat dimana kita menyimpan imaji yang tercipta, apakah itu film maupun perekaman pita video.
Karena itu membahas tentang video, maka kita mulai dengan badan dan perekamannya.
Pada badan kamera video terdapat sensor yang mengubah gelombang cahaya yang berupa imaji menjadi gelombang elektronik berupa signal video. Sensor tersebut berupa chip elektronik yang biasa disebut CCD (Charged Couple Device).
Setelah imaji tadi berupa menjadi signal video, maka dia bisa direkam dengan alat Video Tape Recorder (VTR) ke dalam pita video.
Dahulu, Badan (body) dan VTR terpisah, dan berhubung dengan kabel. Tetapi sekarang kedua fungsi tersebut menjadi satu bagian yang ringkas atau biasa disebut Camcorder (kamera + perekam).
Bagaimana kita mengontrol gambar yang akan kita rekam. Setiap kamera video memiliki pembidik (viewfinder) elektronik,dimana apa yang sudah diterima CCD bisa di lihat disini. Setiap viewfinder memiliki diopter guna menyesuaikan dengan kemampuan mata setiap orang.
Setiap Camcorder memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing tergantung dari pada produk yang ditawarkan, tapi secara garis besar Camcorder memiliki:

  1. ON/OFF  Power Switch, fungsinya untuk untuk menyalakan kamera tersebut.
  2. Camera Switch, pilihan power untuk menjalankan fungsi kamera. Pada pilihan ini tombol Trigger (merah) akan berfungsi jika kita mau memulai merekam.
  3. VTR Switch, pilihan power untuk menjalankan fungsi VTR.
  4. WHITE BALANCE, berfungsi menyesuaikan warna cahaya dengan kemampuan sensor terhadap warna putih.
  5. MICROPHONE, menangkap suara sekitar, tergantung kepada karakter MIC yang terdapat pada kamera.
  6. IRIS, pengaturan exposure cahaya yang diterima CCD.
  7. Assesoris. Hampir setiap Camcorder keluaran terbaru selalu menawarkan aplikasi-aplikasi tambahan seperti efek gambar, titel, edit, on camera , digital zoom, automatic lock dll. Ini berfungsi untuk mempermudah dan menambah kreasi bagi pemakainya.

Catatan : jangan lupa melindungi kamera Anda. Hujan, debu, Lembab, dingin akan mempengaruhi sistem pada kamera.
Lensa & Microphone
Contohnya ukuran normal untuk lensa still foto adalah ±  50 mm, tapi bagaimana dengan video. Jangan terlalu dipusingkan dengan angka-angka, karena yang penting adalah kita tahu karakter dari setiap focal length yang digunakan. Hampir semua Camcorder yang diproduksi sekarang menggunakan satu lensa dengan Variabel Fokal Length atau yang lebih dikenal dengan Zoom Lens. Jadi sudah meliputi lensa sudut lebar (wide), normal, dan sempit (tele).
Sama halnya dengan microphone untuk merekam suara, yang juga memiliki karakter sudut yang berbeda.
Jangan lupa, selain merekam gambar kita juga merekam suara dengan Camcorder kita. Tapi ini tergantung kepada sistem perekaman suara yang kita pilih. Apakah perekaman suara langsung (direct sound) atau perekaman tidak langsung (dubbing), di mana pengisian suara dilakukan pada saat Pasca Produksi di studio.
Satu hal yang perlu diingat jika kita merekam suara langsung, perhatikan suara sekitar. Apakah suara itu menjadi pendukung dramatik atau malah mengganggu (noise).
Pencahayaan
Video adalah salah satu media yang menggunakan fenomena fotografi, yang pada dasarnya hanya tercipta jika ada cahaya  (foto). Bagaimana kita menggunakan cahaya sebagai cat guna media ekpresi kita.
Dalam tata cahaya terdapat dua bentuk media pencahayaan yaitu :

  1. Available Light atau cahaya alam (nature-matahari)
  2. Artificial Light atau cahaya buatan (lampu)

Sementara dari sisi fotografi sumber cahaya, ada tambahan pencahayaan, yaitu sumber cahaya dari pantulan (bouncing).
Sedang dalam tata cahaya film memiliki cahaya dasar yang terlihat pada bingkai :

  1. Key Light, cahaya utama dimana cahaya ini sebagai penerang utama dalam bingkai.
  2. Fill Light, cahaya tambahan guna mengisi bagian yang gelap dengan perbandingan terang gelapnya sesuai yang diinginkan.
  3. Back Light, cahaya tambahan dari arah belakang, berguna untuk menciptakan ruang.
  4. Available Light, contohnya seperti jika malam terlihat cahaya lampu yang jatuh di langit-langit, atau jika siang ada cahaya yang masuk dari jendela.

Catatan: dalam penggunaan video jangan sampai perbandingan antara Hi Light  (bagian paling terang) dan Shade (bagian paling gelap) terlalu tinggi atau biasa disebut Hi Contras, karena jika kita prioritaskan bagian Hi Light, detail pada Shadow akan hilang begitu pula sebaiknya.
Contoh : bila kita shooting dengan cahaya latar belakang terlalu terang maka kita bisa gunakan reflektor untuk menambahkan cahaya pada subjek apakah itu dari styrofoam atau aluminium foil yang ditempelkan di karton atau tripleks. Alat bantu ini dikenal dengan Reflector.
Jangan paksakan kemampuan kamera dari yang sudah ditentukan pada buku petunjuk, biasa disarankan minimal lighting  100 lux. Jika dipaksakan maka gambarnya akan terlihat seperti pecah aleh titik-titik.
Warna
Mungkin kita pernah lihat warta berita di salah satu stasiun TV gambarnya cenderung kebiruan. Ini disebabkan setup warnanya tidak disesuaikan.
Pada umumnya, handycam sekarang memiliki peralatan yang serba automatis, tapi jika tidak kita harus sesuaikan kamera kita dengan warna cahaya yang digunakan, atau yang disebut dengan White Balance.
Kenapa harus putih ? Sebab warna cahaya putih mengandung semua unsur warna cahaya.
Jadi kita memang harus menyesuaikan setting warna di kamera dengan sumber cahaya, caranya dengan menyesuaikan switch White Balancenya. Jika kita menggunakan lampu, switchnya ke gambar lampu.
Kestabilan  Gambar
Memang fungsi film itu untuk merekam ide anda kedalam film, dan untuk melakukan ini harus dengan posisi yang benar dan stabil sehingga objek yang difilmkan tidak buram (blurry).
Walaupun ada orang yang bisa memegang kamera stabil dengan kedua tmgannya, Anda tetap disarankan untuk menggunakan tripod sebagai penyangga kamera. Atau dibantu dengan grip yang lain.
Yang dimaksud dengan grip disini adalah semua peralatan pendukung kamera untuk menghasilkan geraklan yang halus selain sebagai penyangga.
Movement (gerakan)
Pan (panning), gerakan kamera memutar ke kanan maupun ke kiri pada poros vertikalnya.
Tilt, gerakan kamera menunduk (down) dan mendongak (up) pada poros horisontalnya.
Track, gerakan kamera terhadap objeknya, baik mendekat – maupun menjauh, ke kanan, ke kiri mauoun bergerak bersama kamera dengan objeknya. Bisa dengan dolil, di panggul (hand held), maupun dengan stabilizier (steady cam).
Crane, gerakan kamera meninggi atau merendah dari dasar pijakan objek
Scafolding, Rigs, Mount juga termasuk grip. Semua alat ini mendukung penempatan kamera pada posisi yang tinggi, kendaraan yang bergerak maupun areal shot.
Dengan peralatan tersebut di atas juga bisa dilakukan gerakan kombinasi.
Catatan :  Jika akan menggunakan gerakan (movement) jangan langsung menggerakan kamera pada saat kamera baru mulai merekam, berikan jeda sekitar 3 detik.
Apa Yang Harus Dilakukan
Pertama kita harus kuasai dahulu kamera yang akan kita gunakan. Baca cara penggunaannya (manual book), apa kelebihannya, jangan sekali-sekali menggunakan kamera tanpa kita mengerti dahulu. Apa yang kita pencel pasti membuat perubahan.
Kedua, sebelum kita mulai sebuah shooting pelajari dahulu apa yang ingin kita buat. Karena akan mempengaruhi kebutuhan alat yang yang digunakan.
Ketiga, tes dahulu peralatan sebelum kita gunakan :
1. Battery masih dapat bertahan lama atau tidak. Biasakan jika kita menggunakan battery Ni-Cad, jika belum habis jangan langsung diisi (charge).
Usahakan sebelum shooting battery dalam keadaan penuh.
2. Nyalakan power apakah semua bekerja dengan baik.
3. Cek lensanya dalam keadaan bersih atau tidak, jangan sekali-kali membersihkan lensa dengan pembersih sembarangan. Gunakan tissue khusus lensa yang halus dan pada saat membersihkan jangan biasakan lensa dalam keadaan kering minimal gunakan uap dari mulut kita. Zoomnya dalam keadaan baik atau tidak.
4. Coba rekam sedikit kemudian playback apakah gambar dan suara dalam keadaam bag us, jika kotor langsung dibersihkan dengan pembersih yang dianjurkan di buku petunjuk.
5. Cek semua peralatan pendukung, apakah tripod dalam kondisi baik.
6. Lampu, reflektor, cutter llight, diffuser.
7. Buat list peralatan.
Keempat, pada saaat shooting kita harus selalu memeriksa kamera, apakah sudah white balance, efek, titel, tanggal, jam apakah dibutuhkan, juga soal pencahayaannya.
Sebagai kamera operator, tidak boleh lepas dari viewfinder-nya saat pengambilan gambar
Kelima, untuk suara cek dengan menggunakan earphone atau headphone apakah suara yang masuk sesuai dengan yang diinginkan.
Keenam, Yakin dengan gambar yang dibuat, jika kurang yakin ulangi (retake), biasakan selalu berikan 5 detik di depan dan di belakang adegan untuk mempermudah penyambungan pada saat editing.
Ketujuh, biasakan untuk selalu memonitor (evaluasi) gambar, pada saat pasca produksi (grading). (dari berbagai sumber)
*Untuk lebih detil Anda bisa membaca buku Videografi karya Askurifai Baksin

MATERI JURNALISME FILM (lanjutan)

MANAJEMEN PRODUKSI FILM
Produser adalah seseorang yang menjadi fasilitator dan menyiapkan segala kebutuhan produksi dari tahap awal hingga akhir, termasuk menyiapkan segala formulir dan catatan produksi bagi kelancaran shooting
Produser adalah pengambil  keputusan tertinggi dalam sebuah produksi film, ia kemudian menghitung biaya produksi sebuah film dan bertanggung jawab berlangsungnya produksi sesuai anggaran & waktu yg direncanakan
Seorang produserlah yg akan mencari penulis skenario yg dapat menuliskan cerita utk menjadi screen play, mencari bakat sutradara yg sesuai dg jenis dan gaya film yg ingin diproduksi  & juga aktor-aktris yg tepat utk memerankan tokoh utamanya

  • Fungsi produser dalam film-film  tertentu dpt dirangkap sutradara film itu sendiri, terutama pada film-film formalis, di mana sutradara adalah pemilik dari ide cerita & penulis skenario dari film tersebut
  • Selain produser ada juga yang disebut Produser Eksekutif, yakni produser kedua yang biasanya disesuaikan dengan kontribusi dan prosentase finansial dalam produksi tersebut
  • Produser bekerja dibantu oleh Line Produser, Production Manager, dan Production Assistant

PROSES PRODUKSI

  • Praproduksi
  • Produksi
  • Pasca produksi

PRAPRODUKSI

1. Pengembangan skenario

-dilakukan oleh produser, sutradara, dan
penulis skenario
-membahas pengembangan atau  peram-
pingan cerita utk eksekusi di lapangan
-hal ini diperlukan utk perhitungan budget dan
durasi film

2. Working Schedule

-adalah jadwal tahapan kerja sejak pra produksi, produksi hingga pascaproduksi
-berisi tugas-tugas yg hrs dilakukan para kru dan target waktu yg hrs diselesaikan
-juga dipakai utk progress report sehingga dapat diketahui sejauhmana pekerjaan   yg sudah dilakukan masing.

3.Script Breakdown Sheet

-berisi data & informasi keadaan serta kebutuhan scene per scene
-jumlahnya disesuaikan dg jumlah scene yg tertera pada skenario
-pengupasan pekerjaan ini dikerjakan astrada 1 dan manager produksi         berdasarkan pertimbangan masing2 departemen.

4.Breakdown Script

-diturunkan dari script breakdown sheet
-berisi susunan scene pertama hingga akhir, jika ada sertakan dg OBB
-gunanya utk melihat kebutuhan seluruh produksi  lengkap dg waktu pengambilan gambar dan lokasi yg digunakan

5. Run Down

-setelah disusun scene demi scene maka dikelompokkan menjadi  run down yg  berfungsi sbg pedoman jadwal pengambilan gambar
-pengambilan menjadi tidak berurut tapi sesuai dg kelompok lokasi pengambilan gbr
-tujuannya utk efisiensi kerja

6.Breakdown Budget

-tiap departemen membuat rencana anggaran produksi dari awal hingga akhir, scene demi scene.

7. Budget Produksi

-keseluruhan dana utk produksi dituangkan dalam budget produksi
-dg pertimbangan rekap dana dari masing-masing departemen dan dana utk            kebutuhan lain.

8.Hunting Lokasi

-location on script yg digambarkan penulis skenario diterjemahkan sepenuhnya oleh sutradara dg pertimbangan produser dan penulis skenario
-dipertimbangkan berdasar jauh dekatnya lokasi, keterjangkauannya, ada tidaknya sumber energi, dan kecukupan logistik dan lainnya

9.Perijinan dan Lokasi

-setelah lokasi syuting sudah ditentukan barulah dibuat perijinan untuk       penggunaan lokasi tersebut sesuai dengan lamanya syuting.

10. Logistik

-adalah segala kebutuhan bahan baku maupun perangkat kerja yang dibutuhkan hingga selesainya produksi
-termasuk di dalamnya konsumsi

11.Transportasi

-kebutuhan alat transportasi sangat vital karena utk mengangkut peralatan   produksi, apalagi jika lokasi syuting cukup jauh
-sesuaikan alat transportasi dengan lokasi syuting

12. Recruitment Tim Produksi

-melalui seleksi sesuai dengan kebutuhan produksi
-tiap kru bekerja secara profesional sesuai dengan tugasnya masing-masing.

13.Desain Produksi

-meliputi segala hal mengenai data dan informasi keseluruhan produksi film dari    pra praduksi hingga pasca produksi
-proses penggarapan film yang dituturkan secara lisan
-sebagai panduan seluruh proses produksi.

14.Talent Casting

-memilih para calon pemeran dalam sebuah produksi film
-tak hanya sekadar cantik dan ganteng, yg penting bisa memerankan tokoh
-biasanya lewat publikasi, lalu diadakan casting dg cara membacakan penggalan scene dari cerita film tersebut.

15. Storyboard

-merupakan visualisasi rekaan yg berbentuk sketsa seperti komik atau perkiraan  hasil gambar yang nantinya akan dijdaikan pedoman pengambilan gambar oleh  juru kamera
-dibuat oleh storyboarder dengan  pertimbangan dari sutradara dan DOP.

16. Reading-Rehearsal Talent

-sebelum syuting seluruh talent harus dilatih dulu oleh sutradara dan asistennya  agar sesuai rencana
-saat reading talent berlatih memahami peran yg akan dibawakannya dengan cara   mengucapkan dialog2
-rehearsal dilakukan utk mempraktekkan bagaimana blocking dan akting di depan kamer1.

17. Floor Plan

-panduan blocking atau peta lapangan produksi
-tujuannya utk mengefektifkan jalannya produksi
-dari sini sutradara tdk perlu lagi mengatur blocking perangkat produksi krn para  kru tinggal membuka floor plan
-yang penting improvisasi sutradara

  1. Tata Cahaya

-pengaturan tata cahaya sangat penting untuk keindahan film meliputi key light,  fill in light dan back light

  1. Director’s Treatment

-visualisasi cerita yang dibuat oleh sutradara berdasarkan skenario yang ada
-sutradara mengupas scene dalam scenario menjadi beberapa adegan yg dipecah  lagi secara rinci dalam  bentuk shot-shot

  1. Shot List

-dibuat oleh sutradara sebagai rencana urutan pemecahan adegan secara rinci
-berguna utk mengetahui proporsi adegan disesuaikan dg durasi pengambilan         gambar dan struktur tangga dramatik
-dapat dijadikan acuan berapa jumlah shot pada sebuah scene

  1. Daily Production Report

-laporan pengambilan gambar tiap hari
-dibuat oleh manager produksi berisi segala informasi harian dari penjemputan, proses penjadwalan kegiatan dan pelaksanaan hingga kepulangaan seluruh kru dicatat di sini

  1. Property dan Set

-semua peralatan yang digunakan dalam produksi film harus didata dan dicek        sehingga ketika akan syuting tidak mengalami kesulitan
-property meliputi hal-hal yang dipakai dalam sebuah cerita film
-set merupakan kelengkapan lokasi dan benda-benda yg dapat memberikan            informasi dari cerita yang akan dibuat

  1. Wardrobe/Make-up

-wardrobe lebih mengarah pada pakaian dan asesoris yang dikenakan talent
-make up diperlukan untuk mempertegas nuansa akting dan karakter talent

  1. Desain Editing – Specil Effect

-bagaimana hasil pengambilan gambar tersebut akan disusun
-special effect apa yg akan digunakan utk menduikung hasil pengambilan gambar
-rencana hasil akhir yg akan ditampilkan
PRODUKSI
Adalah proses syuting atau eksekusi di lapangan yang meliputi beberapa hal dari    jadwal syuting sampai mood dan kontinuitas produksi

  • BEBERAPA HAL MENYANGKUT PRODUKSI
  1. Jadwal Produksi

-jadwal produksi dibuat untuk disiplin kerja untuk mencapai hasil maksimal            dengan pedoman on time on budget

  1. Evaluasi Kerja

-setiap selesai bekerja diusahakan setiap hari diadakan evaluasi harian untuk           mempelajari kendala dan solusi selama syuting pada hari itu

  1. Management Pengelolaan Kru Produksi

-tiap bagian harus memperhatikan pekerjaannya masing-masing
-disfungsi dari masing-masing jabatan akan berakibat fatal

  1. Menempatkan Person pada Posisinya

-ditentukan secara cermat pada saat recruitmen kru
-jangan sampai di lapangan terjadi tarik ulur fungsi dan pekerjaan

  1. Pengelolaan Perangkat Produksi

-masing2 alat harus ada penanggung jawabnya karena dialah yang menguasai         peralatan tersebut

  1. Komunikasi Antartim Produksi

-masing2 tim produksi harus mempunyai alat komunikasi yg nantinya akan             diimplementasikan dalam bentuk progress report

  1. Keterjangkauan dan Keamanan Lokasi
  2. Sumber Air dan Listrik
  3. Kondisi Geografis dan Cuaca
  4. Konsumsi dan Logistik
  5. Kualitas Gambar dan Suara
  6. Mood dan Kontinuitas Hasil Produksi

PRODUKSI

  1. Logging

-proses seleksi gambar

  1. Digitizing

-proses merekam hasil rekaman ke dalam hardisk

  1. Offline editing

-menata gambar sesuai dg skenario

  1. Online editing

-memperhalus offline editing

  1. Mixing

-dialog, efek, musik dicampur
(berbagai sumber)
___________________________________________________________

JURNALISME FILM (Lanjutan)

TUGAS SUTRADARA

  • Menangani (to handle)

Perangkat keras (hardware)
-kamera, mic, lampu, dll
-yang fisik-fisik
Perangkat lunak (software)
-naskah cerita, biaya, ijin, dll
-yang nonfisik

  • Mengelola (to manage)

-perangkat insani (humanware)
-org yg menangani hardware dan
mengelola software

  • TUGAS AKHIR SUTRADARA

Adalah menerjemahkan atau  menginterpretasikan sebuah skenario dalam bentuk   imaji/gambar hidup dan suara

  • KOMPETENSI SUTRADARA

Peka terhadap Rumus 5 – C, yakni:
-close – up
-camera angle
-compotision
-cutting
-continuity

  • 6 Visual Element (6-V), yakni:

-sikap / pose (perlu monitor)
-gesture (kontekstual)
-movement (perpindahan tempat)
-purpose action (tindakan tertentu)
-facial expression (ekspresi wajah)
-eye contact (hubungan pandang)
KATEGORI FILM

  • Film Cerita

-isinya fiktif
-bisa juga diadaptasi dari cerpen, novel, dan cerita lainnya
-sebelum dibuat harus dibuat skenarionya terlebih dulu
-aspek akting biasanya hrs diperhatikan
-perlu aktor-aktris yg baik

  • Film Dokumenter

-isinya fakta
-bisa berdasarkan biografi, otobiografi, wawancara dan survei di lapangan
-aspek akting biasanya tdk terlalu ditekankan tapi murni
-pemeran biasanya diambil dari lapangan
TEMA-TEMA FILM (GENRE)

  • Drama  (human interest)
  • Action (pertarungan antagonis & protagonis)
  • Komedi  (slapstik & sitcom)
  • Tragedi (permainan nasib seseorang)
  • Horor (suspence-thriller)
  • Drama action
  • Komeditragi (komedi baru tragis)
  • Komedihoror (komedi baru horor)
  • Parodi (film lama yang diplesetkan)

MODAL PENTING SUTRADARA

  • Citarasa Seni
  • Memahami Karakter Penonton
  • Alternatif Rencana
  • Menempatkan Kru Sesuai Bidang Kerjanya
  • Penguasaan Dasar-dasar Pengambilan Gambar
  • Teknik Pengambilan Gambar
  • Konsep Editing
  • Setting Construction
  • Menguasai Dasar Tata Cahaya
  • Mengelolala Mood Crew dan Talent
  • Management Waktu dan Kerja
  • Tatarias Dasar
  • Suara Keras, Perintah Mudah Dipahami, dan Komunikatif

JENIS KAMERA DIBAGI TIGA

  • 1.Kamera foto (still photogtaphy)

-analog & digital

  • 2.Kamera film (cinema photography)

-8mm, 16mm, 35mm, 65mm

  • 3.Kamera video (video photography)

-UMatic, Betacam, DVCPro, 8Pro,  MiniDV, DVCam, HDCam
UNSUR-UNSUR DALAM SHOT

  • Faktor manusia (subyek lainnya)
  • Faktor ruang (alami & nonalami)
  • Faktor waktu (film time & real time)
  • Faktor peristiwa dramatik (dpt menimbulkan reaksi emosional penonton)
  • Faktor suara (informasi ruang, waktu, dan peristiwa)

TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR
1.Camera angle (sudut pengambilan gambar)
-bird eye view (dari ketinggian)
-high angle (dari atas)
-low angle (dari bawah)
-eye level (sejajar air)
-frog eye (mata katak)
2. Frame size (ukuran gambar)
-ECU (extreem close-up)
-BCU (big close-up)
-CU (close-up)
-MCU (medium close-up)
-MS (mid shot)
-KS (knee shot)
-FS (full shot)
-LS (long shot)
-1 shot
-2 shot
-3 shot
-Group shot
3. Moving camera (gerakan kamera)
-Zoom in / zoom out (mendekat/menjauh)
-Panning (pan left / pan right)
-Tilting (tilt up / tilt down)
-Dolly (dolly in / dolly out)
-Follow (mengikuti objek)
-Framing (fram in / frame out)
-Fading (fade in / fade out)
-Tracking (track in / track out)
4. Moving object (gerakan objek)
-kamera sejajar dg objek
-walk in / walk out
5. Teknik lainnya
-backlight shot
-reflection shot
-door frame shot
-point of view shot
-artificial framing shot
-jaws shot
-overshoulder shot
-framing with background
-the secret of foreground framing shot
-artificial hairlight
-fast road effect
-walking shot
-traveling shot
TYPE OF SHOT
1.Master shot
Pengambilan gambar secara menyeluruh terhadap objek utk memperlihatkan kondisi utuh
2.Cover shot
Pengambilan gambar secara close-up utk memperlihatkan detil objek dan menjelaskan
3.Reverse shot
Kebalikan dari cover shot, yakni untuk menjelaskan kepada penonton detil objek kebalikannya

MODAL PENTING SUTRADARA

  • Citarasa Seni
  • Memahami Karakter Penonton
  • Alternatif Rencana
  • Menempatkan Kru Sesuai Bidang Kerjanya
  • Penguasaan Dasar-dasar Pengambilan Gambar
  • Teknik Pengambilan Gambar
  • Konsep Editing
  • Setting Construction
  • Menguasai Dasar Tata Cahaya
  • Mengelolala Mood Crew dan Talent
  • Management Waktu dan Kerja
  • Tatarias Dasar
  • Suara Keras, Perintah Mudah Dipahami, dan Komunikatif (berbagai sumber)

Untuk lebih detil baca buku Videografi karya Askurifai Baksin
___________________________________________________________

MATERI JURNALISME FILM (terakhir)

PERSIAPAN SHOOTING

Setelah memiliki skenario, storyboard, shooting schedule, kamera dan bahan baku, ijin, dan sebagainya , langkah selanjutnya untuk membuat film adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kelancaran shooting. Gunanya agar shooting tidak tersendat-sendat.
Ada dua hal yang bisa kita persiapkan disini:
1.  PERSIAPAN FISIK
* Divisi Kamera Dan Suara
Persipan fisik di sini bukan saja persiapan fisik pada kru film, tetapi juga menyangkut persiapan fisik peralatan shooting, diantaranya yaitu :
-Kamera                      : cek kembali kelayakan kamera
-Bahan baku                : cek jumlahnya, kelayakan, expired datenya
-Tripod                        : cek kembali kelayakan tripod
-Battery                       : cek apakah battery dan cadangannya sudah dalam            keadaan    full  atau belum
-Pembersih kamera      : cek apakah sudah pada tempatnya
-Microphone                : cek apakah microphone sudah ada battery-nya dan cadangan juga                           sudah tersedia
-Kabel                                     : cek kembali apakah kabel-kabel dalam kondisi baik
-Transportasi               : apakah sopir dan mobilnya sudah ready to go
-Lighting                     : cek apakah bola lampu yang akan dipergunakan tidak putus
-Reflector                    : berapa banyak reflektor yang diperlukan,jenisnya
Persiapan fisik ini bersifat teknis, dan biasanya dilakukan oleh Cameraman.
Asistennya, para penata Suara/Asistennya, juga Juru Lampu / Asistennya.
Divisi Penyutradaraan
Biasanya dilakukan oleh para Asisten Sutradara, karena biasanya para sutradara sudah sibuk memikirkan gambar yang akan dibuatnya.
Hal-hal yang perlu dilakukan para Asisten Sutradara itu :
–          Menyiapkan skenario, jangan lupa dibawa pada saat shooting.
–          Membawa Story Board.
–          Membawa jadwal Shooting hari perhari
–          Membawa jadwal Pemain
Asisten Sutradara juga sebagai penjaga agar shooting tidak menyimpang dari yang telah disepakati sebelumnya.

Divisi Artistik dan Properti

Persiapan ini biasanya dilakukan oleh Penata Artistik/asistennya,
-Mencek apa semua properti yang dibutuhkan sudah tersedia dan sudah siap dibawa.
-mencek apakah setting yang akan dipergunakan dilokasi sudah siap dan sesuai dengan skenario.
Selain persiapan fisik peralatan shooting, pembuat filam juga harus mempersiapkan fisik dan mental diri sendiri. Kita harus sadar bahwa shooting membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra, dan kita tidak pernah tahu kesulitan apa yang kita hadapi di lapangan.
2. PERSIAPAN ADMINISTRASI
Persiapan administrasi biasanya dilakukan dilakukan oleh Manager Produksi yang dibantu oleh asistennya yang biasa disebut Asisten Produksi. Tugasnya antara lain:
–          Surat ijin : beberapa surat ijin yang biasanya diperlukan, SURAT IJIN SHOOTING, SURAT IJIN KEPOLISIAN  (keramaian) dan SURAT IJIN LOKASI  SHOOTING
–          Surat panggilan Shooting : cek kembali apakah surat panggilan syuting sudah dikirim dan sampai ke tujuan (ini ditujukan kepada ‘crew’)
–          Mencek kembali jadwal Syuting Harian
–          Konfirmasi ke lokasi Syuting
–          Konfirmasi ke pemain
–          Mengkordinir para kameramen, Assisten Sutradara, dan bagian Artistik untuk mencetak kepentingannya.
–          Menyiapkan uang : uang ini sebagai pegangan di lokasi syuting, karena kita tak pernah tahu kesulitan di lapangan
–          Mencek kendaraan produksi apakah sopir dan mobil sudah layak jalan
–          Mencek konsumsi/Catering
–          Laporan Shooting
–          Menyiapkan clopboard
Pada intinya Persiapan Administrasi tidak boleh dianggap remeh, karena hal-hal seperti itu dapat menghambat shooting.
Kerja film adalah kerja team/kelompok . Tim penyutradaraan bila tidak dibantu dengan Team kamera tidak akan menghasilkan gambar. Semua tim (Produksi, Kamera, Suara Artistik,Penyutradaraan dan Editing) saling bahu membahu bekerja bersama untuk menghasilkan karya film yang baik.(berbagai sumber)
*Selamat mengerjakan UTS
*Selamat praktik membuat film dokumenter
*Semoga sukses selalu!
_____________________________________________________________

MATERI KULIAH JURNALISME FOTO

(MAHASISWA UIN BANDUNG)

CABANG FOTOGRAFI

  1. Fotografi Alam
  2. Fotografi Jurnalistik
  3. Fotografi Seni
  4. Fotografi Studio
  5. Fotografi Udara

ASUMSI-ASUMSI
—Kebutuhan masyarakat akan berita yang bercampur aduk dengan cerita melahirkan penyajian visual yang sensasional. Berbagai tampilan kekerasan yang hadir dalam sajian foto, film cerita, sampai warta berita terkemas dengan teratur oleh kemampuan penyajian yang canggih. Begitu rapinya penyajian baik yang nyata maupun khayal. Lihat saja tayangan serangan ke Irak oleh kantor berita televisi Barat, dengan gambar-gambar Saddam Hussein sedang menembak, misalnya, menimbulkan kesan seolah-olah ia patut diserang.
—Duka nestapa orang, di negeri jauh atau di bagian kota tempat kita tinggal, merupakan berita mutakhir dan tontonan bagi pemirsa. Kecepatan arus berita dan gambar lebih sering menyebabkan pembaca-pemirsa sulit secara riil sadar akan apa yang telah ia lihat, menjadikan semua, seperti kata Baudrillard, seolah maya, antara realitas dan fiksi. Juga membuat pemirsa semakin sulit tahu secara persis apa yang sedang terjadi, apalagi ikut larut dalam peristiwa yang dihadirkan dalam gambar tersebut.
—Laszlo Moholy-Nagy, “A New Instrument of Vision”, Telebar Vol. 1/2 1936. W. J. T.Mitchell dalam The Language of Image (1974) menawarkan tiga pengertian bahasa citra.
—Pertama, bahasa tentang citra, yaitu kata-kata yang biasa digunakan saat kita berbicara tentang lukisan, desain dalam abstraksi, sebagaimana wacana interpretatif yang lazim.
—  Kedua, citra yang dianggap sebagai bahasa; semantik, sintaksis, citra yang komunikatif untuk memberi isyarat; bercerita, mengekspresikan ide dan emosi, melahirkan pertanyaan, dan seterusnya.
—  Serta ketiga, bahasa verbal sebagai sistem yang disampaikan melalui bentuk citra. Ini adalah sistem karakter grafik pada dunia tulis-menulis sebagai bahasa literal.
—  Sudah saatnya kita sadar bahwa fotografi dan sajian media pandang dengar pun telah memasuki tahapan yang sama dengan dunia cetak-tulis yang pada masanya pernah dianggap sebagai suatu kebenaran. Kini kita sudah tidak lagi mengagungkan berita cetak. Kita mampu menyaring berita yang tertulis, namun kehadiran foto di sisinya seolah memutlakkan kebenaran berita itu.
—  Satu hal yang patut kita waspadai adalah bahwa gabungan keduanya bukan-lah kebenaran yang obyektif, tetapi mungkin satu data yang berguna bagi kita. Hanya dengan bersikap realistis dan kritis kita mampu memahami dan menikmati keunggulan budaya visual dan lensa tanpa harus terperosok dan tertipu oleh sisi lainnya yang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya itu sendiri.
—  Begitu juga pornografi, yang kerap diperdebatkan secara serampangan oleh lembaga yang harus mengeluarkan fatwa ketika berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan moral. Di situ dilupakan bahwa sering kali foto yang disebut pornografi semula dibuat dengan maksud yang berbeda dengan niat mereka yang menghadirkannya kembali.
—  Situs foto pedofilia, misalnya, bisa saja berisi foto-foto yang dicuri dari anggota keluarga, dan diberi teks yang provokatif, meski tentu saja ada juga pembuatan foto dengan maksud mesum. Akan tetapi, saat hasil cipta berupa foto terpisah dari kehendak pencipta maka lahirlah satu kenyataan baru yang lebih sering berlawanan dengan kehendak juru foto.
—  Ketidakjelasan dan ketidakpahaman tentang penciptaan foto, penggunaan hasil karya yang sering menjauh dari maksud semula, serta anggapan masyarakat yang berprasangka, tidak bisa dimungkiri lahir dari anggapan bahwa foto sesungguhnya adalah seni yang mewakili kenyataan dan bukan ekspresi juru foto sebagai seniman. Semua itu menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat pada foto sebagai penghadir kenyataan yang obyektif cenderung tersesat oleh semakin rumitnya penyajian, dan itu juga terjadi karena ketidakmampuan pemirsa untuk mencerna citra.
—  Fotografi pun merupakan satu riak dalam gelombang besar teknologi dan budaya infrastruktur ekonomi kapitalisme industri—sebuah sistem sosial ekonomi yang, walau menekankan pentingnya individualisme, merupakan sistem paling dahsyat dalam melakukan eksploitasi kemampuan manusia oleh manusia. Proses alienasi individu dan peminggiran masyarakat pekerja adalah satu ciri zaman yang dikenal sebagai zaman modernisme,zaman yang menunjukkan pesatnya kemajuan teknologi dan budaya, yang diiringi pula oleh segala nestapanya. Semua ini lahir di dunia yang tengah marak memasuki babak baru, baik dari segi teknologi maupun dari pemikiran filosofis dan ideologis.
—  Kenyataan-kenyataan di atas semakin meyakinkan kita bahwa meski menghadirkan realitas, fotografi merupakan perwujudan ekspresi subyektif seorang juru foto. Maka tidak terelakkan lagi bahwa apa yang kita lihat—hasil foto ataupun audio visual—harus dikaji dari konteks pembuatan dan keterkaitan dengan penyajiannya kembali, apa pun tujuannya, betapapun sederhana proses dan hasilnya. Jadi, tak bisa tidak, untuk memahami penyajian visual ini seseorang patut dan harus memiliki wawasan yang cukup luas, misalnya memahami konteks kehadiran tubuh dalam penyajian visual di dalam persoalan pornografi tadi. Sebab, tanpa pemahaman akan iktikad pencipta akan terjadi penyederhanaan, kalau bukan pendangkalan, yang pada akhirnya menyudutkan penciptanya.
—  Kemajuan teknologi rekam digital semakin lama semakin mendekat kualitas pola rekam analog. Misalnya kesan kedalaman (depth of field) yang selama ini menjadi kendala dalam sistem penerimaan mosaik pada metode digital, sekarang telah teratasi oleh adanya sistem foveon yang seperti film, menggunakan sistem penerimaan berlapis (layer).
—  Penghadiran kembali kenyataan secara visual berperan besar pada pembentukan opini publik, dan di situ juru fotolah salah satu penanggung jawab utamanya. Karenanya, para juru foto jurnalistik maupun fotografer seni yang progresif di dunia sosialis pernah meyakini bahwa fotografi dapat berperan dan bertanggung jawab dalam pembentukan masyarakat yang ideal, berlawanan dengan mereka yang mengagungkan obyektivitas lensa yang dianggap netral, yang justru akhirnya digunakan secara manipulatif!
—  David Ogilvy—”nabi” dunia iklan itu—pun, sejak awal tahun 1940-an menyatakan bahwa untuk memengaruhi masyarakat, lebih baik menggunakan satu foto daripada seribu sketsa gambar tangan.
DEFINISI FOTO JURNALISTIK
—Wilson Hick redaktur senior majalah ‘Life’ (1937-1950) dalam buku World and Pictures (new York, Harper and Brothers, Arno Press 1952, 1972), foto jurnalistik adalah media komunikasi verbal dan visual yang hadir bersamaan.
—  Henri Cartier-Bresson, salah satu pendiri agen foto terkemuka “Magnum” yang terkenal dengan teori ‘Decisive Moment’ — menjabarkan, “foto jurnalistik adalah berkisah dengan sebuah gambar, melaporkannya dengan sebuah kamera, merekamnya dalam waktu, yang seluruhnya berlangsung seketika saat suatu citra tersembul mengungkap sebuah cerita.”
—  Menurut Oscar Motuloh dalam makalahnya “Suatu Pendekatan Visual Dengan Suara Hati”, foto jurnalistik adalah suatu medium sajian untuk menyampaikan beragam bukti visual atas suatu peristiwa pada masyarakat seluas-luasnya, bahkan hingga kerak di balik peristiwa tersebut, tentu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
—  Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa foto jurnalistik merupakan kombinasi antara bentuk visual (foto) dengan kata-kata (yang mengungkapkan sebuah cerita dari sebuah peristiwa dalam bentuk kerangka 5W+1H) dan kemudian disebarluaskan/dipublikasikan kepada masyarakat. Sehingga foto jurnalistik menjadi sebuah berita ataupun informasi yang dibutuhkan masyarakat, baik local, regional, nasional maupun pada tingkat internasional.
KARAKTERISTIK FOTO JURNALISTIK
1. Dasar foto jurnalistik adalah gabungan antara gambar dan kata. Keseimbangan tertulis pada teks gambar (teks foto) adalah mutlak. Caption atau teks foto membantu melengkapi informasi dan memahami sebuah imaji (gambar, foto) yang dibagi di tengah-tengah masyarakat.
Sehingga keduanya antara gambar (foto) dan berita (teks) memiliki keterikatan yang tak bisa dipisahkan. Sebuah foto mampu memberikan informasi selengkap berita apabila dilengkapi teks foto.
Berdasarkan standar IPTC (International Press Telecomunication Council) teks foto harus selalu melekat di dalam foto itu sendiri. Penulisan teks foto bisa dilakukan pengeditan gambar di dalam photoshops, dengan menuliskannya di dalam file info yang telah tersdia.
2. Mediun foto jurnalistik biasanya disajikan dalam bentuk cetak baik itu surat kabar, tabloid, media internal, brosur maupun kantor berita. Bahkan saat ini media online telah masuk dalam kategori ini, mengingat perkembangan multimedia yang terus tumbuh.
Selain itu penyajian fotojurnalistik juga disajikan secara jujur, bagaimana adanya, tanpa ada rekayasa dalam penyajiannya.
3. Lingkup foto jurnalistik adalah manusia. Itu sebabnya seorang jurnalis foto mempunyai kepentingan mutlak pada manusia. Posisinya pada puncak piramida sajian dan pesan visual.
Dinny Soutworth menyimpulkan, merangkul manusia adalah pendekatan prioritas bagi seorang foto jurnalis, karena kerja dengan subyek yang bernama manusia adalah segala-galanya dalam profesi tersebut.
4. Bentuk liputan foto jurnalitik adalah suatu upaya yang muncul dari bakat dan kemampuan seseorang foto jurnalis yang bertujuan melaporkan beberapa aspek dari berita. Menurut Chick Harrity yang telah lama bergabung dengan kantor berita Associated Press (AP), USA, dan US News &World Report mengatakan, tugas seorang jurnalis foto adalah melaporkan berita sehingga bisa memberi kesan pada pembacanya seolah-olah mereka hadir dalam peristiwa yang disiarkan itu.
Tugas foto junalis adalah melaporkan apa yang dilihat oleh mata kemudian merekam dalam sebuah gambar  yang kemudian disampaikan secara luas melalui media massa. Yang memberi kesan bawa pembaca (masyarakat) seolah-olah berada di lokasi peristiwa itu.
5. Foto jurnalistik adalah fotografi komunikasi, di mana dalam penyajiannya bisa diekspresikan seorang foto jurnalis terhadap obyeknya. Obyek pemotretan hendaknya mampu dibuat berperan aktif dalam gambar  yang dihasilkan, sehingga lebih pantas menjadi obyek aktif.
Namun dalam perkembangannya kini foto jurnalistik juga merupakan media ekspresi seorang foto jurnalis terhadap hasil karya-karyanya setelah melakukan peliputan. Sehingga tak heran jika dalam sebuah media menyiapkan halamannya secara khusus untuk memajang berbagai macam foto-foto hasil liputan karya foto jurnalisnya.
6. Pesan yang disampaikan dari suatu hasil visual foto jurnalistik harus jelas dan segera bisa dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Pendapat sendiri atau pengertian sendiri tidak dianjurkan dalam foto jurnalistik, apalagi melakukan rekayasa.Gaya pemotretan yang khas dengan polesan rasa seni, tidak menjadi batasan dalam berkarya. Yang penting pesan yang disampaikan dapat dikomunikasikan di tengah-tengah masyarakat.
7. Foto jurnalistik membutuhkan tenaga penyunting yang andal, berwawasan visual yang luas, jeli, arif dan bermoral dalam menilai foto-foto yang dihasilkan oleh foto jurnalis. Seorang penyunting (editor foto) juga harus mampu membantu mematangkan ide-ide dan konsep foto jurnalis yang melakukan liputan terhadap sebuah peristiwa. Penyunting foto juga harus mampu memberi masukan, memilih foto agar tidak monoton, hingga melakukan pemotretan ulang terhadap foto-foto yang akan disiarkan.
8. Karena fotojurnalistik menyajikan informasi yang berakurasi tinggi, seorang jurnalis secara langsung merekam peristiwa yang terjadi dilokasi tanpa merekayasa. Praktis karya-karya yang dihasilkan dari hasil peliputan fotojurnalis tak bisa terbantahkan oleh kata-kata. Pada setiap event seperti bentrokan, caos, aksi demo, dsb, seorang fotojurnalis selalu berada di garda paling depan, guna mengabadikan fakta-fakta yang terjadi melalui kameranya. (dodo hawe)

ELEMEN DASAR FOTO JURNALISTIK
—Headline
Suatu judul pendek di atas kata-kata yang menerangkan isi foto. Judul foto sebaiknya tidak lebih dari tiga kata. Kalimat yang terlalu panjang dapat menyebabkan tidak terbacanya kalimat tersebut.
—Caption
Kalimat atau kata-kata yang menjelaskan isi atau keterangan yang ada di dalam foto tersebut berkaidah 5 W + 1 H. Tidak semua elemen di dalam visual foto dapat menjelaskan secara informatif, seperti lokasi, kapan foto dibuat, siapa di dalam foto tersebut. Maka penjelasan secara rinci dan detil, ditulis dalam keterangan foto.
—Byline
Ini berkaitan dengan copyright, hak cipta atau pencipta/ pembuat dari foto tersebut. Maka di dalam sebuah media cetak terlihat atau terbaca di bawa foto, Kompas/ Agus Susanto atau Adri Irianto (Tempo).
—Credit
Pemegang hak siar atau penerbitan yang menyiarkan foto jurnalistik tersebut. Hak siar merupakan lembaga yang bertanggungjawab untuk menyiarkan foto berita tersebut ke publik.

                                                NILAI FOTO JURNALISTIK
—KEHANGATAN
Sesuai dengan prasyarat umumnya sebuah berita, subyeknya bukan merupakan hal basi, sehingga betapapun suksesnya pengambilan sebuah foto bila tidak secepatnya dipublikasikan, sebuah foto belumlah memiliki nilai berita.
—FAKTUAL
Subyek foto tidak dibuat-buat atau dalam pengertian diatur sedemikian rupa. Rekaman peristiwa terjadi spontan sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya, karena ini berkaitan dengan suatu kejujuran.
—INFORMATIF
Foto mampu tampil dan dalam kelebatan yang dapat ditangkap apa yang ingin diceritakan di situ, tanpa harus dibebani oleh sekeranjang kata. Pengertian informatif bagi tiap foto perlu ukuran khas. Sedikit berbeda dengan sebuah penulisan yang menuntut unsur 5W + 1H dalam suatu paket yang kompak, maka dalam sebuah foto jurnalistik minimal unsur who (siapa), why (mengapa) jika itu menyangkut tokoh dalam sebuah peristiwa. Dan keterangan selanjutnya untuk melengkapi unsur 5W + 1H (sebagai pelengkap informasi) ditulis pada keterangan foto (caption).
—MISI
Sasaran esensial yang ingin dicapai oleh penyajian foto berita dalam penerbitan, mengandung misi kemanusian, merangsang publik untuk menghargai apa yang patut dihargai atau sebaliknya menggugah kesedaraan mereka untuk memperbaiki apa yang dianggap brengsek.
—GEMA
Gema adalah sejauh mana topik berita berita menjadi pengetahuan umum, dan punya pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari dalam skala tertentu. Apakah satu peristiwa atau kejadian Cuma bersifat lokal, nasional. regional atau international.
—ATRAKTIF
Menyangkut sosok grafis foto itu sendiri yang mampu tampil secara mengigit atau mencekam, baik karena komposisi garis atau warna yang begitu terampil maupun ekspresif dari subyek utamanya yang amat dramatis.(eddy, 2007)

SUSUNAN EMOSIONAL DARI TERPAAN

                                 FOTO  JURNALISTIK

  1. Acuh  – tidak ada keterlibatan emosional
  2. Kasihan  – ada sekadar keterlibatan
  3. Mau menyumbang  – keterlibatan disusul kesanggupan menyumbang
  4. Rasa marah, berang, rasa terancam, oleh berita kejahatan yang keji
  5. Rasa iba, sayang  -foto kelahiran anak lmba-lumba
  6. Rasa resah, terancam  – oleh berita menumpuknya sampah, dll
  7. Rasa terhibur – oleh berita yang lucu
  8. Rasa muring-muring, perasaan diperlakukan tidak adil  – berita kenaikan harga yang mendadak, atau berita korupsi
  9. Rasa senang, memuji tindakan pemerintah  – berita tentang tertangkapnya komplotan penjahat
  10. 10. Rasa skeptis, kurang percaya  – berita tentang kemantapan harga pangan

BIDANG FOTO JURNALISTIK
War Correspondent (wartawan perang)
Wartawan foto yang bertugas di medan perang, embedded.
—Wartawan Foto Majalah
Dimulai majalah Life Magazine, muncullah:
VOGUE (fashion), Popular Science (ilmiah populer), Ladies Journal Home (wanita), Populer (pria), Home & Garden, Country Life (mancing), National Geographic Magazine (pencinta alam), Mounteneering (pendaki gunung), dll.
—LIFE MAGAZINE dan pemotret yg bekerja pada perusahaan film Holywood. Tradisi ini yang menciptakan star system di kalangan Holywood.
—VOGUE –yg menghasilkan pemotret-pemotret fashion dan model wanita cantik.
—FOTO OLAHRAGA
Wartawan yang terjun di dunia olahraga
—GENERAL INTEREST
Kelompok ini untuk menampung yang tidak diwadahi oleh bidang sebelumnya

ENAM SYARAT FOTO JURNALISTIK YG BAIK

  1. Foto berita harus mampu menojolkan diri, melawan membanjirnya informasi berita (prinsip persaingan).
  2. Foto berita harus disusun sedemikian rupa, hingga dia mudah diterima oleh pengamat, tanpa kesukaran mengenalnya. Prinsip berkesan pada indra pengamat.
  3. Foto berita harus mampu menyajikan beritanya dengan kekayaan detail gambar, yang dapat dikenal sebagai penyajian modern (prinsip  orisinilitas).
  4. Foto berita jangan menyampaikan ulangan-ulangan dari gaya pemberitaaan, untuk mencegah efek immunisasi (prinsip  pembaruan terus, untuk menghindarkan kebosanan dari pembaca).
  5. Foto berita harus mampu merangsang daerah-daerah sensitif dari proses penyampaian informasi dalam masyarakat. Proses relasi terhadap sensitivitas pengamat,
  6. Foto berita harus  benar-benar terjadi (“echt”) karena bila terjadi pemalsuan atau penipuan, dalam jangka panjang akan terjadi penolakan atas dasar pengalaman yang negatif. Prinsip ‘Glaubwurdigkeit Credibility’ (dapat dipercaya dan diandalkan)

MAKNA FOTO JURNALISTIK

  1. Foto berita sebagai lambang
  2. Foto berita sebagai himbauan
  3. Berita foto dengan ‘message’
  4. Foto jurnalisme  hi – hi – hi
  5. Foto jurnalisme  ha – ha – ha

-tubuh  manusia dan ciri-ciri fisik manusia
-kontras dan proporsi
-perbandingan dan simbolik
-situasi
-tingkah laku anak-anak

  1. Berita  foto dengan senyum
  2. Suasana ‘gawat’ pada foto berita
  3. Foto berita sebagai komentar sosial
  4. Foto tunggal sebagai laporan ilmiah
  5. Bolehkah foto berita mengambil  dari siaran tv?
  6. Memotret tinju dari siaran tv
  7. Bergemanya sebuah berita

YANG HRS DIPERHATIKAN DLM MEMBUAT CAPTION
1.  Kebiasaan Pembaca
Ketika menulis keterangan foto dengan atau tanpa judul, sangat baik bila dibuat dengan memahami karakter pembaca:
Pertama, saat pembaca melihat suatu foto maka pikirannya menangkap semua atau sebagian besar informasi visual (gambar) yang ditampilkan. Namun, sering juga pembaca hanya melihat sepintas, sehingga ada hal-hal kecil terlewatkan.
Kedua, begitu melihat foto yang menarik perhatiannya, umumnya pembaca melihat ke bawah foto untuk mencari informasi yang menerangkan foto itu. ltu sebabnya judul foto dan keterangan foto harus berkualitas.
Ketiga, biasanya setelah mencerna informasi dari judul dan keterangan foto. pembaca kembali melihat foto. Jadi teks yang dibuat harus memperkaya apa yang sudah ditampilkan visual (gambar) dan menjelaskan hal-hal yang perlu dijelaskan.
2. Kebutuhan Informasi
Kebutuhan informasi dari foto bisa berbeda-beda. Umumnya pembaca ingin tahu tentang:
* Siapakah dia? (Pada banyak kasus perlu mengidentifikasi orang dari kiri ke  kanan, kecuali aksi pada foto itu memerlukan keterangan lain)
* Mengapa foto itu dimuat yang dimuat?
* Apa yang tengah terjadi?
* Kapan dan di mana terjadinya?
* Mengapa tokoh/subyek dalam foto teriihat demikian?
* Bagaimana terjadinya?
Penting: teks keterangan foto harus menjelaskan apa yang tampak di foto (gambar). sehingga pembaca puas dan memahami maksud foto itu. Mereka tidak ingin (dan sebaiknya tidak) mendapat keterangan lagi atas apa yang sudah tampak jelas dalam foto. Keterangan foto sebaiknya memberi penjelasan tambahan yang tidak tampak dalam foto. Sebagai contoh, suatu foto menggambarkan penjaga gawang yang melompat untuk menangkap bola, tetapi yang tidak kelihatan adalah bagaimana hasilnya. Teks foto harus bisa menjelaskannya.
3. Saran dan syarat:
* Ringkas
* Padat
* Tidak bertele-tele.
Keterangan foto harus ringkas, padat, tetapi tidak seperti telegram. Tidak seperti judul berita yang menggunakan kata sandang dan penghubung, keterangan foto sebaiknya seperti alinea dalam berita. Keterangan foto harus jelas dan langsung ke tujuannya.
Hindari penulis bertele-tele. Jangan mengulang hal-hal yang sudah jelas dalam foto dengan menggunakan ungkapan: seperti yang terlihat, tampak dalam gambar di atas.
JANGAN SOK TAHU
—Penulis teks keterangan foto sebaiknya tidak mengasumsikan apa yang sedang dipikirkan seseorang dalam foto itu atau mencoba menginterpretasikan perasaan dari ekspresinya. Sebaiknya berikan saja fakta-fakta dan serahkan kepada pembaca untuk memutuskan sendiri situasi yang ia lihat.
Hindari yang diketahui, jelaskan yang tidak diketahui. Penulis teks keterangan foto harus menghindari penggambaran foto seperti cantik, dramatik, mengerikan, atau mendiskripsikan kejadian yang seharusnya muncul dalam foto tetapi tidak ada. jika kejadian itu tidak terbukti di dalam foto, apa yang Anda ceritakan ke pembaca tetap saja tidak terjadi.
Namun demikian, teks keterangan foto sebaiknya tetap menjelaskan kondisi bagaimana foto itu dibuat, terutama bila ada sesuatu yang tidak biasa menurut penglihatan manusia, adanya efek khusus, misalnya menggunakan inset atau memasang rangkaian foto.
GAMBARKAN YG TERJADI
—Penulis teks foto harus yakin bahwa kata-kata yang digunakannya menggambarkan apa yang ada di foto dengan tepat. Bila foto menunjukkan dua orang atau lebih, penulis teks foto harus menghitung dan mengindentifikasi orang tampak dalam foto, kemudian mencocokkan jumlah, jenis kelamin, dan identitas orang tersebut dengan teks keterangan yang dibuat. Perhatian khusus perlu terutama agar orang yang sudah dipotong gambarnya (cropped) dari foto asli tidak lagi disertakan dalam keterangan foto.
Selalu, selalu, dan selalu cek ejaan. Penulis teks foto harus mengecek ejaan nama-nama orang di dalam foto, apalagi bila foto itu berkait dengan suatu tulisan, agar tidak terjadi perbedaan penulisan.
WILD ART
—Foto yang berdiri sendiri dan tidak disertai berita disebut “wild art”. Karena itu, teks keterangan foto “wild art” harus menyediakan informasi dasar seperti tulisan atau berita. Standar 5W+1H (who, what, when, where and why) baik untuk menjadi pedoman dalam menulis teks keterangan foto. Bila Anda tidak memiliki semua informasi yang dibutuhkan, angkat telepon dan carilah informasi pelengkapnya. Jangan mencoba menulis teks foto tanpa fakta-fakta yang dibutuhkan. Kadang “wild art” dipasang di halaman depan untuk “menggoda” pembaca agar mau membaca cerita di halaman dalam. Akan tetapi, tidak sama seperti televisi, jangan menggoda pembaca melalui teks foto. Berikan penjelasan selengkapnya, berikan kesempatan untuk bisa masuk lebih dalam dengan keterangan yang lebih detail.
FOTO ILUSTRASI
—Jika foto menyertai suatu cerita, teks keterangan foto yang panjang umumnya tidak diperlukan. Kadang-kadang cukup satu baris keterangan tentang orang atau situasi yang tampak dalam gambar, sekadar untuk menjelaskan kaitannya dengan tulisan/berita. Ingat, kebanyakan pembaca teks keterangan foto belum membaca berita terkait.
Sebagian dari mereka bahkan tidak membaca beritanya, hanya teks keterangan foto dan judul berita. Jadi teks keterangan foto harus jelas, langsung ke sasaran, dan seimbang antara memberikan cukup informasi kepada pembaca agar memahami foto itu dan konteksnya dengan format yang ringkas dan padat.
Makin pendek makin baik. Penulisan teks keterangan foto sering memicu godaan untuk menggunakan kalimat-kalimat panjang. Hindarilah.
UNSUR WAKTU
—Kebanyakan surat kabar menggunakan gaya penulisan teks keterangan foto yang menggunakan kalimat dengan waktu sekarang (present tense) dan rangkaian kalimat berikutnya dalam bentuk lampau (past tense). Alasannya, kalimat pertama menceritakan kepada pembaca apa yang terjadi dalam foto.
Selalu sertakanlah unsur waktu untuk menginformasikan kepada pembaca kapan peristiwa dalam foto tersebut terjadi. (E Hasby)
____________________________________________________________

MATERI JURNALISME FOTO (lanjutan)

                      UNSUR-UNSUR KOMPOSISI FOTO JURNALISTIK
—

Obyek dominan/kontras
Dalam membuat komposisi sebaiknya harus ada satu obyek yang menjadi point of interest (pusat perhatian). Menjadi obyek yang mendominasi. Tanpa obyek yang dominan sebuah komposisi terasa hambar, tanpa nyawa. Ibarat sebuah cerita, harus ada satu tokoh yang menjadi lakon, di mana semua pemain menuju ke arah tokoh utama itu.
—Balance
Ada berbagai macam balance: simetris, radial, formal dan informal. Semua bisa teraplikasi untuk mendapatkan keseimbangan visual, sehingga sebuah komposisi tidak berat sebelah dan terasa enak dipandang mata.
—Unity
Sebuah satu kesatuan. Itulah yang diharapkan penyusunan. Meski banyak obyek yang berbeda-beda warna atau bentuk, sebuah komposisi harus menyatu, bercerai berai. Makanya dalam sebuah komposisi harus ada the unifying element, sebuah elemen yang bisa menyatukan obyek yang bercerai-berai tadi: bisa warna, garis, maupun tekstur.
—Repetisi/ konsistensi
Repetisi memberi irama. Ibarat musik, repetisi adalah ketukan. Dalam komposisi repetisi bisa menghasilkan kesan tapi dinamis. Obyek-obyek tersusun hampir sama, tapi setiap obyek berbeda. Senanda tapi melonjak-lonjak. Itulah repetisi atau bisa juga dikatakan irama, atau boleh disebut konsistensi.
—Aligment/ garis semu
Salah satu prinsep yang tidak bisa diremehkan. prinsip ini tanpa disadari memberikan dinamisme, memberikan keteraturan. Garis semu diibaratkan besi sembrani yang menarik obyek-obyek di sekitarnya dan mengikuti alur sang besi tadi. Hasilnya sebuah komposisi yang seolah-olah mengikuti pola, meski pola itu tak terlihat.
—White Space
Seni ‘ketiadaan’ adalah elemen penting dalam komposisi. Jika diterapkan dengan benar, white spece bisa memberi kesan elegan, nafas, istirahat. Dalam sebuah komposisi harus ada bidang tempat kita bersantai di antara carut marut obyek.
—Balance
Assymmetrical balance
Pada Keseimbangan Asimetris, obyek-obyek foto tidak ditempatkan seperti sebuah obyek di depan cermin, melainkan bebas tetapi berat antara obyek-obyek di kiri seimbang dengan masa obyek-obyek yang ada di sebelah kanan. (D hawe)
KARAKTERISTIK FOTO JURNALISTIK
—  1. Pada dasarnya fotojurnalistik adalah merupakan gabungan antara foto dan berita. Sehingga keduanya antara foto dan berita (teks foto) memiliki keterikatan yang tak bisa dipisahkan. Sebuah foto mampu memberikan informasi yang lengkap apabila dilengkapi keterangan foto (caption). —Berdasarkan standar internasional press keterangan foto (teks foto) selalu melekat di dalam foto itu sendiri  —dengan melilihat keterangan foto di dalam file info –buka photoshop.
2. Fotojurnalistik disajikan dengan sejujur-jujurnya, bagaimana adanya tanpa ada rekayasa dalam penyajiannya. Fotojurnalistik biasanya memiliki media berupa media cetak, koran, majalah, tabloid dll, tanpa melihat berapa jumlah tiras yang diterbitkan. Namun dalam perkembangannya kini fotojurnalitik bisa dilihat melalui media online (internet).
3. Lingkup fotojurnalistik adalah manusia. Itu sebabnya seorang jurnalis foto harus punya kepentingan mutlak pada manusia. Sehingga dalam penyajiannya fotojurnalistik selalu ada unsur manusia (disana harus ada unsur kehidupan (life). Seorang redaktur akan selalu menanyakan “Kok fotomu nggak ada manusianya”. Itu sebabnya unsur manusia di dalam fotojurnalistik sangatlah penting dan mutlak.
4. Bentuk liputan fotojurnalitik adalah suatu upaya yang muncul dari bakat dan kempuan seseorang jurnalisfoto yang bertujuan melaporkan beberapa aspek dari berita. Tuga junalisfoto adalah melaporkan apa yang dilihat oleh mata kemudian direkam dalam sebuah gambar (image) yang kemudian disampaikan secara luas melalui media massa. Berilah kesan bawa pembaca (masyarakat) seolah-olah berada dilokasi peristiwa.
Itu sebabnya bagi seorang fotojurnalis sangat pentik memiliki kemampuan dalam melakukan perekaman yang dituangkan dalam sebuah gambar yang dengan mudah dipahami oleh orang awam (masyarakat luas).
—  5. Fotojurnalistik adalah media komonukasi visual hasil liputan  dari seorang fotojurnalis yang disampaikan kepada masyarakat luas. Fotojurnalistik juga merupakan media ekspresi seorang jurnalisfoto terhadap hasil karya-karyanya setelah melakukan hasil liputannya. Sehingga tak heran jika dalam sebuah media menyiapkan halamannya secara khusus untuk memajang foto-foto hasil liputan jurnalisfotonya. Baik foto yang di sajikan dalam bentuk display maupun dalam bentuk essai foto (foto bercerita).
—  6. Fotojurnalistik membutuhkan tenaga penyunting yang handal, berwawasan visual yang luas, jeli, arif dan bermoral dalam menilai foto-foto yang dihasilkan oleh fotojurnalis. Seorang penyunting (redaktur foto) juga harus mampu membantu mematangkan ide-ide dan konsep jurnalisfoto yang melakukan liputan terhasap sebuah peristiwa. Penyunting foto juga harus mampu memberi masukan, memilih foto agar tidak monoton terhadap foto-foto yang hendak disiarkan (dimuat).
—  7. Fotojurnalistik memiliki akurasi yang tinggi, karena seorang jurnalis secara langsung merekam peristiwa yang terjadi dilokasi. Pada setiap event seperti bentrokan, kerusuhan, perang dsb, seorang fotojurnalis selalu berada di garda paling depan, guna mengabadikan peristiwa melalui kameranya.

KATEGORI FOTO JURNALISTIK
—Menurut yayasan World Press Photo ada beberapa kategori dalam fotojurnalistik di antaranya
1. Spot News (foto berita peristiwa, kejadian yang terjadi saat ini)
2. General News (foto berita umum yang terjadi–diluar kejadian)
3. Nature (foto peristiwa alam, lingkungan hidup)
4. Prortraits (foto potrait)
5. Contemporary issues (foto dengan isu pada focus kontemporer –isu saat ini)
6. People in the News (foto keseharian masyarakat)
7. Science and tecknology (berita iptek)
8. Daily life (foto kehidupan keseharian)
9. Arts (foto seni budaya)
10. Sports action, sports features (berita olahraga dan feature olahraga).

TIP FOTOGRAFI JURNALISTIK
—Selalu bawa kamera
alasan utama mengapa anda melewatkan momen yang bagus untuk difoto adalah karena anda tidak membawa kamera. Jadikanlah suatu kebiasaan untuk selalu membawa kamera kemanapun anda bepergian karena anda tidak tahu momen-momen atau pemandangan-pemandangan apa yang akan anda temui nanti ketika belajarproperti fotografi. Belilah tas atau tempat untuk kamera anda karena hal tersebut dapat memudahkan anda membawa kamera, selain itu juga dapat melindungi kamera anda dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti goresan maupun benturan dengan benda lain. Tas atau tempat kamera yang memiliki busa dan memiliki lapisan luar yang cukup keras adalah pilihan yang cerdas untuk hal ini.
Foto lebih banyak lagi
jika anda berfikir bahwa anda telah cukup banyak mengambil foto, tidak demikian adanya, terutama jika anda adalah pemilik kamera dijital atau bisa juga mengikuti bimbinganpsikologi huekekek. Hasil foto kamera dijital disimpan dalam format dijital (berkas), jadi tidak ada kerugian bagi anda untuk mengambil foto lebih banyak. Memang foto tersebut akan menghabiskan sejumlah space pada kartu memori anda, namun nantinya anda dapat dengan mudah menghapusnya jika anda tidak puas dengan hasil foto tersebut. Mengapa anda mengambil sebuah foto jika anda bisa mengambil banyak foto? Tidak usah ragu, karena mungkin tempat di mana anda mengambil foto tersebut tidak akan anda kunjungi lagi. Foto sebebas-bebasnya, karena pemandangan/adegan sehari-hari yang membosankan dapat saja menjadi bersejarah beberapa tahun kemudian.
—Percaya pada mata Anda
mempelajari aturan-aturan composition adalah hal yang baik, namun aturan-aturan tersebut kadangkala tidak berlaku dan ada kalanya anda harus mempercayai mata anda. Ketika kita akan memfoto sebuah objek, gerakkan atau pindahkan kamera dan jelajahi pemandangan sekitarnya. Ketika anda menemukan sudut potret yang menurut anda bagus, fotolah dengan segera.
—Latih mata Anda
lihat dan perhatikan dengan seksama foto yang anda ambil. Cobalah untuk menemukan kekurangan-kekurangan dan kritiklah hasil foto tersebut. Apakah foto tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan pada saat kita memfoto? Apakah anda suka composition-nya? Aktivitas peninjauan kembali hasil foto oleh anda sendiri sangat esensial dalam meningkatkan indra fotografi anda.
—Kenali kamera Anda
Anda tidak perlu menghafal setiap fitur pada kamera anda sesegera mungkin. Akan lebih mudah mengingat fitur-fitur anda dengan perlahan-lahan mencoba fitur-fitur kamera anda satu-persatu melalui aktivitas pendidikanfotografi sehari-hari. Analoginya seperti saat kita belajar mengganti persneling saat mengendarai sepeda motor atau mobil. Jadikan kemampuan mengutak-atik fitur kamera menjadi kebiasaan anda. Dengan demikian anda tahu dengan baik fitur-fitur apa yang mesti dipakai pada saat memfoto suatu objek atau pemandangan.
—Selalu bekerja pada berkas salinan
hal ini berlaku untuk era baru fotografi yaitu kamera dijital. Perlu anda ingat bahwa sebelum anda membuat foto salinan maka foto yang anda punya adalah foto satu-satunya yang masih asli. Biasakanlah membuat salinan atas berkas foto yang akan anda utak-atik. Beberapa perangkat pengolahan/pengorganisasi gambar dijital biasanya menyertakan fitur ini. http://radenferdy.wordpress.com

CIRI-CIRI FOTO JURNALISTIK
1.Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri.
2.Melengkapi suatu berita/artikel.
3.Dimuat dalam suatu media.
“Semua foto pada dasarnya adalah dokumentasi dan foto jurnalistik adalah bagian dari foto dokumentasi” (Kartono Ryadi, Editor foto harian Kompas). Perbedaan foto jurnalis adalah terletak pada pilihan, membuat foto jurnalis berarti memilih foto mana yang cocok. ( ex: di dalam peristiwa pernikahan, dokumentasi berarti mengambil/memfoto seluruh peristiwa dari mulai penerimaan tamu sampai selesai, tapi seorang wartawan foto hanya mengambil yang menarik, apakah public figure atau saat pemotongan tumpeng saat tumpengnya jatuh, khan menarik) hal lain yang membedakan antara foto dokumentasi dengan foto jurnalis hanya terbatas pada apakah foto itu dipublikasikan (media massa) atau tidak.
UNSUR-UNSUR FOTO JURNALISTIK

  1. Aktualitas.
  2. Berhubungan dengan berita.
  3. Kejadian luar biasa.
  4. Promosi.
  5. Kepentingan.
  6. Human Interest.
  7. Universal.

FOTO YANG SUKSES
Batasan sukses atau tidaknya sebuah foto jurnalistik tergantung pada persiapan yang matang dan kerja keras bukan pada keberuntungan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada foto yang merupakan hasil dari “being in the right place at the right time” . Tetapi seorang jurnalis profesional adalah seorang jurnalis yang melakukan riset terhadap subjek,mampu menetukan peristiwa potensial dan foto seperti apa yang akan mendukungnya (antisipasi). Itu semua sangat penting mengingat suatu moment yang baik hanya berlangsung sekian detik dan mustahil untuk diulang kembali.
Etika, empati, nurani merupakan hal yang amat penting dan sebuah nilai lebih yang ada dalam diri jurnalis foto

KARAKTERISTIK WARNA
(1) Warna merah punya sifat semangat membara. Karena faktor warna merah yang mengadopsi warna darah dalam tubuh, matahari pagi dan api. Warna merah memberi kesan kehangatan berlawanan dengan warna biru yang dingin. Warna merah merupakan tanda bahaya, peringatan, dan berhenti dalam traffic light. Yang melambangkan keberanian, semangat, perjuangan, kekuatan maupun kegairahan. Warna ini sangat cepat merespon mata.
(2) Warna pink melambangkan cinta dan esentrik, sementara romantisme salah satu kesan warna ini.
(3) Warna orange merupakan kombinasi antara warna merah dan kuning melambangkan keceriaan, kehangatan persahabatan maupun optimisme. Warna ini mempunyai daya tarik karena cepat merangsang pandangan mata.
(4) Warna kuning merupakan perlambang kegembiraan, memberi kesan terang, cerah, bersinar, ketegasan. Warna ini juga menstimulus pandangan mata sebagaimana warna jingga. Mengapa warna merah, jingga dan kuning lebih cepat ditangkap mata? Warna-warna tersebut termasuk warna yang menarik perhatian mata dibanding warna yang lain. Mata lebih peka terhadap warna-warna hangat.
Meskipun senang atau tidaknya terhadap warna tersebut sangat tergantung dengan selera.
(5) Warna hijau merupakan warna alam dedaunan yang melambangkan kesegaran, relaksasi, harmoni, kealamian, kesejukan dan bersifat menenangkan.
(6) Warna ungu merupakan warna kebangsawanan, aristokrat, kekuasaan, keanggunan, keindahan maupun kelembutan. Merupakan hasil perpaduan warna merah dan biru.
7) Warna abu-abu memberi kesan ketenangan, keteduhan maupun elegan. Mudah dikombinasikan dengan berbagai warna. Tidak menunjukan kecenderungan dari kekontrasan warna.
(8) Warna putih merupakan warna polos, formal dan bersih. Melambangkan kesucian, murni, ringan dan kelembutan.
(9) Warna biru memberi kesan kesejukan, dingin, damai maupun memberi ketenangan pikiran. Warna ini juga memberi kesan luas pada ruang.
(10) Warna hitam menggabarkan suatu misteri, kegelapan, independen dan dramatis. Selain itu juga mempunyai kesan kesunyian. Hitam termasuk warna yang solid, tegas dan kuat.
(11) Warna silver berkesan glamor, mahal dan kemilauhan. (12) Warna emas melambangkan kemakmuran, aktif dan dinamis. (13) Warna coklat identik dengan buah coklat yang berkesan tua, kesederhanaan, kaya dan hangat.n. Sedangkan (14) warna kream memberi kesan lembut dan klasik.

JENIS FOTO JURNALISTIK
—Single Photo
—Story Photo
—Single Photo adalah foto tunggal yang biasanya menghiasi halaman surat kabar.
—Story Photo adalah rangkaian foto yang membentuk cerita. Story Photo dibagi menjadi Documentary, Narrative dan argumentative.
Documantary adalah sejumlah foto yang dapat disusun secara acak penempatannya. Untuk Narrative Photo, susunannya berderet dari awal hingga akhir secara berurutan. Sedangkan Argumentatif, ketika foto itu dibadingkan dengan foto lain yang bisa memberi argumen.

KENNETH KOBRE MEMBAGI FOTO BERITA MENJADI 4:
—  Informational
—  Graphically  appealing
—  Emotional
—  Intimate

KATEGORI FOTO JURNALISTIK
—Spot – Lazim juga disebut hard news. Materi foto ini mencakup aneka peristiwa yang terjadi secara mendadak, seperti: kecelakaan, bencana alam, atau perang. Kategori ini menuntut kesigapan fotografer untuk menangkap momen dalam hitungan detik. Sekuens foto tidak dapat diulang dan diperkirakan. Bagi beberapa orang ada yang menyukai perburuan gambar dalam kondisi memicu adrenalin seperti ini.
—Feature – Foto kategori ini bukan sekadar snapshot, melainkan juga ada upaya fotografer untuk memilih sudut pandang yang khas. Bukan juga sekadar “didikte” oleh peristiwanya sendiri dengan tujuan untuk memberi kesan mendalam tentang suatu peristiwa. Foto dalam feature diharapkan dapat berjalan beriringan dengan teks untuk menceritakan peristiwa. Karena foto tersebut harus dapat mengimbangi gaya penulisan feature yang relatif panjang serta deskriptif.
—Olah Raga – Tiap cabang olah raga memiliki kekhasan tersendiri sehingga dibutuhkan wawasan khusus untuk merekam momen olahraga. Pengenalan terhadap karakter sang olahragawan sangat penting agar didapat hasil foto yang benar-benar “sportif”.
—Potrait – Potrait bukan sekadar close-up. Hal yang utama adalah kemampuan mengungkpan watak dan karakteristik sang tokoh sehingga seakan-akan merupakan sebuah biografi visual. Sang fotografer harus mengenali secara mendalam objek fotonya.
—Lingkungan Hidup – Liputan foto lingkungan hidup meliputi semua topik yang berkaitan dengan ekologi, termasuk yang menyangkut hubungan antarsesama , manusia , dan alam sekitarnya. Foto untuk kategori ini hendaknya tidak hanya mengungkap eksotisme alam, namun juga harus dapat menggugah kesadaran orang untuk peduli.
—Ilmu Pengetahuan dan Teknologi – jenis foto kategori ini meliputi pemotretan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya foto pemenang Worldpress Photo 2001 yang merekam instalasi satelit. Foto ini mengumbar keajaiban peradaban manusia dari berbagai aspek. Kategori ini biasanya membingkai produk hasil olah pikir manusia untuk mengundang decak kagum atas kemajuan peradaban.
—Kehidupan Sehari-hari atau Celah Kehidupan – Misalnya kehidupan sehari-hari pekerja urban di sebuah pabrik atau ekspresi seorang buruh angkut pasar Pabean adalah potret keseharian yang dapat direkam seorang pewarta foto. Foto jenis ini tidak terikat dengan unsur kehangatan atau aktualitas. Inti dari kegiatan membingkai foto dalam kategori ini adalah mengenalkan relik-relik kehidupan sosial pada orang lain. Foto-foto ini hendaknya dapat sampai ke level kesadaran sosial. Di mana masyarakat menjadi tergugah atas sisi kehidupan yang dijalani kaum yang lebih lemah.
—Kesenian - Dapat berupa rekaman lensa art performance, misal foto seorang penari atau ekspresi pemain teater di panggung yang layak untuk dinikmati sebagai karya foto berita.
—

HABIT JURNALIS FOTO
Stop, Look, Think dan Action. Artinya ; diam, lihat, berfikir dan aksi. Pendeknya jangan terburu melepaskan bidikan kamera.

METODE EDFAT (ENTIRE, DETAIL, FRAME, ANGLE, TIME)
—Adalah suatu metode pemotretan untuk melatih optis melihat sesuatu dengan detil yang tajam.
—Membantu proses percepatan pengambilan keputusan terhadap suatu event atau kondisi visual bercerita dan bernilai berita dengan cepat dan lugas.
E (ENTIRE)
—Dikenal juga sebagai ‘established shot’, suatu keseluruhan pemotretan yang dilakukan begitu melihat suatu peristiwa atau bentuk penugasan lain. Untuk mengincar atau mengintai bagian-bagian untuk dipilih sebagai obyek.
Daftar pustaka
– Diklat Kompas
– Oscar Motuloh
– Photojournalism:The Professional Approach by  Kenneth Kobre
– Photojournalism: The Visual Approach by Frank P. Hoy
– iptc.org
____________________________________________________________

MATERI PENELUSURAN SUMBER BERITA

EMPAT SEKAWAN DALAM DUNIA JURNALISTIK

  • PERS
  • JURNALISTIK
  • BERITA
  • WARTAWAN
  • ISTILAH PERS
  1. Arti secara luas

Mencakup media cetak dan elektronik (radio, tv & film).

  1. Arti secara sempit

Adalah media massa cetak saja (koran, majalah, bulletin, brosur,        leaflet)

  1. Istilah press (surat kabar) berasal dari Eropa.
    1. Baru pada 1450 setelah J. Guttenberg dan Janszoom Koster menemukan huruf cetak maka informasi mulai dikemas dalam cetakan.
    2. Surat kabar pertama diterbitkan bernama Public Occurrences Both Foreign and Domestic tahun 1690.
    3. Munculnya The Big Five of Media Massa, yakni

- surat kabar
– majalah
– radio
– televisi
– film
PENGERTIAN PERS

  • Usaha percetakan atau penerbitan
  • Usaha pengumpulan dan penyiaran berita
  • Penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan tv
  • Orang-orang yang bergerak dalam bidang penyiaran berita
  • Medium penyiaran berita

MISI PERS
Secara ideal adalah mencerdaskan masyarakat, menegakkan keadilan, dan memberantas kebatilan.

PENERBITAN PERS

  • Surat kabar, yakni kumpulan berita, artikel, cerita, iklan dan sebagainya yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran plano, terbit secara teratur, bisa setiap hari atau lainnya.
  • Majalah, sama seperti surat kabar, bedanya dicetak dalam ukuran kuarto atau folio dan dijilid dalam bentuk buku.
  • Tabloid, sama seperti surat kabar, bedanya dicetak dalam  ukuran broadsheet (lebih kecil dari  plano) dan dilipat seperti SK.
  • Bulletin, dicetaknya dengan ukuran broadsheet, kuarto atau plano tapi terbit tidak teratur. Maka disebut penerbitan berkala.
  • Buku adalah tulisan tentang iptekni, essei, cerita panjang, dan lainnya yang dicetak dalam kertas ukuran setengah kuarto atau setengah folio dan dijilid rapi.

ISI PENERBITAN PERS

  • PEMBERITAAN (NEWSGETTER)

Menurut DR Willard C Bleyer: sesuatu yang baru yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat di surat kabar atau lainnya sehingga dapat menarik minat pembaca.

  • PANDANGAN ATAU PENDAPAT (OPINION)

1. Pendapat masyarakat (public opinion)
-komentar
-artikel
-surat pembaca

  1. Opini penerbit (press opinion)

-tajuk rencana (editorial)
-pojok
-karikatur

  1. Periklanan

-iklan display
-iklan baris
-iklan pariwara (advertorial)

UNSUR-UNSUR JURNALISTIK
Hal-hal yang membangun karya
jurnalistik ada 4, yakni:
q  Informasi
q  Penulisan informasi
q  Penyebarluasan informasi
q  Media massa
APAKAH INFORMASI ITU ?
Adalah keterangan atau pemberitahuan tentang suatu peristiwa atau kejadian yang beredar di masyarakat.
-Informasi tidak sama dengan berita.
-Dalam berita terkandung informasi, tapi tidak semua informasi berarti   berita.

BERITA ITU APA SIH?

  • Berita adalah pencatatan dari  informasi yang paling penting serta cermat yang dapat diperoleh tentang segala apa yang dipikirkan dan dikatakan, dilihat  dan digambarkan, direncanakan dan dikerjakan orang. (Stewart R & George Fax Matt)
  • Berita adalah  laporan hangat tentang fakta atau pendapat yang menarik atau penting atau kedua-duanya bagi sejumlah besar pembaca.

ELEMEN BERITA

  1. What (apa yang terjadi?)

Peringkat pertama.
Diartikan ‘apa yang terjadi dalam sebuah peristiwa?’ Jawabannya pasti berupa                             unsur what.

  1. When (kapan kejadiannya)

Peringkat kedua.
Menunjukkan waktu kejadian peristiwanya.

  1. Where (di mana kejadiannya?)

Peringkat ketiga.
Menunjukkan tempat kejadian sebuah peristiwa.

  1. Why (mengapa peritiswa itu  terjadi?)

Peringkat keempat.
Dengan nada bertanya mengenai pemicu kejadian suatu peristiwa Anda bisa                            melihat berita dari awal  peristiwa tersebut terjadi.

  1. Who (siapa di balik berita?)

Peringkat kelima.
Dengan melihat pelaku dalam berita pembaca langsung bisa menebak unsure                                    ini. Jika wartawan dikejar deadline maka unsur ini paling mudah dibuat.

  1. How (bagaimana peristiwa tersebut terjadi?)

Peringkat terakhir, memaksa wartawan untuk membuat kronologi dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Unsur ini penting karena menjawab semua kepenasaran pembaca.
WARTAWAN ITU SIAPA SIH?

  • Istilah lainnya reporter, pewarta, news gather, stringer, kuli tinta, jurnalis, pers.
  • Adalah seseorang yang bekerja dari mengumpulkan informasi, mengolahnya menjadi bahan berita dengan mempertimbangkan ‘keseimbangan’ dan menyampaikannya dalam bentuk berita melalui berbagai saluran komunikasi secara actual dengan coverage pembaca (penonton) sebanyak mungkin.

JENIS-JENIS BERITA

  1. SRAIGHT NEWS (berita sekilas)

Adalah berita langsung dalam arti apa adanya, ditulis secara padat, lugas, singkat, dan jelas. Mengutamakan aktualitas.

  1. DEPTH NEWS (berita mendalam)

Adalah berita mendalam, yang dikembangkan wartawannya dengan hal-hal yang tidak ditulis straight news dengan menunjukkan fakta multilinier. Banyak di majalah mingguan.

  1. INVESTIGATIONS NEWS (berita investigasi)

Adalah berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian dan penyelidikan wartawan/penulis dari berbagai sumber. Terdapat pencarian fakta tersembunyi dg cara menelusuri jejak dari peristiwa dan atau pendapat yang telah diketahui atau fakta di permukaan.

  1. INTERPRETATIVE NEWS (berita interpretasi)

Adalah berita yang dikembangkan dg opini/pendpat wartawan atau penulisnya. Mengutamakan kedalaman bahasan fakta atau pendapat, termasuk di dalamnya latar belakang, kecenderungan arah, keterkaitan dengan fakta atau pendapat lain yg relevan, tapi tetap menempatkan objektivitas.

  1. OPINIONS NEWS (berita opini)

Ialah suatu berita mengenai pendapat seseorang (tokoh politik, ilmuwan, selebritis, dll)
NILAI BERITA

  1. Timeless

Event that are immediate recent.
Peristiwa yang baru-baru terjadi (actual) punya nilai berita.

  1. Impact

Event that are likely to effect many people.
Suatu kejadian yang dapat memberikan dampak terhadap khalayak punya nilai berita.

  1. Prominance

Event involving well-know people or institutions.
Suatu kejadian yg mengandung nilai keagungan (keterkenalan) bagi seseorang  maupun lembaga.

  1. Proximity

Event geographically or emotionally to the reader, viewer of listener.
Suatu peristiwa yang ada unsure kedekatannya dg seseorang, baik secara          geografis maupun emosional, menyangkut hal yang dilihat atau didengar.

  1. Conflic

Event that reflect clashes between people or institutions.
Suatu peristiwa atau kejadian yg mengandung unsure pertentangan antara       seseorang, masyarakat atau lembaga.

  1. The unsual

Event that devite sharply from the expected and the experiences of everyday  life.
Suatu kejadian atau peristiwa yg  tidak biasanya terjadi dan merupakan pengecualian dari pengalaman sehari-hari.

  1. The currency

Events and situations that are being talked about.
Hal-hal yang sedang menjadi bahan pembicaraan orang banyak (in).

KUALITAS BERITA

  1. Accurate

Sebelum informasi disebarluaskan dalam bentuk berita harus dicek dulu           ketepatannya.

  1. Properly attributed

The reporter identifies his or her source of information.
Seorang wartawan harus mengidentifikasi narasumber sebagai sumber              informasi.

  1. Balanced and fair

All sides in a controversy are given.
Semua narasumber harus digali informasinya secara seimbang dan jelas dari  semua sisi.

  1. Objective

The newswriter doestn’t inject or her feeling or opinion.
Seorang penulis berita jangan menggunakan perasaan dan opininya dalam       menyusun berita, tapi sesuai data dan fakta.

  1. Brief and focused

The news story gets to the point quickly.
Cerita berita disusun secara ringkas, padat, dan langsung sehingga cepat dan   mudah dipahami.

  1. Well written

Stories are clear, direct, interesting.
Kisah beritanya jelas, langsung, dan menari.

STRUKTUR BERITA
Bentuknya piramida terbalik (inverted pyramid), dg susunan cerita berita diawali dari atas sesuatu yang sangat penting, kurang penting dan tidak penting.

  • Sangat penting
  • Penting
  • Tdk penting

KONSTRUKSI  BERITA

  • Kepala berita / judul (headline)
  • Teras berita / intro (lead)
  • Badan berita (body)

HEADLINE

  • bagian penting dari berita
  • meskipun tidak banyak kata-kata tapi menetukan membaca atau tidaknya calon pembaca
  • sering orang hanya membaca judulnya saja

BODY (TUBUH BERITA)

  • Menjelaskan seluruh cerita berita
  • Merupakan inti dari berita yg ditulis
  • Seluruh pertanyaan pembaca terjawab dalam tubuh berita
  • Tubuh lebih harus lebih dinamis sehingga pembaca akan terus mengikuti

KARAKTERISTIK MEDIA MASSA

  • Publisitas

Artinya ditujukan untuk semua banyak orang.

  • Universalitas

Isinya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan orang banyak

  • Periodisitas

Sebuah media mempunyai target terbit, bisa harian, mingguan, bulanan, dll

  • Kontinuitas

Media massa  harus terbit secara kontinyu atau terus menerus, jangan terbit   kalau ada perlu / uang.

  • Aktualitas

Berisi hal-hal yang actual. (bersambung)
_________________________________________________________________________________
MATERI KULIAH JURNALISTIK TELEVISI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s